catrawarta.com — Kelompok sosial yang sering disebut Generasi Z cukup menarik untuk diamati dan didiskusikan. Tak sulit mengidentifikasi kiprahnya, tapi tak mudah mendeskripsikan posisinya dalam konstruk sosial. Mereka cair dan memiliki karakteristik yang unik.
Lahir dalam cakrawala kemajuan teknologi informasi, mereka sejak belia sudah akrab dengan segala perubahan teknologi. Kebo nusu gudel, bagi orang tua. Jauh di luar dugaan dan kemampuan orang tua untuk memahami dunia, dan keahlian, anaknya. Soal kreativitas berbasis aplikasi, jangan tanya. Mereka memiliki kemampuan adaptasi yang cepat. Ganti gawai, ganti pendekatan, ganti cara pemakaian, bisa dilakukan cepat, tanpa intervensi orang tua apalagi guru. Ketemu kesulitan? Bisa saat itu juga mencari jawabannya secara online.
Soal tema, apalagi yang sedang trend atau viral, jangan tanya mereka. Pada kesempatan pertama mereka telah mengakses informasinya. Akses ini nampaknya menjadi kunci, tidak saja bagi eksistensi tetapi juga kehidupan mereka. Hari tanpa akses adalah kiamat. Konsekuensi logisnya, ketergantungan mereka pada jaringan internet menjadi sangat tinggi.
Jangan uji mereka dengan menyuruh membuat tugas yang berbasis digital. Anak SD pun sudah lihai membuat poster, anak SMP sudah canggih membuat kampanye, anak SMA sudah lincah menyusun presentasi menggunakan PPT. Segala animasi bisa dengan mudah bahkan cepat bisa dikuasai untuk membuat proyek.
Jika ada yang bisa kita bidik dari Gen Z antara lain menyangkut dua hal. Pertama, rata-rata mereka lemah dalam menarasikan dan membahasakan isi konten yang dibuat. Berbicara secara langsung, apalagi dalam forum resmi, merupakan masalah tersendiri yang mereka hadapi. Empat kemampuan dasar berbahasa (Tarigan, 1994) yang meliputi menyimak, membaca, berbicara dan menulis, menjadi hal yang sulit ditemukan format terbaiknya pada diri mereka.
Mengarang, bahkan, menjadi pekerjaan tersulit bagi mahasiswa. Menuangkan ide dan gagasan mereka sendiri ke dalam bentuk tulisan, apalagi kemudian disuruh mempresentasikan, adalah proses yang tak mudah mereka lampaui. Intervensi artificial intelligence (AI) menolong mereka. Maka jangan terlalu berharap ada pemikiran autentik dan orisinil akan lahir dari mereka. Zaman sedang meninabobokan mereka dengan kemudahan, yang dampaknya secara mental intelektual, sebetulnya menjebak kehidupan mereka.
Kedua, kebanyakan Gen Z lemah dalam organisasi sosial. Saat indepensi dan kreativitas mereka menguat atau dominan, egoisme dan merasa bisa mandiri pun muncul. Struktur organisasi, yang dilengkapi dengan etika dan moralitas, menjadi tak penting bagi mereka. Maka jangan harap akan dihormati dan dihargai jika tak ingin sakit hati. Setinggi apapun kita menduduki struktur organisasi, tidak simetris dengan penghormatan yang akan kita terima di hadapan mereka.
Tanpa sungkan dan rasa takut mereka akan menjungkir balikkan etika dan norma sosial, semacam ewuh pekewuh, yang bagi generasi sebelumnya menjadi sakral. Jika tidak suka, mereka akan dengan enteng mengatakan tidak suka. Hebatnya, saat diterima kerja, mereka tidak takut dipecat atau di-PHK. Gambaran masa depan bisa jadi tak cerah, tak jelas juga mereka mau apa, tetapi mereka pede saja melangkah tanpa beban. Coba konfirmasi dengan deretan pencapaian mereka dalam portofolio, itu tidak dengan sendirinya membuktikan kualitas kompetensi. Bisa keluar masuk dunia kerja bagi mereka sudah kebanggaan tersendiri.
Kasus terakhir, wajah Indonesia menjadi coreng-moreng setelah “ilmuwan bodong” tampil dalam International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD 2026) di Kopenhagen, Denmark. Se-pede itu mereka memanipulasi hasil riset dan hadir di forum internasional. Apakah mereka, warga negara Indonesia itu, sedang menunjukkan wajah asli negaranya? Entahlah, yang jelas itu merupakan tamparan bagi kalangan akademisi.
Saat awal kemerdekaan, sekedar memperbandingkan usia, para pelajar kita ikut berada di barisan depan perjuangan. Mereka bahkan tergabung dalam Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Mereka sekolah tetapi sejarah mengajaknya ikut berjuang dalam pengertian sebenarnya. Bahkan ada Bregade TRIP yang legendaris. Tak rela negara yang baru saja merdeka harus diinjak-injak kolonial Belanda. Maju perang adalah pilihan.
Bisa jadi Gen Z tak semua seperti disampaikan di atas. Boleh jadi ada di antara mereka yang tak mau dijajah dengan teknologi dan mau berjuang di alam nyata dengan karya. Tetapi, Gen Z, yang jumlahnya 74 juta jiwa lebih atau 27,94 %, adalah pemilik masa depan bangsa dan negara ini. Terbayang bagaimana jadinya nation state yang didesain dan didirikan para cendekiawan generasi pertama ini menjadi kehilangan karakter aslinya dan lebih suka menampilkan wajah palsunya. Betapa absurd.

Pertemuan Presiden Prabowo-Macron dan Diplomasi yang Tak Hanya Berisi Angka 