Catra Budaya, Catra Wisata

Storyteller for the Earth: Respon Krisis Iklim Lewat Cerita Rakyat di Jogja

Kolaborasi mendongeng lintas budaya "Storyteller for the Earth" di Yogyakarta respons krisis iklim global lewat kekuatan cerita rakyat kuno.

Musician in a colorful headscarf plays a small guitar while an older man with a headset sings on an outdoor stage surrounded by a small audience
KOLABORASI: Pendongeng Indonesia, Rona Mentari berkolaborasi dengan pendongeng Inggris, Roi Galor dalam pentas di Amphitheater Tembi Historical Home. (Sumber: British Council)

catrawarta.comAda banyak cara untuk menggugah kesadaran dini terhadap lingkungan. Bukan hanya melalui sosialisasi di kelas atau seminar-seminar yang berjilid-jilid dan melelahkan. Bisa juga dengan metode sederhana yang diyakini lebih mudah dipahami seperti misalnya melalui dongeng.

Bagi anak-anak dan remaja, mendongeng bisa begitu membekas. Apalagi kalau dibumbui dengan kisah nyata sehari-hari, komedi, lagu dan praktik ringan lainnya yang berkesan.

Nah, karena itulah British Council menggelar program internasional yang mendorong kolaborasi kreatif antara seniman dan organisasi budaya di Inggris serta kawasan Asia-Pasifik. Programnya berupa hibah Connections Through Culture 2025.

Kali ini Yogyakarta kebagian jatah dengan pertunjukan mendongeng ”Storyteller for the Earth: Folktales for the Living Earth”. Di sini bertemu pendongeng asal Indonesia dan Inggris, tepatnya di Amphitheater Tembi Historical Home.

Perwakilan panitia, Nada, mengungkapkan Inisiatif tersebut hadir sebagai upaya kreatif untuk merespons krisis iklim global serta membangun kembali hubungan harmonis antara manusia dan ibu bumi melalui kekuatan cerita rakyat. Pada pentas di Tembi, sebanyak lebih 100 penonton, anak-anak dan remaja menyimak dari awal hingga akhir dongeng.

Sangat Inspiratif

”Performance yang sangat inspiratif dan luar biasa. Membuat saya sejenak tamasya ke alam imajinasi yang bermakna sehingga satu jam tak terasa,” tutur Arif yang sengaja datang untuk menyaksikan kolaborasi tersebut.

Pertunjukan tersebut menghadirkan kolaborasi apik antara Rona Mentari, pendongeng sekaligus pendiri Rumah Dongeng Mentari (Indonesia), dan Roi Galor, storyteller internasional dan salah satu pendiri International School of Storytelling, Inggris.

Melalui proses kreatif yang melibatkan riset mendalam, diskusi lintas budaya, hingga residensi artistik di Yogyakarta, keduanya menenun jembatan narasi yang mengajak audiens merefleksikan kembali ikatan mendalam manusia dengan alam sekitarnya. Rona berharap karya kolaborasi ini tidak berhenti sebagai tontonan rekreatif semata.

”Melalui pertunjukan mendongeng lintas budaya ini, kami berupaya menyuarakan respons terhadap krisis iklim global. Semoga bahasa universal dari cerita rakyat ini dapat menyentuh hati banyak orang dan menjadi pemantik bagi lahirnya gerakan kolektif dalam menjaga bumi,” paparnya.

Pertunjukan Wayang Suket

Pertunjukan kali ini mengangkat tema ”Folktales for the Living Earth”, menawarkan perspektif yang berbeda dalam membicarakan krisis ekologi. Pendekatan tersebut menyentuh sisi emosional, nilai budaya, serta kebijaksanaan ekologis kuno yang telah diwariskan dalam cerita rakyat kedua negara selama berabad-abad.

Selain menikmati pertunjukan dongeng yang diperkaya oleh Wayang Suket dan musik etnik live, para peserta juga terlibat dalam sesi dialog interaktif.

Mereka yang tidak sempat hadir secara langsung dapat melihat melalui tayangan secara daring untuk menjangkau penonton dari dalam maupun luar negeri melalui website di www.storytellerfortheearth.com.

Rona menambahkan Rumah Dongeng Mentari berharap dapat terus menghidupkan ruang perjumpaan antara budaya, seni pertunjukan, dan kepedulian lingkungan. Program itu menegaskan cerita rakyat bukan sekadar warisan masa lalu yang statis tetapi sangat relevan untuk memahami tantangan masa kini dan masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *