catrawarta.com — Kalau mau tahu betapa cerdasnya para pendiri bangsa, bisa dilacak dari arsip persidangan BPUPKI. Di lembaga bentukan Jepang ini, para tokoh bangsa dari berbagai latar belakang saling berdiskusi bahkan berdebat tentang beragam tema menyangkut negara yang mau didirikan.
Dalam persidangan BPUPKI yang demokratis masing-masing anggota diberi hak untuk menyampaikan gagasannya. Mereka meletakkan pemikirannya berdasar argumentasi ilmiah yang rasional. Benar mereka berada dalam pengawasan tentara Jepang, tetapi tak terlihat mereka keder dan takut. Rata-rata mereka dididik di sekolah atau universitas papan atas, baik di dalam maupun luar negeri, yang mengedepankan kecendekiaan.
Soekarno alumni Techniche Hoogeschool te Bandung (yang kita kenal dengan ITB). Bung Hatta alumni Erasmus University Rotterdam Belanda. Soepomo alumni Universitas Leiden, Belanda. Muhammad Yamin Rechtshoogeschool te Batavia. Sekedar menyebut tokoh yang banyak menelorkan pemikiran selama persidangan. Mereka mempunyai kompetensi yang berlainan, tetapi soal nasionalisme dan masa depan Indonesia, komitmen mereka tak perlu diragukan. Begitu pula dengan para anggota yang lain.
Bahwa Indonesia adalah negara yang didesain dengan ilmu oleh para cendekiawan generasi pertama negeri ini. Diskusi dan perdebatan menjadi bagian dari karakter mereka, tetapi tak satupun yang menjadikan itu sebagai urusan pribadi. Kedewasaan mereka telah teruji sejak masa pergerakan nasional. Keluar masuk penjara karena mengkritisi kekuasaan Belanda adalah konsekuensi logis dari sebuah perjuangan. Dan itu amat mereka sadari sejak awal.
Bukan hanya mereka yang siap secara mental ketika harus dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda. Keluarga mereka pun amat paham dan siap menghadapi masa-masa sulit ketika yang bersangkutan dipenjara atau diasingkan. Lahir dan tumbuh di zaman penjajahan, dengan tetap memegang cintanya pada negeri ini, adalah sebagian karakter yang melekat pada generasi emas bangsa ini.
Generasi yang tidak tunduk takluk pada kepentingan bangsa penjajah. Generasi yang berani menatap tegak kolonialisme demi perjuangan kemerdekaan bangsanya. Silakan baca pidato pembelaan Bung Karno di landraad Bandung berjudul Indonesia Menggugat yang berani menampar praktik kolonialisme Belanda di depan para hakim Belanda. Silakan simak pidato pledoi Bung Hatta berjudul “Indonesie Vrij” (Indonesia Merdeka) yang dibacakan pada 9 Maret 1928 di pengadilan Den Haag Belanda.
Pidato mereka menjadi referensi bagi siapapun yang ingin belajar tentang kekuasaan, perjuangan dan kolonialisme. Ilmunya tak lekang oleh waktu. Sikap mereka menjadi teladan perjuangan. Dan cara mereka mengelola kekuasaan, pada periode berikutnya, menjadi cermin yang tak pernah buram.
Akhir Mei sampai awal Juni pada 1945, para cendekiawan kita memeras otak untuk menemukan formula terbaik bagi Indonesia. Mereka kesampingkan segala kepentingan sempit, seperti golongan dan latar belakang, demi tercipta persatuan. Jangankan memikirkan diri sendiri, kepentingan keluarga pun tak pernah singgah di benak mereka. Indonesia adalah rumah dan payung bagi kehidupan semua anak bangsa tanpa membeda-bedakan latar belakang. Pancasila menjadi dasar yang disepakati bersama.
Lalu, bandingkan itu semua dengan kondisi saat ini. Makin hari elite kita makin jauh dari laku hidup Pancasila. Ucapan bertentangan dengan tindakan, kepentingan kroni dan keluarga diutamakan, jangankan menjauh dari praktik korupsi sedang kekayaan alam pun mereka perdagangkan tanpa merasa bersalah. Di sisi lain, kekuasaan menjadi antikritik dan cenderung menumpulkan nalar.
Susah payah bangsa ini berjuang meraih kemerdekaan dari tangan penjajah. Tak pernah terbayang jika kemudian kita seperti dijajah oleh bangsa sendiri. Tak salah kata-kata Bung Karno kepada Megawati, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”.
Hampir di semua level kekuasaan kita temukan penyimpangan dan penyelewengan. Bukannya menjadi efek jera, jika ada yang tertangkap dan dipenjara, tetapi tanpa rasa malu dan takut justru diulang dan diulangi lagi. Hukum dan keadilan memang tengah menjauh dari kehidupan rakyat. Merasa menjadi pemilik kedaulatan tetapi nyaris tak bisa apa-apa selama lima tahun. Didekati hanya menjelang pemilu lalu ditinggal begitu saja nampaknya sudah menjadi nasib rakyat.
Kadang bertanya, sudah merdekakah bangsa ini? Kemana larinya kekayaan alam, hutan dan laut yang nyaris tak ada duanya di dunia ini, yang diamanatkan konstitusi untuk kepentingan kemakmuran rakyat? Mengapa utang dari tahun ke tahun semakin besar sedang kehidupan rakyat kian terjal jalannya? Kita makin asing dengan moralitas dan karakter elite kita. Entah sampai kapan.
Hidup dilarang pesimis. Tetapi melihat cara elite memperpanjang kekuasaan, yang cenderung menghalalkan segala cara, rasanya seperti melihat langit yang semakin rendah. Tak ada cakrawala. Tak ada harapan. Sedang hidup harus terus dilanjutkan.
Ksatrian Sendaren, 29 Mei 2026

Teror Hantu Pocong dan Tongkat Bisbol Mak Jas 