Catra Budaya

Subak Bali Kearifan Lokal Mendunia

Subak adalah sistem pertanian tradisional ini telah ada sejak abad ke-9 dan tercatat dalam prasasti pada abad ke-11.

Subak menjadi salah satu warisan budaya bali yang masih dijaga dan dilestarikan hingga kini selain keberadaan desa adat
Penyuluhan petani subak Jatiluwih terkait pertanian organik yang dilaksanakan oleh Fakultas Pertanian Unud / dok I Made Sarjana

catrawarta.comSubak menjadi salah satu warisan budaya Bali yang masih dijaga dan dilestarikan hingga kini, selain keberadaan desa adat. Sistem pertanian tradisional ini telah ada sejak abad ke-9 dan tercatat dalam prasasti pada abad ke-11.

Kepala Laboratorium Subak dan Rekayasa Agrowisata Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Dr I Made Sarjana, menjelaskan bahwa keberadaan Subak di Bali erat kaitannya dengan filosofi Tri Hita Karana.

“Subak secara harfiah adalah sistem irigasi dan pengelolaan pertanian tradisional di Bali. Pada intinya, ini merupakan warisan leluhur dalam mengelola lahan basah. Syarat adanya Subak adalah tanah, air dan irigasi, petani, serta pura,” kata Made Sarjana, Jumat (5/6).

Menurutnya, Subak sepenuhnya berlandaskan filosofi Tri Hita Karana, yakni konsep keseimbangan hidup masyarakat Hindu Bali melalui tiga hubungan harmonis.

“Pertama Parhyangan, yaitu hubungan harmonis manusia dengan Tuhan. Kedua Pawongan, hubungan harmonis antarsesama manusia. Dan ketiga Palemahan, hubungan harmonis manusia dengan lingkungan dan alam,” ujarnya.

Konsep tersebut juga sejalan dengan visi pembangunan Bali yang diusung Gubernur Bali I Wayan Koster melalui program Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang merujuk pada filosofi Sad Kerthi atau enam penyucian dan keseimbangan kehidupan.

Lahir dari Budaya Gotong Royong Petani

Kepala laboratorium subak dan rekayasa agrowisata program studi agribisnis fakultas pertanian universitas udayana i made sarjanadok i made sarjana
Kepala Laboratorium Subak dan Rekayasa Agrowisata Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Made Sarjana/dok I Made Sarjana

Made Sarjana menuturkan, lahirnya Subak berawal dari budaya komunal masyarakat petani Bali. Seluruh persoalan pertanian diselesaikan bersama melalui musyawarah.

“Contohnya ketika petani membutuhkan air irigasi untuk sawah, semua dibahas dan diputuskan bersama,” katanya.

Ia kemudian menceritakan pengalaman di kampung halamannya di Desa Mengani, Kecamatan Kintamani, yang pada 1991 pernah berstatus desa tertinggal. Kondisi itu mendorong masyarakat setempat meningkatkan sektor pertanian melalui pembangunan sistem irigasi.

Saat itu, ayahnya bersama sekitar 80 anggota Subak bermusyawarah mencari solusi penyediaan air bagi persawahan warga. Mereka memanfaatkan tiga sungai di sekitar desa untuk dijadikan sumber irigasi.

Warga kemudian mengundang seseorang yang memiliki kemampuan mengukur jalur saluran air secara tradisional.

“Orang tersebut mengukur dengan menembakkan bedil ke arah hulu desa. Dari situ ditentukan jalur saluran air yang akan dibangun,” ujarnya.

Masyarakat juga membangun terowongan sepanjang 7,3 kilometer untuk menghubungkan aliran air menuju area persawahan. Dari proses tersebut lahirlah Subak Giri Merta Yoga di Desa Mengani, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Pembangunan dilakukan secara gotong royong dengan iuran warga sebesar Rp2,5 juta per keluarga untuk membeli bahan baku dan membayar tenaga ahli.

Pembangunan irigasi berlangsung selama dua tahun, yakni 1993 hingga 1994. Hasilnya, desa tersebut berhasil meningkatkan produktivitas pertanian hingga mengalami surplus beras.

“Sekarang sawah di Desa Mengani tidak hanya bisa panen padi organik dua kali setahun, tetapi juga ditanami hortikultura,” kata Made.

Selain mengelola pertanian, anggota Subak juga memiliki kewajiban menjaga keseimbangan spiritual dan lingkungan sesuai konsep Tri Hita Karana. Petani rutin membersihkan pura, melaksanakan upacara keagamaan sebagai bentuk syukur kepada Dewi Sri sebagai simbol kesuburan, serta menjaga kebersihan saluran air.

“Biasanya ibu-ibu membuat sesajen, bapak-bapak menyiapkan lawar, dan anak-anak membantu menghias pura,” tuturnya.

Pura di bendungan mambal badung  dok i made sarjana
Pura di Bendungan Mambal, Badung / dok I Made Sarjana

Hubungan sosial antaranggota Subak juga terus dipelihara melalui pertemuan rutin yang umumnya digelar setiap Sabtu Kliwon untuk membahas berbagai persoalan pertanian dan solusi bersama. Sementara itu, hubungan harmonis dengan alam diwujudkan melalui pengelolaan lingkungan, perawatan saluran irigasi, hingga pelaksanaan berbagai ritual pertanian.

Made menjelaskan, dalam budidaya padi terdapat 12 tahapan upacara adat yang harus dijalankan, termasuk ritual tolak bala untuk menghindari hama dan bencana alam. Budidaya padi merupakan ritial sakral, maka para petani Subak membangun pura-pura Subak di dekat lahan pertanian yang mereka garap. 

Pura Subak terbesar adalah Pura Batur. Dan di setiap kabupaten ada pura subak yang berlokasi di dekat persawahan, hingga dekat pintu air irigasi.

Tantangan Masa Depan Subak

Saat ini tercatat ada sekitar 1.596 Subak di Bali. Namun Made menilai keberlangsungan Subak menghadapi berbagai tantangan, terutama alih fungsi lahan pertanian menjadi vila dan hotel.

Menurutnya, hingga kini belum ada lembaga khusus yang menaungi Subak sebagai warisan budaya dunia.

“Di luar negeri ada lembaga khusus yang menaungi warisan budaya dunia. Sementara di Bali, perhatian lebih banyak diarahkan pada aspek pariwisata, bukan perlindungan lahan pertanian,” kritiknya.

Ia juga menyoroti kecilnya bantuan anggaran bagi Subak dibandingkan desa adat dan pecalang. Saat ini desa adat di Bali menerima bantuan Rp400 juta per tahun, pecalang Rp50 juta, sedangkan Subak hanya memperoleh Rp15 juta per tahun.

“Padahal sebelum pandemi Covid-19, bantuan untuk Subak mencapai Rp50 juta,” ujarnya.

Meski demikian, keberadaan Subak tetap diakui dunia internasional. Pada 29 Juni 2012, UNESCO menetapkan Subak sebagai Warisan Budaya Dunia karena dinilai menjadi simbol kearifan lokal masyarakat Bali dalam menjaga harmoni manusia, alam, dan spiritualitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *