catrawarta.com — Wacana penerimaan pengungsi Palestina ke Indonesia dan negara lain memicu diskusi serius di kalangan akademisi. Meski terlihat sebagai langkah kemanusiaan, pendekatan itu menyimpan risiko politik jangka panjang yang berbahaya bagi masa depan Palestina.
Pengamat hubungan internasional, Prof Faris Al-Fadhat, menekankan perlunya kehati-hatian dalam mengkaji wacana relokasi tersebut. Ia melihat adanya risiko besar jika penerimaan pengungsi tidak dibarengi dengan perlindungan hak warga untuk tetap tinggal di tanah asal mereka.
”Relokasi justru bisa memperkuat strategi penggantian penduduk yang selama ini menjadi kekhawatiran besar. Perlu pendekatan kemanusiaan secara utuh dalam kerangka sejarah konflik yang kompleks,” papar Faris.
Memindahkan Warga Bukan Solusi
Senada dengan hal itu, Presiden Al-Quds University, Prof Imad Abu Kishek, menegaskan memindahkan warga Palestina bukanlah solusi. Ia menyebut strategi pengosongan wilayah tersebut sudah dirancang secara sistematis sejak lama.
Menurut pengamatannya, ada pihak tertentu sengaja menciptakan kondisi sulit agar relokasi terlihat seperti solusi kemanusiaan yang wajar. Padahal, merupakan bagian dari upaya menjauhkan rakyat Palestina dari tanah kelahirannya.
Ia menilai, pemaksaan migrasi tidak selalu dilakukan secara terang-terangan. Pihak lawan menggunakan tekanan berlapis seperti pembatasan mobilitas dan tekanan ekonomi yang mencekik warga.
Selain itu, pengetatan administratif hingga kriminalisasi terhadap kehidupan sipil membuat kehidupan warga Palestina kian terjepit. Kondisi tidak manusiawi tersebut terjadi secara masif, di wilayah Jalur Gaza maupun di Tepi Barat.
Jalan Buntu Pengosongan
”Strategi itu bertujuan mendorong warga pergi dengan sendirinya karena lingkungan yang sudah tidak berkelanjutan,” ujar Imad.
Sayangnya, jelasnya, media global sering kali hanya memposisikan relokasi sebagai jalan keluar darurat. Mereka kerap mengabaikan dampak jangka panjang terhadap keberlangsungan identitas dan eksistensi masyarakat Palestina.
Strategi pengosongan wilayah Palestina tetap menemui jalan buntu. Ketahanan rakyat Palestina yang luar biasa menjadi penghalang utama bagi upaya penggusuran sistematis. Ikatan historis, sosial, serta keyakinan yang kuat terhadap tanah air membuat rakyat memilih bertahan.

Perlu Riset Ungkap Benteng Palasari di Sumedang 