catrawarta.com — Suasana siang itu terasa berbeda di Kompleks Kampus Universitas Alma Ata, Kasihan, Kabupaten Bantul. Tawa lepas pecah di berbagai sudut ruangan, diselingi percakapan dengan logat yang khas, ceplas-ceplos, jujur dan mengalir apa adanya. Dialek “ngapak” yang identik dengan wilayah Banyumas seolah memindahkan suasana kampung halaman ke tengah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Hari itu, Sabtu (11/4/2026), Paguyuban Keluarga Dialek Banyumasan (Pakudimas) DIY menggelar syawalan dan halal bihalal. Sebuah momen sederhana, namun sarat makna bagi para perantau asal Banyumas dan sekitarnya. Bagi mereka, “ngapak” bukan sekadar cara berbicara. Ia adalah identitas, pengikat rasa, sekaligus pengingat akan akar budaya yang tak lekang oleh jarak.
Di tengah arus urbanisasi dan percampuran budaya di kota pelajar, keberadaan Pakudimas menjadi ruang pulang—tempat di mana bahasa ibu kembali hidup tanpa canggung. Dari Kebumen, Cilacap, Purwokerto, Banjarnegara, Purbalingga, hingga Tegal dan Brebes, mereka datang membawa satu kesamaan: dialek Banyumasan yang egaliter.
Merawat Persaudaraan
Ketua panitia, Kodrat Sapto Wibowo, menyebut kegiatan ini bukan sekadar tradisi tahunan. Lebih dari itu, ini adalah upaya merawat persaudaraan. “Lewat syawalan ini, kami ingin menjaga kebersamaan warga Banyumasan di DIY, sekaligus memperluas jaringan kekeluargaan,” ujarnya.
Silaturahmi yang terjalin pun terasa cair. Tak ada sekat sosial, tak ada jarak antarstatus. Semua larut dalam suasana “panginyongan”, istilah yang menggambarkan kedekatan khas wong Banyumas. Dalam budaya ini, kejujuran atau blaka suta menjadi nilai utama. Apa yang dirasakan, itulah yang diucapkan.
Kehangatan itu semakin lengkap dengan hadirnya ragam kuliner khas Banyumasan. Aroma sroto Sokaraja yang gurih, manisnya dawet Banjarnegara, hingga hangatnya mendoan dan tempe gembus menjadi pelengkap nostalgia. Setiap suapan seolah membawa ingatan pulang ke kampung halaman.
Tak hanya lidah yang dimanjakan, telinga pun diingatkan dengan kesenian khas Banyumasan.
Semua Terasa ‘Ngapak’
Menariknya, seluruh rangkaian acara mulai dari pembawa acara, sambutan, hingga penyampaian hikmah syawalan, disampaikan dalam dialek ngapak. Suasana pun terasa semakin akrab, seolah semua yang hadir adalah keluarga lama yang lama tak bersua. “Pokoke ra ngapak ora kepenak,” teriak pembawa acaranya.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Yanni Saptohoedojo, mantan Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. Panut Mulyono, serta Rektor Universitas Alma Ata Prof. Hamam Hadi. Kehadiran mereka menambah semarak sekaligus memperkuat jejaring antarwarga Banyumasan di perantauan.
Di era digital, kebersamaan ini juga diperkuat melalui grup komunikasi daring. Dari obrolan ringan hingga berbagi informasi penting, hubungan antaranggota terus terjaga, bahkan di luar pertemuan tatap muka.
Bagi warga Banyumasan di Yogyakarta, acara seperti ini bukan hanya ajang temu kangen. Ini adalah cara menjaga jati diri di tengah keberagaman. Sebab, sejauh apa pun merantau, selalu ada cara untuk merasa dekat dengan rumah, salah satunya lewat logat “ngapak” yang tak pernah berubah.
Di ruang sederhana itu, mereka tidak sekadar berkumpul. Mereka sedang merawat ingatan, menjaga budaya, dan yang terpenting menghidupkan kembali rasa pulang di bulan penuh persaudaraan ini.

Kemenkes Mulai Vaksinasi MR Serentak bagi Tenaga Medis Seluruh Indonesia 