Idea Catra

Indonesia Bukan Tumpukan Plastik!

catrawarta.com — Setiap minum es teh atau juga minua dingin lain pasti sepaket dengan sedotan plastik. Sangat langka warung, rumah makan, restoran...

PLASTIK: Sedotan dari plastik sangat berbahaya, selain merusak lingkungan juga bisa mengakibatkan kematian fauna.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comSetiap minum es teh atau juga minua dingin lain pasti sepaket dengan sedotan plastik. Sangat langka warung, rumah makan, restoran menyediakan sedotan minuman bukan plastik. Padahal sedotan yang terbuat dari plastik sangat mematikan.

Data dari Divers Clean Action menyebutkan pemakaian sedotan plastik di Indonesia mencapai lebih 93.000.000 batang setiap hari. Bayangkan, setiap hari jutaan sedotan yang bisa mengakibatkan kematian menjadi limbah dan sebagian besar dibuang ke sungai atau laut.

Benarkah menjadi penyebab kematian? Benar. Limbah sedotan plastik telah menjadikan kematian burung laut lebih 1 juta. Bukan hanya itu, sedotan plastik juga megakibatkan matinya 100.000 mamalia laut termasuk penyu. Pernah dalam salah satu tayangan, mamalia laut mati dan di dalamnya penuh sampah plastik termasuk sedotan.

Menggunakan Bahan Berbahaya

Sedotan plastik menggunakan bahan berbahaya yang biasa dikenal dengan istilah polypropylene. Plastik jenis ini tidak dapat diurai dalam tanah. Ada memang yang menyebutkan bisa terurai tetapi dalam jangka waktu ratusan tahun.

Tidak banyak yang tahu bahwa sedotan plastik begitu berbahaya. Padahal setiap hari, setiap saat, ketika kita minum di warung, restoran, otomatis memperoleh sedotan plastik. Beberapa waktu lalu sempat muncul ke permukaan pengunaan sedotan pengganti plastik yang dapat lebih mudah didaur ulang. Tapi, hanya sesaat dan kini hilang tak bersuara.

Banyak orang menganggap sedotan plastik hanya sampah kecil dan secuil. Mereka tidak menyadari kalau barang secuil tersebut dalam sehari penggunanya hampir mencapai 100 juta di Indonesia. Belum lagi di banyak negara lain terutama negara berkembang yang kesadaran lingkungannya rendah.

Atasi Polusi Plastik

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq dalam satu kesempatan menyampaikan komitmen Indonesia untuk menghentikan sampah plastik. Bahkan pertemuan menteri lingkungan ASEAN di Malaysia beberapa waktu lalu juga menyatakan sikap yang sama.

Indonesia, jelas Hanif, berkomitmen menghilangkan polusi plastik dengan target pada 2029 nanti. Pemerintah menekankan pada penghilangan plastik bermasalah yang sangat suliat terurai dan berbahaya bagi kesehatan.

Dalam pernyataannya, Hanif mengatakan termasuk penghilangan bahan kimia berbahaya, penerapan desain produk berkelanjutan seperti tahan lama, dapat digunakan kembali, dan dapat didaur ulang. Selain itu, mendorong ekonomi sirkular, memperkuat pengelolaan sampah berkelanjutan dari hulu ke hilir, mencegah kebocoran plastik di seluruh siklus hidupnya, serta melakukan remediasi dan restorasi ekosistem dari pencemaran plastik.

Edukasi dan ”Pemaksaan” Stop Plastik

Tidak mudah mengelola sampah plastik terutama mengerem masyarakat untuk menghentikan penggunaan plastik, termasuk sedotan minuman. Pemerintah dan juga berbagai unsur lain termasuk LSM dan individu-individu harus terus melakukan edukasi bahayanya penggunaan plastik.

Di samping edukasi yang dampaknya kesadaran masyarakat, perlu pula upaya ”memaksa” warung, rumah makan, restoran, guna menghentikan penggunaan sedotan plastik. Salah satu caranya, kenakan sanksi bagi yang masih menggunakan atau semacam pajak yang tinggi seperti halnya rokok.

Upaya ”pemaksaan” juga menjadi langkah penting agar target zero sampah plastik pada 2029 tercapai. Penting kiranya menyadarkan masyarakat dan juga para pemangku kepentingan, penghentian penggunaan plastik termasuk sedotan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jangan biarkan Indonesia menjadi tumpukan plastik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *