Pena Catra

125 Tahun Bung Karno, Ketika Kehormatan Bangsa Dipertaruhkan

catrawarta.com — Soekarno lahir 6 Juni 1901. Awal abad XX ditandai lahirnya ideologi-ideologi besar dunia. Periode dimana kolonialisme berhadapan dengan nasionalisme dan...

Ilustrasi Foto: Ir. Soekarno, Presiden Pertama Indonesia. (Sumber: catrawarta)

catrawarta.comSoekarno lahir 6 Juni 1901. Awal abad XX ditandai lahirnya ideologi-ideologi besar dunia. Periode dimana kolonialisme berhadapan dengan nasionalisme dan menyisakan kisah heroik lahirnya negara bangsa.

Melacak kehidupan Soekarno, setidaknya ada tiga titik kisar yang patut dicatat. Pertama, Soekarno sebagai pemikir. Kedua, Soekarno sebagai penguasa. Ketiga, Soekarno sebagai ideologi. Dalam ketiganya, kita harus tepat dalam meletakkan konteks sejarah agar bisa clear dalam membaca sejarah. Soekarno bukan Orde Lama, Orde Lama tak identik dengan Soekarno. Apa yang sering disebut Orde Lama itu meliputi berbagai rezim pemerintahan yang datang silih berganti seirama dinamika parlementer.

Sebagai seorang pemikir, Soekarno sangat produktif dalam menuangkan gagasan dan pemikirannya. Tidak saja mengajak berselancar ke berbagai referensi dunia, tetapi tulisan Soekarno juga merefleksikan konsistensi perjuangan menentang penindasan akibat praktik kolonialisme. Konsep dan pemikirannya melampaui zaman sehingga sampai sekarang masih dijadikan rujukan.

Dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi (Jilid Pertama), kita langsung diajak memahami tiga ideologi besar dunia. Tulisan panjang yang berjudul “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” yang dimuat dalam Suluh Indonesia Muda 1926, Soekarno dengan gamblang menguraikan peran dan posisi ketiga ideologi besar itu dalam pergerakan. Berikut dikutipkan dengan penyesuaian ejaan:

“Dan jikalau kita semua insyaf, bahwa kekuatan hidup itu letaknya tidak dalam menerima, tetapi dalam memberi, jikalau kita semua insyaf, bahwa dalam percerai-beraian itu letaknya benih perbudakan kita, jikalau kita semua insyaf, bahwa permusuhan itulah yang menjadi asal kita punya ‘via dolorosa’ (Pen. Jalan Kesengsaraan), jikalau kita insyaf, bahwa Ruh Rakyat Kita masih penuh kekuatan untuk menjunjung diri menuju Sinar yang Satu yang berada di tengah-tengah kegelapan gumpita yang mengelilingi kita ini, maka pastilah Persatuan itu terjadi, dan pastilah Sinar itu tercapai juga” (DBR: 23).

Soekarno seorang ideolog persatuan. Ia belajar banyak tentang ideologi dunia. Dia seorang pembaca buku peradaban. Keluar masuk penjara, dibuang dari satu ke lain pulau karena membakar semangat rakyat melalui pidato massa actie, adalah konsekuensi logis sebuah perjuangan. Tidak menelan mentah-mentah apa yang dia baca tetapi merenungkan dan meramunya sesuai konteks dan karakter bangsanya. Itulah yang kemudian dia lakukan saat menemukan formula dasar negara yang dinamai Pancasila dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945.

Jika kemudian Soekarno bersama Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dan kemudian terpilih sebagai presiden dan wakil presiden, adalah kenyataan sejarah yang tak seorang pun menolaknya. Namun, sungguh tak mudah mewujudkan cita-cita proklamasi saat kekuasaan dia genggam. Hanya dalam hitungan bulan, Indonesia menganut demokrasi parlementer hingga kabinet harus jatuh bangun. Soekarno menjadi presiden tetapi simbolik semata karena kekuasaan dipegang perdana menteri.

Adalah Pemilu 1955 yang mengubah konstelasi politik Indonesia. PKI berhasil masuk dalam jajaran urutan lima besar perolehan suara atau sekitar 16,36%. Kondisi tak segera terkendali karena Konstituante gagal membuat undang-undang. Bung Karno menyampaikan konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) pada 1956. Peran Bung Karno pun menguat hingga mengeluarkan dekrit presiden pada 5 Juli 1959. Kekuasaan besar dia pegang sepenuhnya seiring menguatnya PKI. Daerah-daerah bergolak menentang Jakarta. Inilah yang menyebabkan masuknya TNI dalam urusan politik kekuasaan. Konfigurasi Bung Karno, PKI dan TNI saling mengunci hingga meletus prahara 1965.

Bung Karno tumbang. Soeharto naik dengan Orde Baru sejak 1967 dan melarang sepenuhnya ajaran Bung Karno termasuk marxisme. Bahkan, anak-anak Bung Karno, PNI dan kemudian PDI mengalami marginalisasi politik dan ekonomi. Namun, penguasa Orba lupa bahwa pemikiran, apalagi yang terdokumentasikan, sulit untuk ditenggelamkan.

Ajaran Bung Karno pelan-pelan terangkat meski dalam kadar yang tak lagi revolusioner.

Last but not least, Bung Karno paling benci jika ada yang berani menginjak-injak harga diri dan kehormatan bangsa Indonesia. Tanpa tedeng aling-aling, dia hantam kolonialisme di depan hidung pembuatnya. Dengan lihai Bung Karno berani teriak menentang exploitation de l’home par home. Dia praktikkan itu dengan menggelar Konferensi Asia Afrika pada 1955 di Bandung dan Gerakan Non Blok pada 1961 di Beograd. Saat PBB mengusik Indonesia, dia inisiasi NEFO atau Newly Emerging Forces pada 1961.

Kini, Indonesia di simpang jalan. Kondisi dalam negeri masih juga belum tertata secara benar, rupiah menyentuh Rp 18.000, korupsi menggila, kemiskinan mendera, alam rusak, utang membengkak dan kita tak tahu bagaimana nasib 288.315.089 jiwa penduduk Indonesia. Bisa jadi kini kehormatan bangsa sedang dipertaruhkan. Apakah kita tetap membebek pada korporasi internasional atau berdikari. Pada pidato peringatan 17 Agustus 1964 yang berjudul Tahun Vivere Pericoloso, Bung Karno berkata, “For a fighting nation, there is no journey’s end”. Siapkah kita terus berjuang dan berjuang terus?

Ksatrian Sendaren, 6 Juni 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *