Catra Cendekia, Warta

Perdagangan Manusia Ancam Pekerja Migran Indonesia

catrawarta.com — Kesulitan memperoleh pekerjaan di dalam negeri menjadi salah satu penyebab tingginya minat bekerja di luar negeri. Indonesia menjadi salah satu...

PERDAGANGAN: Ilustrasi perdagangan manusia dijadikan budak atau pekerja seksual.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comKesulitan memperoleh pekerjaan di dalam negeri menjadi salah satu penyebab tingginya minat bekerja di luar negeri. Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang pekerja migran ke berbagai negara. Hanya saja, masih ada kendala yakni perdagangan manusia yang mengencam setiap pekerja.

Belum lama, beberapa orang menjadi korban perdagangan manusia ke Kamboja. Korban mendapat iming-iming bekerja di tempat nyaman, gaji besar. Akan tetapi, mereka dijebak, dibawa ke kompleks penipuan online terbesar di dunia. Ketika tak mau bekerja, mereka mendapat siksaan.

Ada lagi korban yang ternyata dipekerjakan sebagai budak seks. Lebih mengerikan, korban dijebak, diambil organ tubuhnya kemudian dibuang begitu saja. Praktik semacam itu mengancam para pekerja migran.

Prof Mashitah Binti Hamidi dari Universiti Malaya ketika berbicara dalam satu forum di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengungkapkan persoalan migrasi tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai isu domestik suatu negara.

Persoalan itu telah menjadi persoalan lintas batas yang membutuhkan kerja sama internasional. Malaysia sebagai negara penerima pekerja migran, menurutnya memiliki ketergantungan yang besar terhadap tenaga kerja asing. Mereka biasanya bekerja di sektor perkebunan, konstruksi, dan manufaktur.

”Di beberapa sektor tertentu, komposisi pekerja migran bahkan mencapai 80 persen. Pekerja asal Indonesia menjadi salah satu yang paling diapresiasi karena kemampuan adaptasi dan etos kerjanya,” papar Mashitah dikutip dari keterangan tertulis Humas UMY.

Praktik Perdagangan Manusia

Mashitah mengungkapkan, di balik tingginya kebutuhan pekerja migran, ada celah besar yang memicu praktik perdagangan manusia dan eksploitasi. Banyak pekerja migran yang awalnya datang secara sukarela terjebak dalam praktik kerja paksa.

Ia melihat banyak korban tidak memahami hak-hak mereka. Paspor ditahan, upah dipotong, bahkan ada yang bekerja bertahun-tahun tanpa menerima gaji secara layak. Kondisi tersebut merupakan bentuk modern slavery atau perbudakan modern.

Perdagangan manusia tak lepas dari perdagangan seksual yang melibatkan perempuan migran di kawasan Asia Tenggara. Praktik tersebut sering diawali dengan proses manipulasi, pendekatan emosional, hingga eksploitasi penuh. Menurutnya, persoalan tersebut sudah sangat mengkhawatirkan.

Penanganan perdagangan manusia, tegasnya, memerlukan kerja sama kuat antara negara pengirim dan negara penerima pekerja migran. Indonesia dan Malaysia harus membangun koordinasi yang lebih intensif dalam perlindungan pekerja migran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *