Idea Catra, Warta

118 Tahun Kebangkitan Nasional, untuk Siapa Kekayaan Nikel Indonesia Bekerja?

catrawarta.com — Data BPS mencatat tingkat kemiskinan Sulawesi Tengah justru naik dari 12,30 persen pada 2022 menjadi 12,41 persen pada 2023 —...

Ilustrasi Kekayaan Nikel Indonesia. (Sumber: catrawarta)

catrawarta.comData BPS mencatat tingkat kemiskinan Sulawesi Tengah justru naik dari 12,30 persen pada 2022 menjadi 12,41 persen pada 2023 — di tengah puncak pertumbuhan ekspor nikel. Di Puskesmas Wosu, Morowali, kasus ISPA melonjak dari 735 kasus pada 2021 menjadi 1.200 kasus pada 2022, berdasarkan riset WALHI Sulawesi Tengah dan Yayasan Tanah Merdeka. 

Data Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah juga mencatat Morowali sebagai kabupaten dengan kasus ISPA tertinggi di provinsi itu — mencapai 57.190 kasus pada 2024. Forum Ambunu Bersatu dalam aksi April 2025 mencatat nelayan setempat kini harus melaut lebih jauh karena kawasan pesisir di sekitar industri nikel mengalami degradasi. 

Ekspor nikel Indonesia sendiri melompat dari USD 4 miliar menjadi USD 34 miliar sejak kebijakan hilirisasi berjalan. Angka yang sering dikutip sebagai bukti keberhasilan.

Indonesia memang punya alasan untuk bangga soal nikel, tercatat sebagai salah satu pemegang cadangan nikel terbesar dunia menurut US Geological Survey, dengan sebagian besar tersimpan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara. 

Kebijakan pelarangan ekspor bijih mentah sejak 2020 berhasil mendorong nilai ekspor secara signifikan dan menjadikan Indonesia pemain utama dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global.

Tapi di kawasan-kawasan tambang itu sendiri, menurut analisis Pusaka Indonesia, lebih dari 50 persen penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan, petani, dan pekerja sektor informal. Mereka tidak otomatis kebagian lapangan kerja dari industri nikel karena kesenjangan keahlian. Posisi yang tersedia paling banyak hanya sebagai buruh kasar, dan itu pun hanya berlangsung selama fase konstruksi.

Riset Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menghitung kerugian sektor pertanian dan perikanan di tiga provinsi lokasi industri nikel melampaui USD 387 juta. Petani dan nelayan diperkirakan kehilangan pendapatan sekitar USD 234,84 juta atau Rp3,64 triliun dalam 15 tahun ke depan akibat kerusakan lingkungan dari aktivitas tambang dan smelter. 

Koefisien Gini di kawasan-kawasan industri nikel itu relatif stagnan sebelum dan sesudah industri berkembang pesat. Pertumbuhan nilai ekspor tidak terbaca dalam angka pemerataan lokal.

Kebangkitan Nasional 1908 lahir ketika kaum terdidik pribumi mulai menyadari satu paradoks: negeri yang kaya dikelola sedemikian rupa sehingga rakyatnya tetap miskin. Sumber daya diekstrak, nilai tambahnya mengalir ke luar.

Hari ini polanya tidak persis sama, tapi pertanyaannya tetap relevan: ketika nikel diolah di dalam negeri dan nilainya naik delapan kali lipat, untuk siapa sebenarnya kekayaan itu bekerja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *