catrawarta.com — Sekelompok pria tengah nongkrong di mulut gang. Tak lama kemudian seorang perempuan berjalan mendekat. Sontak terdengar suara siulan dari gerombolan pria tadi.
Bagi sebagian masyarakat siulan pria pada perempuan dianggap wajar. Jika ada yang protes kadang dianggap berlebihan. Sebagian bahkan berkilah:
“Harusnya dia senang karena mampu menarik perhatian.” “Sok kecantikan banget protes-protes. Banyak yang lebih cantik dan biasa saja kalau disiulin.” “Wajarlah cowok siulin cewek. Kalau cewek siulin cowok baru tidak normal.”
Penelitian menunjukkan bahwa pelaku sering menganggap perilakunya tersebut normal, sekedar bercanda, atau sebentuk apresiasi. Di sisi lain korban justru mengalami tekanan psikologis, merasa tidak nyaman bahkan merasa terintimidasi.
Dia takut lewat tempat tertentu seperti masuk gang tadi. Hal ini akhirnya membatasi mobilitasnya. Dampak tersembunyi dari pelecehan seksual verbal itulah yang kerap diabaikan karena tidak terlihat secara fisik, padahal nyata dirasakan oleh korban.
Fenomena ini dibaca sebagai produk budaya patriaki yang telah lama menempatkan laki-laki sebagai pihak dominan dalam ruang sosial sementara perempuan posisikan berbagai objek pengamatan, penilaian bahkan hiburan.
Patriaki sendiri merupakan sistem sosial yang memberikan otoritas lebih besar kepada laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari budaya, bahasa, relasi sosial hingga penguasaan ruang publik. Dalam sistem seperti itu tubuh perempuan dianggap berbuka untuk dikomentari.
Siulan sekelompok pria terhadap perempuan akhirnya dianggap lumrah bahkan diwariskan sebagai bagian dari kenakalan laki-laki. Dan ruang publik menjadi arena dominasi maskulinitas.
Selain itu fenomena “bergerombol” juga menjadi catatan tersendiri. Banyak laki-laki melakukan siulan atau bahkan komentar vulgar ketika berada dalam kelompok. Ada dorongan solidaritas maskulin, pencarian pengakuan teman, atau keberanian semu akibat tekanan kelompok. Saat sendirian belum tentu mereka berani melakukan hal yang sama. Ini sering disebut sebagai performa maskulinitas di tempat umum.
Di titik ini patriarki bekerja bukan hanya melalui aturan normal tapi melalui kebiasaan sehari-hari yang tampak adil namun terus direproduksi karena dianggap bercanda. Tindakan tersebut lolos dari titik sosial padahal dampaknya nyata terhadap rasa aman dan kebebasan perempuan di ruang publik.
Persoalan utamanya bukan semata soal siulan tetapi bagaimana masyarakat membentuk relasi gender yang timpang dan mewariskan anggapan bahwa laki-laki memiliki hak lebih besar untuk mengontrol nilai atau mengomentari tubuh perempuan di ruang bersama.
Dan penting membangkitkan kesadaran bagi para perempuan bahwa tindakan siulan itu sudah termasuk pelecehan sexual secara verbal. Juga perlu penguatan antar perempuan itu untuk menghadapi dominasi pria dengan segenap patriarki.

Warga Krajan Olah Buah Maja Berenuk Jadi Produk Herbal 