Pena Catra

Politik Berubah Menjadi Panggung Citra, “Refleksi Gramsci di Era Algoritma”

catrawarta.com — Tanggal 27 April mengingatkan dunia pada wafatnya Antonio Gramsci (1937), seorang pemikir yang tidak pernah benar-benar “pergi”. Gramsci tidak mewariskan...

Futuristic conference scene with a mans portrait emerging from a circular holographic platform while an audience watches and screens display data
Ilustrasi politik berubah menjadi panggung citra, refleksi meninggalnya Antonio Gramsci - Sosiolog Perancis - 27 April 1937. Sumber: catrawarta.

catrawarta.comTanggal 27 April mengingatkan dunia pada wafatnya Antonio Gramsci (1937), seorang pemikir yang tidak pernah benar-benar “pergi”. Gramsci tidak mewariskan senjata, tetapi cara membaca kekuasaan. Intelektual Perancangan tidak membangun partai besar.  Intelektual Perancangan membongkar cara dominasi bekerja—diam-diam, halus, dan seringkali tanpa kita sadari.

Gramsci pernah menulis, “Pesimisme intelektual, optimisme kehendak.” Ia mengajak kita berpikir jernih melihat realitas, tetapi tetap berkehendak kuat untuk mengubahnya. Gramsci juga mengingatkan dengan sederhana. Jika kepala kita dibenturkan ke tembok, kepala kita yang pecah—bukan temboknya. Artinya, perubahan tidak bisa naif. Perubahan harus strategis. 

Hari ini, pemikiran itu justru menemukan rumah barunya yaitu dunia digital.

Kekuasaan tidak lagi tampil hanya dalam bentuk aparat, hukum, atau kekerasan. Kekuasaan hadir dalam timeline, dalam trending topic, dalam video 30 detik yang kita tonton tanpa berpikir. Inilah yang disebut Gramsci sebagai hegemoni: ketika yang dikuasai tidak merasa sedang dikuasai. Mereka justru merasa “setuju”.

Di Indonesia, fenomena ini terlihat terang. Narasi politik tidak lagi ditentukan di komunitas parlemen, tetapi di media sosial. Influencer, buzzer, dan algoritma membentuk persepsi publik lebih kuat daripada debat kebijakan. Orang tidak lagi bertanya “apa yang benar?”, tetapi “apa yang viral?”.

Gramsci menyebut proses ini sebagai pembentukan common sense—akal sehat yang sebenarnya hasil konstruksi. Ketika masyarakat menganggap sesuatu itu “wajar”, padahal itu hasil rekayasa narasi, di situlah hegemoni bekerja sempurna.

Kita bisa melihatnya dalam banyak hal. Polarisasi politik yang tajam, misalnya, sering kali tidak lahir dari perbedaan ideologi mendalam, tetapi dari narasi yang terus diulang. Kebencian diproduksi, disebarkan, lalu diterima sebagai kebenaran. Orang merasa membela nilai, padahal sedang mengulang skrip yang ditulis pihak lain.

Lebih jauh lagi, hegemoni juga bekerja dalam pendidikan dan ekonomi. Banyak anak muda diarahkan untuk menjadi “siap kerja”, tetapi jarang diajak berpikir kritis tentang sistem kerja itu sendiri. Mereka dilatih menjadi bagian dari mesin, bukan pengendali arah mesin. Ini yang oleh Gramsci bisa disebut sebagai reproduksi kekuasaan melalui institusi budaya.

Di titik ini, kita perlu mengingat satu gagasan penting Gramsci: peran intelektual organik. Gramsci mengatakan, “Semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua memiliki fungsi intelektual dalam masyarakat.” Artinya, setiap orang punya kemampuan berpikir, tetapi tidak semua menggunakan pikirannya untuk membela kepentingan publik.

Intelektual organik tidak selalu lahir dari kampus. Intelektual bisa muncul dari jurnalis independen, kreator konten kritis, komunitas literasi, bahkan warga biasa yang berani melawan arus informasi palsu. Mereka inilah yang membangun counter-hegemony—hegemoni tandingan.

Namun Gramsci juga mengingatkan bahaya besar dalam masa krisis. Ia menulis bahwa ketika kelas sosial terlepas dari representasinya, situasi menjadi “rumit dan berbahaya”. Dalam kondisi seperti itu, peluang terbuka bagi “tokoh-tokoh takdir” yang karismatik—figur yang menawarkan solusi cepat, tetapi sering kali dangkal.

Bukankah ini terasa akrab?

Ketika publik kehilangan kepercayaan pada institusi, mereka mencari figur. Ketika rasionalitas melemah, emosi mengambil alih. Politik berubah menjadi panggung citra, bukan arena gagasan. Di sinilah demokrasi bisa tergelincir tanpa disadari.

Gramsci tidak menawarkan utopia. Gramsci justru mengajak kita mulai dari kesadaran diri. Ia menulis, titik awal berpikir kritis adalah “mengenal diri sendiri sebagai produk sejarah”. Kita tidak netral. Cara kita berpikir dibentuk oleh lingkungan, budaya, dan kekuasaan yang bekerja di sekitar kita.

Maka, refleksi atas wafatnya Gramsci bukan sekadar mengenang tokoh. Ini soal membaca ulang realitas. Kita hidup di zaman ketika kekuasaan tidak memaksa kita tunduk—ia membuat kita ingin tunduk.

Dan di tengah itu semua, pesan Gramsci tetap relevan: berpikirlah dengan tajam, tetapi jangan kehilangan harapan. Karena perubahan tidak lahir dari mereka yang sekadar memahami dunia, tetapi dari mereka yang berani mengubahnya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *