catrawarta.com — Hidup dalam pengungsian bagi anak-anak tentu sangat tidak nyaman, apalagi hanya dengan baju yang menempel di badan. Inilah yang dialami anak-anak korban bencana Sumatra.
Bencana meninggalkan dampak psikologis, terutama bagi anak-anak. Hilangnya rasa aman, terhentinya aktivitas harian, serta perubahan lingkungan secara drastis memicu tekanan emosional yang masih dirasakan sampai sekarang.
Kondisi pascabencana pun belum sepenuhnya pulih. Aliran listrik baru kembali normal beberapa hari terakhir, sementara akses air bersih masih terbatas. Situasi ini membuat proses pemulihan tidak hanya berfokus pada kebutuhan fisik, tetapi juga pada kesehatan mental, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak.
Dosen Keperawatan UMY yang tergabung dalam Tim UMY Rescue 2025, Shanti Wardaningsih PhD mengungkapkan anak-anak kerap kesulitan mengekspresikan rasa takut dan cemas yang dialami setelah bencana.
“Pengalaman banjir dapat memicu ketakutan berkepanjangan, gangguan tidur, hingga perubahan perilaku jika tidak ditangani sejak dini. Karena itu, intervensi psikososial menjadi bagian penting dalam pemulihan pascabencana,” tandasnya.

Kesehatan Jiwa
Merespons kondisi di lokasi bencana, UMY Rescue 2025 menghadirkan layanan Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) bagi anak-anak terdampak banjir di Masjid Nurul Iman, Dusun Bukit Suling, Kecamatan Rantau, Tamiang, Aceh. Sebanyak 40 anak mengikuti kegiatan yang dikemas melalui play therapy dan art therapy.
Anak-anak diajak menggambar, menceritakan hasil karya mereka, serta menyampaikan harapan untuk masa depan. Kegiatan tersebut memberi ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan.
“Dari situ, kami membantu menumbuhkan kembali rasa aman, keberanian, dan harapan,” ujar Shanti sembari menambahkan, tim juga membagikan alat tulis berupa pensil warna sebagai sarana ekspresi.
Selain dukungan psikososial, UMY Rescue 2025 memberikan edukasi kesehatan gigi secara interaktif melalui kegiatan menari dan bernyanyi agar mudah dipahami anak-anak.
Tidak hanya fokus pada anak, tim juga bekerja sama dengan Puskesmas Rantau dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Sebanyak 78 warga mendapatkan pengobatan dengan keluhan terbanyak berupa batuk pilek, demam, sakit kepala, nyeri badan, hipertensi, dan penyakit kulit.

Demokrasi dan Perlindungan Kelompok Minoritas 