catrawarta.com — Refleksi Hari IPNU: Meneladani Pemikiran Prof. Dr. KH. Tolchah Mansoer
Di sebuah kompleks pemakaman keluarga Pesantren Krapyak, Dongkelan, Yogyakarta, bersemayam sosok yang jejak intelektual dan organisatorisnya masih terasa hingga kini: Prof. Dr. KH. Tolchah Mansoer. Lahir di Malang, 10 September 1930, Tolchah tumbuh sebagai santri cerdas yang meniti jalan ilmu dari madrasah pesantren (tradisional) hingga kampus modern perguruan tinggi. Namun, yang membuatnya dikenang bukan sekadar gelar profesor atau doktor hukum, melainkan daya hidup gagasannya dalam membangun kader pelajar Nahdlatul Ulama.
Nama Tolchah Mansoer tak bisa dipisahkan dengan sejarah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Konferensi Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di Semarang, 24 Februari 1954, melahirkan IPNU. Tolchah Mansoer adalah tokoh kunci sekaligus Ketua Umum pertama. Di tangannya, IPNU bukan hanya organisasi pelajar, tetapi laboratorium kaderisasi Ahlussunnah wal Jamaah yang berpijak pada Pancasila dan UUD 1945.
“Cita-cita IPNU adalah membentuk manusia berilmu yang dekat dengan masyarakat, bukan manusia calon kasta elit dalam masyarakat.”
Pidato itu ia sampaikan pada Muktamar IV IPNU di Yogyakarta tahun 1961. Kalimat tersebut menegaskan orientasi etik yang kuat. Pendidikan bukan untuk melahirkan aristokrasi sosial, tetapi pelayan umat. Dalam perspektif masyarakat sipil, gagasan ini relevan dengan konsep civic engagement. Intelektual muda harus hadir sebagai penggerak partisipasi publik, bukan sekadar penikmat status.
Berprinsip Terbuka Dalam Pergaulan
Tolchah Mansoer ditempa dalam tradisi pesantren, berguru kepada KH. Syukri Ghazali dan KH. Ma’sum Lasem. Santri PP Malang itu juga akrab dengan dinamika kampus modern, menempuh pendidikan di Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik UGM hingga meraih gelar doktor. Aktivitasnya di PII dan HMI Yogyakarta, membuktikan keluwesannya berdialog lintas organisasi. Inilah watak intelektual-inklusif yang jarang dimiliki. “Teguh pada prinsip, terbuka dalam pergaulan.”
Sebagai akademisi, almarhumah Hj. Umroh Mahfudzoh (Tokoh PPP DIY), mengajar di IAIN Sunan Kalijaga (kini UIN), IKIP Yogyakarta (kini UNY), Akademi Militer Magelang, hingga berbagai perguruan tinggi NU. Perannya tidak berhenti di ruang kelas. Ia mubaligh, penulis, dan penggerak Jam’iyah NU, terutama pasca fusi partai-partai Islam ke dalam PPP tahun 1973. Ketika NU kembali ke Khittah 1926 pada Muktamar ke-27 di Situbondo, ia termasuk tokoh yang membidani arah tersebut—menegaskan NU sebagai kekuatan sosial-keagamaan, bukan sekadar kendaraan politik.
Dalam perspektif religiusitas, pemikirannya menempatkan Islam sebagai etika sosial. Ahlussunnah wal Jamaah baginya bukan doktrin kaku. Nelainkan manhaj berpikir: tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil). Prinsip ini relevan dalam masyarakat majemuk Indonesia. Ia melihat pelajar NU harus memiliki kesalehan pribadi sekaligus kesalehan sosial—mampu membaca kitab, sekaligus membaca realitas kebangsaan.
Belajar Berjuang Bertaqwa
Secara kebudayaan, Tolchah Mansoer berdiri pada poros Islam Nusantara yang menghargai tradisi. Ia sadar bahwa kekuatan NU terletak pada akar budaya pesantren, kiai, dan jaringan sosial keumatan. Karena itu, kaderisasi IPNU dirancang tidak tercerabut dari kultur lokal, tetapi justru memperkuatnya. Pendidikan, dalam pandangannya, harus melahirkan insan berakhlak mulia, berilmu, dan berwawasan kebangsaan—selaras dengan visi IPNU: “Belajar, Berjuang, Bertaqwa.”
Kontribusinya terhadap negara terletak pada pembangunan sumber daya manusia. Ia membentuk generasi pelajar yang religius sekaligus nasionalis. Dalam konteks akademis, pendekatannya mencerminkan integrasi ilmu dan iman. Suatu sintesis antara rasionalitas hukum dan pragmatisme politik. Warisan intelektualnya menawarkan jalan tengah tentang pendidikan sebagai fondasi peradaban.
Pelajar Religius Berbudaya
Wafat pada 20 Oktober 1986 di RS Dr. Sardjito Yogyakarta karena penyakit jantung, ia dimakamkan di Dongkelan atas saran KH. Ali Maksum. Kepergiannya bukan akhir, melainkan jeda dari estafet perjuangan. Hari ini, ketika IPNU terus bergerak di sekolah, pesantren, dan kampus, spirit Tolchah Mansoer tetap relevan. Kader pelajar harus menjadi simpul masyarakat sipil yang religius, berbudaya, dan bertanggung jawab pada masa depan bangsa.
Meneladani beliau berarti meneguhkan kembali orientasi ilmu untuk kemaslahatan. Bukan menjadi elit yang berjarak, tetapi intelektual yang membumi. Sebab di situlah cita-cita IPNU dirawat—membangun manusia berilmu yang dekat dengan rakyat, menjaga agama, dan menguatkan negara.

Masjid Jadi Posko Kemanusiaan: Strategi Kemenag Reduksi Risiko Kecelakaan 