catrawarta.com — Pertemuan Megawati Soekarnoputri dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Keraton Yogyakarta pada 22 Mei 2026, nampaknya menyedot perhatian publik. Pertemuaan tokoh bangsa yang akrab semenjak belia di tengah gersangnya iklim politik nasional ini seolah mengirim sinyal tentang banyak hal.
Jamak dipahami peta politik nasional banyak didominasi oleh narasi yang hampir semuanya lepas dari ekspektasi publik. Suara wakil rakyat nyaris tak terdengar meski beragam masalah tengah membelit rakyat. Presiden Prabowo Subianto, seperti biasa, hadir dengan wacana, janji dan rencana meski segala kekuasaan nyaris berada di tangannya. Orang sampai bertanya, ini apa bedanya masa kampaye dengan masa berkuasa. Di sisi lain partai politik, pers dan kalangan akademisi seperti kehilangan peran kebangsaannya.
Dalam konfigurasi politik nasional yang monoton dan stagnan itu, Megawati merapat ke Keraton Yogyakarta untuk menemui sahabat lamanya. Hangat bersahabat, akrab nemun masing-masing tak bisa melepaskan kharismanya. Keduanya, bersama Amien Rais dan Gus Dur pernah menyedot perhatian publik saat pertemuan Ciganjur pada 10 November 1998 untuk menata kekuatan sipil selepas tumbangnya Soeharto. Lalu, pesan apa yang bisa dibaca dari Pertemuan Keraton pada 22 Mei 2026?
Pertama, keprihatinan atas kehidupan bangsa dan negara yang kian jauh dari falsafah negara Pancasila. Kita tahu kapasitas dan komitmen kedua tokoh yang sama-sama dilahirkan pendiri bangsa ini. Indonesia yang dicita-citakan kedua orang tuanya, Soekarno dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, bukan seperti sekarang ini. Pemimpin tanpa keteladanan, penyimpangan dibiarkan, hukum diabaikan, dan kehidupan rakyat yang kian terjepit dalam kesulitan. Itu lebih dari cukup untuk menjadi pertemuan keduanya.
Kedua, ketiadaan keharmonisan di antara para pejabat negara menjadikan kehidupan bangsa penuh kasak-kusuk, tanpa haluan dan berjalan zig-zag. Korupsi tetap menjadi misteri kenapa sulit ditangani, sedang postur APBN sudah mengalami defisit sebesar Rp164,4 triliun pada April 2026. Dalam kondisi seperti itu, efisiensi yang sempat direncanakan masih jauh panggang dari api. Hal ini bisa dilihat dari pelaksanaan program MBG dan KDMP yang tiba-tiba belanja kendaraan tanpa tahu kegunaan.
Ketiga, kehancuran ekologis akibat nafsu pembabatan hutan atau perkebunan sawit tidak saja telah mencerai-beraikan keanekaragaman flora fauna tetapi juga menghancurkan cadangan masa depan untuk anak cucu. Utang kita semakin besar, lapangan kerja menyempit, dan alam mengalami kerusakan. Dalam konteks ini, kedua tokoh bangsa merasa terpanggil untuk menyuarakan.
Lebih dari sekedar daerah istimewa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, Yogyakarta adalah oase peradaban bagi bangsa ini. Lebih dari empat tahun, saat menjadi ibukota negara, Yogyakarta menopang kebutuhan dan kehidupan negara. Tak banyak yang tahu, APBN pertama kita didanai dengan khas keraton. Tanah dan gedung milik kesultanan dipakai untuk operasional kementerian.
Lalu, setelah uang keraton habis, Indonesia kembali ke Jakarta pada 1949. Itulah kenapa Bung Karno sangat hormat pada Ngarsa Dalem IX. Itulah kenapa Megawati dan Sri Sultan menjalin hubungan yang hangat dan akrab.
Kita berharap, kedua tokoh mampu memayungi kehidupan bangsa. Memberikan inspirasi dan pemikiran agar Indonesia segera bangkit tegak berdiri dan mandiri. Tak bisa dibiarkan nasib ratusan juta anak bangsa tergadai oleh korporasi asing hanya karena pemimpinnya gagal dalam membaca dan memaknai Pancasila. Semoga.
Ksatrian Sendaren, 25 Mei 2026

Mengulik Cara Ismail Marzuki Mencintai Negeri Ini 