catrawarta.com — Siapa yang tak kenal Ustaz Muhammad Jazir ASP. Nyaris tak ada masyarakat Yogyakarta yang tak kenal ulama dan orator ulung tersebut. Bicaranya selalu menggelegar, membuat siapa pun yang mendengarnya tak akan beranjak.
Ustaz Jazir bukan hanya terkenal karena orasinya yang mirip-mirip Presiden pertama Indonesia Soekarno, tapi juga gaya merakyatnya. Ia mudah bergaul dengan siapa saja dari kalangan mana saja. Belum lama, ia meninggalkan umat dan warga Yogyakarta untuk selamanya, tepatnya 22 Desember 2025.
Namanya akan selalu dikenang. Ia merupakan inovator dan konseptor manajemen masjid. Ia memberdayakan umat sekitarnya. Ia mengajarkan kemandirian ekonomi yang jauh dari kata riba. Manajemen syariah menjadi pegangan dan solusi mengembangkan Masjdi Jogokariyan yang terkenal seantero Nusantara.
Atas sepak terjangnya tersebut, Masyarakat Ekonomi Syariah Daerah Istimewa Yogyakarta (MES DIY) bakal memberinya penghargaan. Dipimpin Ketua MES DIY, Prof Edy Suandi Hamid, mereka mengunjungi keluarga almarhum Ustadz Muhammad Jazir ASP.
Jadi Teladan Umat
Di depan istri almarhum, Sri Amini Yuni Astuti, para pengurus menyampaikan penghormatan, sekaligus penyampaian niat resmi organisasi untuk memberikan Penganugerahan Pengabdian dan Keteladanan Ekonomi Umat.
”Almarhum berkontribusi besar dalam penguatan fungsi masjid sebagai pusat pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat,” tutur Edy, mantan Rektor Universitas Islam Indonesia.
Hadir dalam kunjungan tersebut Ketua Dewan Pembina MES DIY Drs Herry Zudianto MM, Wakil Ketua MES DIY Priyonggo Suseno SE MSc PhD, Sekretaris Umum MES DIY Dandan Hermawan, Budiharto Setyawan selaku Ketua Departemen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Muhamamd Fauzi Abdullah selaku Sekretaris Eksekutif MES DIY.
Pada kesempatan itu, MES DIY menyampaikan bahwa penganugerahan direncanakan akan dilaksanakan pada Jumat, 27 Februari 2026, bertepatan dengan agenda Silaturahmi Kerja Wilayah dan buka puasa bersama.
Mengenang Perjuangan dan Warisan Almarhum
”Momentum tersebut kami pilih sebagai forum resmi organisasi untuk memberikan penghargaan secara terbuka sekaligus mengenang warisan pemikiran dan perjuangan almarhum,” ujar Edy.
Sepanjang kiprahnya, almarhum tidak hanya dikenal sebagai dai dan penggerak dakwah, tetapi juga sebagai inisiator, inovator dan konseptor model tata kelola masjid yang terintegrasi dengan kegiatan sosial, pendidikan, dan ekonomi.
Pendekatan tersebut menjadikan Masjid Jogokariyan dikenal secara nasional sebagai salah satu rujukan praktik pengelolaan masjid yang profesional dan berorientasi pelayanan jamaah. Model pengelolaan ini bahkan banyak dipelajari oleh pengurus masjid, lembaga filantropi, hingga institusi pendidikan, karena dinilai berhasil menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah ritual.

Indonesia Peringkat Dua TBC Tertinggi, Seluruh Daerah Harus Percepat Eliminasi 