Warta

Cegah Virus Hanta, Kemenkes Pantau Jalur Masuk

catrawarta.com — Temuan kasus cirus Hanta di Jakarta membuat semua pihak segera melakukan antisipasi. Salah satunya, memperketat pemantauan di jalur masuk Indonesia...

Person washing hands with soap at a bathroom sink water running from the faucet nearby
CUCI: Jangan lupa cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir guna mencagah terpapar virus Hanta.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comTemuan kasus cirus Hanta di Jakarta membuat semua pihak segera melakukan antisipasi. Salah satunya, memperketat pemantauan di jalur masuk Indonesia di berbagai bandara, laut, darat.

Pemantauan dan pengawasan menggunakan thermal scanner, pengamatan visual, dan sistem surveilans pelaku perjalanan. Kecuali itu, pemerintah juga menyiapkan jejaring laboratorium dengan kemampuan pemeriksaan PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS).

Ada sebanyak 198 rumah sakit jejaring pengampuan penyakit infeksi emerging di seluruh Indonesia. Mereka dipersiapkan guna mengantisipasi keberadaan virus Hanta.

Berbagai sumber menyebutkan, virus Hanta kelompok virus yang ditularkan melalui kencing, kotoran, air liur dan gigitan tikus. Seseorang yang terpapar virus tersebut bisa menderita pernapasan berat, semacam demam berdarah dan gangguan ginjal.

Virus itu bisa mengakibatkan kefatalan. Gejala awal virus Hanta mirip dengan gejala flu. Seseorang yang mengalami gejala sebaiknya segera melakukan pemeriksaan ke rumah sakit atau dokter. Dengan begitu bisa dilakukan penanganan lebih dini.

Kesiapan secara Nasional

Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr Andi Saguni menegaskan, pihaknya terus memperkuat kesiapsiagaan nasional mulai dari surveilans, laboratorium, hingga layanan Kesehatan.

”Ini agar setiap potensi kasus dapat ditangani secara cepat dan tepat,” tandas Andi.

Ia minta masyarakat menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya. Upayakan menyimpan makanan dalam kondisi tertutup.

Kendati sudah ada kasus, ia minta masyarakat tidak panik. Tetap tenang dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Pencegahannya sederhana, selalu cuci tangan pakai sabun, membersihkan tempat yang biasa dilalui atau ditempati tikus.

Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang 2024 hingga 2026 tercatat 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS yang tersebar di sejumlah wilayah. Daerah itu meliputi DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Tren konfirmasi juga menunjukkan peningkatan, dari 1 kasus pada 2024 menjadi 17 kasus pada 2025 dan 5 kasus hingga Mei 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *