catrawarta.com — Pantun selalu identik dengan kebudayaan Melayu. Hingga kini, masyarakat Melayu yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara, Malaysia, dan sekitarnya masih menggunakan pantun dalam tradisi lisan sehari-hari.
Dosen STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang sekaligus budayawan dan pemerhati sastra Melayu, Rendra Setyadiharja, mengatakan pantun sejatinya bukan sekadar kesenian, melainkan tradisi lisan masyarakat Melayu.
“Pantun itu ungkapan lisan dengan tutur kata yang sopan. Kearifan lokal pantun ada pada kesopanannya dalam menyampaikan sesuatu,” kata Rendra, Jumat (5/6/2026).

Setyadiharja)
Menurutnya, masyarakat Melayu dikenal memiliki pola komunikasi yang tidak langsung atau penuh makna tersirat. Karena itu, pantun, peribahasa, ungkapan, hingga sindiran halus menjadi bagian penting dalam budaya komunikasi Melayu.
“Orang Melayu berbicara dengan simbol-simbol budaya atau homo simbolicum. Gadis disimbolkan dengan bunga, perasaan digambarkan lewat cuaca, hujan, sungai, atau gelombang laut,” ujarnya.
Sejarah pasti lahirnya pantun tidak diketahui karena berkembang sebagai tradisi lisan di tengah masyarakat. Namun, jejak pantun ditemukan dalam kitab Sulalatus Salatin atau Sejarah Melayu yang ditulis Tun Sri Lanang pada 1612.
Salah satu pantun yang tercatat dalam kitab tersebut berbunyi:
Telur itik dari Senggora,
Pandan terletak dilangkahi;
Darahnya titik di Singapura,
Badannya terhantar di Langkawi.
Pantun juga dicatat William Marsden dalam buku History of Sumatra yang terbit pada 1783:
Apa guna pasang pelita,
Kalau tidak dengan sumbunya?
Apa guna bermain mata,
Kalau tidak dengan sungguhnya.
Buku khusus pantun ditulis Haji Ibrahim, sahabat Raja Ali Haji, dan diterbitkan di Batavia pada 1877. Setelah itu muncul buku pantun karya Van Ophuijsen yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1920.
Ia mengatakan pantun memiliki banyak fungsi, mulai dari ceramah, media pendidikan, hingga diplomasi budaya. Tradisi pantun bahkan telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia.
Indonesia juga menetapkan 17 Desember sebagai Hari Pantun Sedunia. Peringatan tersebut mulai digelar pada 2023 di Pontianak, Kalimantan Barat, kemudian berlanjut di Riau dan Kepulauan Riau.
Menurutnya, membuat pantun sebenarnya tidak sulit. Pemula bisa memulai dari isi atau pesan yang ingin disampaikan, lalu menyesuaikan sampiran.
Contohnya:
Banyak orang membeli merica,
Silakan tuan pergi ke pasar;
Jika tuan banyak membaca,
Niscaya tuan semakin pintar.
Ada pula pantun lama yang sangat populer di masyarakat Melayu:
Pulau Pandan jauh ke tengah,
Gunung Daik bercabang tiga;
Hancur badan dikandung tanah,
Budi yang baik dikenang juga.
Sementara pantun berikut dikenal luas sebagai ungkapan perpisahan:
Kalau ada sumur di ladang,
Boleh kita menumpang mandi;
Kalau ada umur yang panjang,
Boleh kita berjumpa lagi.
Rendra mengkritik penggunaan pantun dalam sejumlah acara resmi yang dinilai terlalu dipaksakan dan tidak mengikuti kaidah berpantun.
“Banyak pejabat memakai pantun saat pidato, tapi dipaksakan dan terlalu panjang sehingga tidak estetik,” katanya sambil tertawa.
Ia mencontohkan pantun penyambutan pejabat yang menurutnya terlalu panjang dan tidak sesuai pakem.

Perkembangan pantun di masyarakat Melayu awalnya tumbuh dari tradisi pernikahan adat, seperti saat lamaran, hantaran, hingga akad nikah yang diwarnai tradisi berbalas pantun.
Dari tradisi itu kemudian lahir komunitas-komunitas pecinta pantun yang terus menjaga budaya tersebut hingga sekarang.
Kemudian pantun tidak hanya digunakan di acara adat, tetapi juga masuk ke lagu Melayu dan perlombaan pantun.
“Lagu Rasa Sayange dari Ambon itu juga berasal dari pantun. Pantun sebenarnya bukan hanya milik Kepulauan Riau, tetapi milik Indonesia. Hampir setiap daerah punya bentuk pantun dengan nama berbeda,” ujarnya.
Menurut Rendra, tradisi pantun masih kuat digunakan masyarakat Melayu di Kepulauan Riau, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Jambi, hingga Sumatra Barat.
Ia menyebut istilah pantun sendiri berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti penuntun. Anak-anak muda Melayu kini mulai membawa pantun ke media sosial hingga aplikasi digital.
Di Kepulauan Riau telah hadir aplikasi pantun bernama Pantunesia, sedangkan di Kalimantan Barat muncul aplikasi Pantunin AI yang berisi permainan dan kreasi pantun digital.

