Warta

Pertemuan Gibran dan Mahasiswa Asmat, Sekolah Lapang Sagu Jadi Bahasan Serius

catrawarta.com — Sekolah Lapang Sagu di Papua menjadi pembicaraan serius Ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berdialog dengan Yayasan Widya Cahaya Nusantara...

Two men in batik shirts shake hands in a formal setting with flowers in the background
ASMAT: Wapres Gibran bertemu dengan salah satu mahasiswa USD yang berasal dari Asmat, Papua.(Sumber: wapresri.go.id)

catrawarta.comSekolah Lapang Sagu di Papua menjadi pembicaraan serius Ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berdialog dengan Yayasan Widya Cahaya Nusantara di Istana Wakil Presiden. Sekolah itu menjadi bagian dari program Yayasan yang berjalan di Kabupaten Asmat, Papua Selatan.

Pada pertemuan dan dialog yang berlangsung hangat, yayasan memaparkan sejumlah program yang sedang berjalan antara lain pengembangan Museum Asmat. Museum merupakan pusat pelestarian warisan budaya sedangkan Sekolah Lapang Sagu memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Gibran, jelas Bendahara Yayasan Widya Cahaya Nusantara, Evy Tjahyono, memberikan dukungan penuh pada upaya pelestarian budaya Asmat, khususnya tradisi seni pahat yang menjadi identitas sekaligus kekayaan budaya bangsa.

”Wapres sangat mendukung, dan memang harus dilakukan seperti itu supaya budaya memahat tidak hilang. Karena ini adalah harta karun sebenarnya bagi bangsa Indonesia. Pak Wapres minta untuk dipertahankan,” tutur Evy dalam keterangan seperti pada laman wapresri.go.id.

Museum Sarana Edukasi

Pengembangan Museum Asmat, jelasnya, dapat menjadi sarana edukasi sekaligus pusat dokumentasi dan pelestarian berbagai karya seni serta tradisi masyarakat Asmat yang telah dikenal luas di seluruh dunia.

Selain mendukung pelestarian budaya, Wapres juga menyambut baik pelaksanaan program Sekolah Lapang Sagu yang dirancang untuk memperkuat kemandirian pangan masyarakat melalui pendampingan di bidang pertanian dan perikanan.

”Dengan program Sekolah Lapang Sagu itu kami berharap masyarakat yang tadinya adalah masyarakat peramu, kita ajarkan bagaimana untuk dapat mulai bercocok tanam, memelihara ikan. Dan sekarang sudah mulai, ya, mereka sudah mulai merasakan bagaimana enaknya menangkap ikan di tempat yang kolam sendiri,” papar Evy.

Ia menambahkan, program tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal sekaligus mendorong peningkatan kapasitas masyarakat agar lebih mandiri dan produktif.

Mahasiswa Asmat Ikut Dialog

Kaletus Sakaro, mahasiswa berasal dari Agats, Asmat, Papua yang turut berdialog mengungkapkan suara generasi muda Papua tidak hanya menjadi bagian dari diskusi pembangunan, tetapi juga hadir sebagai representasi langsung dari masyarakat yang mengalami dan merasakan kebutuhan di lapangan.

Menurutnya, seperti dalam rilis dari kampusnya, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, pertemuan dengan Gibran dapat dibaca sebagai misi untuk mempertemukan aspirasi lokal, pelestarian budaya, dan agenda pembangunan manusia di Tanah Papua.

Pertemuan tersebut menunjukkan pelestarian budaya Asmat, penguatan pangan lokal berbasis sagu, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan agenda yang saling terkait.

Dalam semangat itu, kehadiran Kaletus Sakaro menjadi penting sebagai wajah generasi muda Papua yang belajar, bertumbuh, dan kembali membawa suara daerahnya ke pusat pengambilan kebijakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *