catrawarta.com — Sekolah seharusnya menjadi tempat anak-anak belajar, bermain, dan merasa aman. Namun, bagi 22 murid SDN Jelbuk 02, Kabupaten Jember, Jumat pagi itu berubah menjadi pengalaman yang menakutkan. Seorang guru wali kelas, FT, diduga menelanjangi seluruh muridnya karena mencari uang yang hilang di kelas.
Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan rasa takut sesaat, tapi juga bekas psikologis yang mendalam. Beberapa anak menolak kembali ke sekolah, menangis berhari-hari, atau menutup diri dari teman-teman mereka. Psikolog anak Dr. Ratna Widya menjelaskan, “Trauma seperti ini bisa menimbulkan rasa malu, cemas, dan kehilangan kepercayaan pada figur otoritas. Jika tidak ditangani dengan tepat, efeknya bisa bertahan hingga dewasa, memengaruhi kemampuan mereka bersosialisasi dan belajar.”
Kronologi kejadian mengungkapkan, guru tersebut kehilangan uang sekitar Rp 75 ribu. Karena tidak menemukan bukti di tas siswa, ia memerintahkan para murid melepas pakaian mereka. Laki-laki diminta menanggalkan seluruh pakaian, sementara perempuan diminta membuka hingga tersisa pakaian dalam. Tindakan ini baru berhenti ketika wali murid datang dan memprotes.
Kasus ini menunjukkan adanya kesenjangan pengawasan di sekolah. Ruang kelas yang seharusnya aman bagi anak justru menjadi tempat trauma. Dinas Pendidikan Kabupaten Jember segera membebastugaskan guru tersebut, sementara proses klarifikasi berlangsung. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengecam tindakan ini sebagai pelanggaran hukum dan kekerasan terhadap anak.
Psikolog anak lain, Dr. Budi Santoso, menambahkan, “Dukungan emosional dan lingkungan yang aman sangat penting untuk membantu anak pulih. Aktivitas ringan sesuai kemampuan, pola makan seimbang, tidur cukup, serta komunikasi terbuka dengan orang tua dan guru dapat membantu memulihkan rasa aman dan percaya diri mereka.”
Kasus ini juga menjadi panggilan bagi masyarakat dan sekolah. Anak-anak berhak mendapatkan perlindungan, dihormati, dan merasa aman setiap hari. Orang tua, guru, dan komunitas harus bersinergi menciptakan lingkungan belajar yang suportif, di mana setiap anak dapat berkembang tanpa takut akan kekerasan atau intimidasi.
Di balik pintu kelas SD Jelbuk 02, anak-anak belajar pelajaran hidup yang seharusnya tidak mereka alami: pentingnya rasa aman, batasan kekuasaan, dan hak-hak mereka. Publik kini menanti langkah tegas pihak berwenang, agar pengalaman pahit ini menjadi pelajaran bagi semua pihak dan tidak terulang di sekolah lain.

Nyala Api Abadi Mrapen pun Mengalami Redup dan Padam 