Catra Budaya

Suku Mandar dan Warisan Tenun Sutranya

Masyarakat umum kerap menyebut semua orang dari Sulawesi Selatan sebagai Bugis atau Makassar. Padahal, wilayah ini memiliki empat suku besar.

Masyarakat mandar juga memiliki warisan budaya berupa sarung tenun khas yang dikenal dengan nama lipa sabe
Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka (nomor dua dari kanan) mengenakan sarung sutra Mandar dalam sebuah acara. (Dok Pemprov Sulawesi Barat)

catrawarta.comMasyarakat umum kerap menyebut semua orang dari Sulawesi Selatan sebagai Bugis atau Makassar. Padahal, wilayah ini memiliki empat suku besar, yakni Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar yang memiliki sejarah serta identitas budaya masing-masing.

Suku Bugis lebih dikenal luas karena memiliki populasi besar dan jaringan perantauan yang tersebar di berbagai daerah. Mayoritas masyarakat Bugis juga dikenal sebagai pedagang dan pelaut yang aktif berdagang melalui jalur laut sejak masa lampau.

Keempat suku tersebut bagian penting dalam sejarah dan perkembangan budaya di Sulawesi Selatan.

Mengutip situs resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, terdapat tiga kerajaan besar yang memiliki pengaruh luas, yakni Kerajaan Gowa, Luwu, dan Bone. Selain itu, terdapat pula kerajaan-kerajaan kecil yang bersifat otonom dan beraliansi dengan kerajaan besar.

Pembentukan Provinsi Sulawesi Selatan sendiri merupakan hasil kesepakatan dan ikrar para raja serta masyarakat untuk bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Provinsi ini kemudian diatur melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1950 dengan Makassar sebagai ibu kota.

Peneliti, jurnalis, sejarawan, sekaligus budayawan maritim Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin, menjelaskan bahwa pada masa VOC, masyarakat Mandar berada di pihak Kerajaan Gowa yang menolak tunduk kepada VOC.

VOC bersama pemerintah kolonial Belanda menjalankan politik pecah belah dengan menjadikan Kerajaan Bone sebagai sekutu untuk melawan Gowa.

“Tunduk dalam artian menerima semua keinginan VOC agar hasil bumi dikuasai perusahaan dagang Belanda. Saat perang terjadi, suku Mandar mendukung Kerajaan Gowa, namun akhirnya Gowa kalah,” kata Ridwan, Kamis (4/6/2026).

Ia menjelaskan, pada masa konflik tersebut banyak orang Mandar mengaku sebagai Bugis agar terhindar dari penangkapan Belanda.

“Dampaknya, suku Bugis semakin populer di samping populasinya memang lebih besar,” ujarnya.

Perjalanan sejarah kemudian membawa perubahan administratif setelah era Reformasi dengan lahirnya Provinsi Sulawesi Barat pada 22 September 2004. Kehadiran provinsi baru itu menjadi momentum bagi masyarakat Mandar untuk semakin memperkenalkan budaya maritim mereka.

Baju tradisional sulawesi barat dengan mengenakan sarung asli mandar atau lipa sa'be yang bercorak geometris. (Dok Jepa Mandar)
Baju tradisional Sulawesi Barat dengan mengenakan sarung asli Mandar atau Lipa Sa’be yang bercorak geometris. (Dok Jepa Mandar)

Selain terkenal dengan perahu Sandeq yang dikenal sebagai salah satu perahu layar tercepat, masyarakat Mandar juga memiliki warisan budaya berupa sarung tenun khas yang dikenal dengan nama Lipa Sa’be.

Ridwan mengungkapkan, ulama besar Buya Hamka pernah menulis surat kepada Pimpinan Muhammadiyah Polewali terkait sarung Mandar. Dalam surat tertanggal 2 Maret 1970, Hamka menyebut dirinya menerima kiriman sarung Mandar asli dan kain bercampur benang.

Di dalam surat tersebut, Hamka mengaku selama ini masyarakat di Padang, Sumatra Barat, mengira sarung-sarung tersebut merupakan kain Bugis.

Hamka juga mendorong agar sarung Mandar tidak hanya digunakan dalam acara adat atau upacara tertentu, tetapi juga dipakai sehari-hari agar kerajinan tenun tersebut terus berkembang dan berkelanjutan.

Hubungan Hamka dengan masyarakat Mandar disebut cukup dekat karena banyak pemuda Mandar menuntut ilmu agama di Sumatra Barat.

“Kalau di Mandar, orang langsung tahu ini sarung Mandar. Tapi di luar daerah sering dianggap Bugis,” kata Ridwan sambil tertawa.

Ia menambahkan pengakuan ini penting untuk semakin memperlihatkan bahwa suku Mandar memiliki produk-produk budaya sendiri.

Surat buya hamka untuk ketua muhammadiyah mandar dok ridwan alimuddin
Surat Buya Hamka untuk Ketua Muhammadiyah Mandar. (dok Ridwan Alimuddin)

Sarung sutra Mandar atau Lipa Sa’be diperkirakan berkembang sejak kedatangan pedagang Arab ke Sulawesi. Kain ini menggunakan benang sutra putih, sementara warna merah dan hitam diperoleh dari bahan-bahan alami.

Warna hitam berasal dari daun nila, sedangkan warna merah berasal dari akar tanaman tertentu. Motif yang digunakan umumnya terinspirasi dari alam sekitar dengan warna-warna lembut alami.

“Ciri khas corak atau motifnya yaitu sure’ dan bunga,” ujarnya.

Motif sure’ berbentuk garis geometris sederhana yang menjadi ciri klasik Lipa Sa’be Mandar. Sementara motif bunga merupakan pengembangan dari motif sure’. Motif-motif tersebut memiliki filosofi yang erat dengan kehidupan sosial dan religius masyarakat Mandar.

Garis vertikal melambangkan hubungan antara pemimpin dan rakyat, sedangkan garis horizontal menggambarkan hubungan antarmasyarakat. Proses pembuatan sarung sutra Mandar juga tidak singkat. Untuk satu lembar kain, perajin bisa menghabiskan waktu hingga satu bulan.

Para perajin juga terus mengembangkan motif dan model baru agar kain tenun Mandar tetap diminati. Hingga kini, masyarakat Mandar masih mempertahankan tradisi tenun sutra tersebut di tengah arus modernisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *