Catra Wisata, Warta

Festival Cokelat 4.0 yang Jadi Simbol Penghidupan Kelompok Tani Cokelat Gunungkidul

Festival Cokelat 4.0 di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunungkidul berlangsung sejak 10-11 Juli 2026. Agenda tahunan ini nyatanya sebagai simbol penghidupan...

Festival cokelat 4 0
Festival Cokelat 4.0 di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunungkidul berlangsung sejak 10-11 Juli 2026. (dok pribadi)

catrawarta.comTaman Teknologi Pertanian Kawasan Embung Nglanggeran, Sabtu (11/7) pagi masih diselimuti kabut. Dinginnya cuaca dan angin yang bertiup tak menyurutkan niat pengunjung serta panitia Festival Cokelat 4.0.

Acara yang merupakan rangkaian agenda tahunan Geopark Night Specta 8.0 ini berlangsung meriah. Diramaikan lebih dari 20 booth cokelat hingga 36 UMKM lokal, festival ini hadir selama dua hari berturut-turut sejak tanggal 10-11 Juli 2026.Puncaknya, Sabtu (11/7) malam bakal digelar konser Geopark Night Specta 8.0.

Menariknya, serangkaian acara ini memiliki pemandangan apik berupa Gunung Api Purba Nglanggeran sebagai latar belakangnya.

Di sana, berjejer pula lapak dari berbagai kelompok tani kakao di kawasan Nglanggeran dan sekitar di antaranya meliputi Griya Cokelat Gunungkidul, Rumah Cokelat Gunungkidul, Cokelat Ndalem, Kampung Pramuka Sidodadi Putat, Omah Cokelat Doga, dan lain sebagainya.

Soal acara, Sekretaris Daerah (Sekda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan Festival Cokelat 4.0 ini bukan sekadar agenda pariwisata, melainkan upaya bersama menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya di Gunungkidul.

Open air market with row of wooden stalls under a thatched roof people browsing and chatting against a mountain backdrop
Lapak Kelompok Tani Cokelat di Festival Cokelat 4.0 (dok.Pribadi)

Menurutnya, Gunungkidul memiliki potensi besar melalui kawasan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark yang perlu dikelola secara berkelanjutan.

“Gunungkidul memiliki anugerah bentang alam yang unik melalui kawasan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark,” katanya.

Acara ini juga merupakan wujud pemerintah dalam memberi wadah bagi masyarakat yang telah lebih dulu memanfaatkan alam sebagai sumber penghidupan sekaligus kesejahteraan.

“Festival cokelat menunjukkan bahwa produk lokal dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi petani, pelaku UMKM, dan masyarakat secara lebih luas,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota Kelompok Tani Kakao Sidodadi, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Dwi Setyaningsih mengatakan keikutsertaan kelompoknya dalam Festival Cokelat 4.0 menjadi sarana untuk memperkenalkan produk olahan kakao kepada masyarakat dan pengunjung.

Selama ini, olahan kakao dari kelompok tani Sidodadi telah sukses tersebar di beberapa toko oleh-oleh hingga sudut toko cokelat di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo.

“Kami memperkenalkan produk kami, cokelat, mulai dari hulu hingga hilir,” katanya.Tak cuma memberi ruang bagi kelompok tani, Festival Cokelat 4.0 juga membuka kesempatan lebar bagi UMKM lokal lainnya untuk ikut berkontribusi memperkenalkan berbagai macam produk.

Di antaranya yakni ada UMKM Bhayangkari dengan produk batik, Sakawirausaha Gunungkidul, Coffeein, dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *