Warta

Jangan Sepelekan Melemahnya Nilai Rupiah!

catrawarta.com — Memburuknya nilai tukar rupiah tak bisa diabaikan. Bukan karena masyarakat, entah perkotaan atau perdesaan, tidak pernah menggunakannya. Melemahnya rupiah tentu...

Coins spilling from a jar with a bold red downward arrow signaling a financial downturn or drop in value
TURUN: Ilustrasi penurunan rupiah tak bisa disepelekan.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comMemburuknya nilai tukar rupiah tak bisa diabaikan. Bukan karena masyarakat, entah perkotaan atau perdesaan, tidak pernah menggunakannya. Melemahnya rupiah tentu berpengaruh besar pada masyarakat Indonesia.

“Kondisi kurs yang sangat buruk ini tidak bisa diabaikan. Bagaimanapun ekonomi Indonesia dengan sistem terbuka menjadikan barang impor menjadi penopang, terlebih pd sektor manufaktur dan energi,” ujar ekonom Ahmad Ma’ruf kepada catrawarta.com.

Ia mengungkapkan dampak turunan dalam jangka pendek antara lain inflasi. Pada jangka menengah, kalau tidak terkelola bisa muncul risiko politik. Karena itu, pelemahan rupiah tidak bisa dianggap sepele.

Kendati demikian, semua pihak, terutama pemerintah masih terlihat tenang dan adem ayem. Menurut Ma’ruf karena ada nuansa politik. Ia melihat salah satunya karena mayoritas dukungan politik dalam satu genggaman sehingga tidak ada gejolak.

Ia tidak melihat adanya kritik yang keras, demonstrasi dan lainnya. Nuansa politis jauh lebih kuat dengan tidak adanya gejolak apapun. Bahkan mahasiswa yang biasanya bergejolak juga terlihat relatif tenang. Begitu pula para elite politik jarang yang menyuarakan kekritisannya, kalua ada hanya segelintir orang.

Akumulasi Berbagai Tekanan

Pengamat ekonomi Rijadh Djatu Winardi, Ph.D menambahkan pelemahan rupiah merupakan akumulasi berbagai tekanan yang terjadi secara bersamaan. Ia menyebutnya sebagai “perfect storm”. Ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia mendorong lonjakan permintaan dolar AS.

Pada ekonomi domestik, menurutnya terdapat faktor musiman dan struktural yang juga memberi tekanan pada rupiah. Faktor itu antara lain, periode pembayaran dividen kepada investor asing. Juga meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ruang fiskal yang semakin terbatas.

Ia menjelaskan mekanisme pelemahan nilai tukar rupiah berdampak langsung terhadap harga barang konsumsi masyarakat. Pelemahan rupiah menyebabkan kenaikan biaya barang impor dalam rupiah. Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor bakal meningkatkan biaya produksi.

Pengusaha sulit menghindari kenaikan harga akibat berbagai komponen juga mengalami kenaikan. Ia menilai masyarakat akan mulai merasakan dampaknya pada peningkatan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi karena BBM naik, hingga produk kesehatan. Semua itu terjadi karena sebagian masih impor.

Beban utang luar negeri, imbuh Rijadh, juga menjadi berpengaruh karena nilai pembayaran pokok dan bunga dalam rupiah membengkak. Menurutnya ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, fleksibilitas guna membiayai sektor pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial menjadi sangat terbatas. Saat tulisan ini dibuat, Senin (18/5/2026), rupiah berada pada 17.678,60.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *