catrawarta.com — Memasuki dunia kerja jadi momen yang sama menegangkan bagi banyak generasi muda, terutama Gen Z. Menurut rangkuman dari sebuah media tentang pengalaman Gen Z ketika mulai bekerja, ada lima hal yang paling sering bikin deg-degan sekaligus bikin kita bilang, relate banget. Kelima ketakutan ini bukan hanya soal tugas baru, tapi juga soal ekspektasi, identitas profesional, dan tekanan sosial yang terus dibentuk oleh budaya digital.
1. Takut Tidak Cukup Kompeten
Banyak Gen Z merasa kurang “layak” ketika mulai bekerja — padahal mereka sudah lulus dan punya kualifikasi. Rasa ini mirip dengan imposter syndrome, di mana seseorang merasa tidak pantas meskipun punya bukti kemampuan. Hal ini diperparah oleh budaya digital yang sering menampilkan kehidupan kerja ideal di media sosial.
2. Takut Diremehkan Senior / Lingkungan Kerja
Masuk ke ruang kerja sering kali berarti harus berhadapan dengan rekan atau atasan yang lebih senior dan berpengalaman. Gen Z kerap merasa harus membuktikan dirinya, padahal pembelajaran baru sedang dalam proses. Perasaan takut dinilai atau diremehkan ini bukan hanya soal pekerjaan, tapi soal harga diri.
3. Takut Tak Bisa Menjaga Keseimbangan Hidup–Kerja
Zaman sekarang, batas antara pekerjaan dan hidup pribadi makin tipis — terutama ketika semua bisa terlihat lewat notifikasi ponsel. Kekhawatiran tentang waktu yang tersita, kesehatan mental yang melorot, atau kehilangan “waktu buat diri sendiri” jadi sangat nyata.
4. Takut Diminta Tanggung Jawab Besar Tanpa Bimbingan Jelas
Gen Z sering datang dari lingkungan pendidikan yang terstruktur, dengan tugas dan arahan jelas. Dunia kerja tak selalu seperti itu — banyak pekerjaan yang menuntut inisiatif tanpa panduan rinci. Ketidakjelasan ini memicu kecemasan.
5. Takut Gagal di Mata Orang Lain
Ini bukan sekadar takut gagal, tapi takut dilihat gagal oleh orang lain — keluarga, teman, atau audiens di media sosial. Dalam budaya yang kerap mengukur kesuksesan lewat like, komentar, dan ulang tahun kerja pertama yang diposting, standar sosial bisa jadi tekanan ekstra.
Apa Artinya?
Kelima ketakutan itu bukan gejala unik atau tidak rasional — justru mencerminkan bagaimana dunia kerja dan budaya digital saat ini menuntut lebih dari sekadar kemampuan teknis:
- Identitas profesional harus “terlihat” di luar hasil kerja nyata
- Ekspektasi sosial ikut menentukan rasa aman psikologis
- Tekanan untuk selalu tampil kompeten bahkan di luar jam kerja
Tidak heran jika Gen Z merasa “keteteran” — di satu sisi mereka ingin punya karier yang berarti, di sisi lain mereka dibentuk oleh standar yang bersifat publik dan terkadang tidak realistis.
Kekhawatiran ini sejatinya bukan kegagalan atau kelemahan — melainkan sinyal bahwa harapan sosial terhadap dunia kerja telah berubah drastis. Dalam dunia digital yang mengekspose kehidupan profesional secara terbuka, tekanan bukan hanya datang dari bos atau atasan, tetapi juga dari audience sosial.
Ketakutan Gen Z ketika mulai bekerja bisa dilihat sebagai:
- Fenomena sosial budaya modern
- Cermin perubahan cara kita memaknai kerja, prestasi, dan identitas
- Pangilan untuk ruang kerja yang lebih manusiawi, tidak sekadar produktif
Karena kenyataannya, bekerja bukan hanya soal menyelesaikan tugas — tapi juga belajar cara menjaga martabat, keseimbangan, dan kesehatan mental di tengah ekspektasi yang terus berubah.

Dirjen Pajak Tinjau Layanan SPT di Sleman, Pastikan Transformasi Coretax Berjalan Optimal 