Warta

Terus Melemah, Rupiah Menyentuh 17.960 per Dolar AS

catrawarta.com — Mata uang Indonesia rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada Rabu (3/6/2026), rupiah menyentuh pada 17.960 per dolar AS....

Fanned stack of $50 bills held in a hand with a yellow upward arrow symbolizing financial growth
PERKASA: Ilustrasi dolar AS terlihat perkasa, rupiah terus melemah.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comMata uang Indonesia rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada Rabu (3/6/2026), rupiah menyentuh pada 17.960 per dolar AS. Hal ini menjadikan mata uang tersebut terlemah di Asia.

Sebelumnya, menurut idx_channel, rupiah pada perdagangan Rabu (3/6/2026) tembus Rp 17.930 per dolar AS hingga pukul 11.00 WIB. Kemudian pada pukul 16.08 berada pada Rp 17.960,58.

Masih dari idx_channel, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik.

Selain itu, senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal.

Menurutnya, Bank Indonesia terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan.

Sentimen Negatif

Para pakar mengungkapkan kecuali faktor eksternal, faktor internal juga sangat mempengaruhi pelemahan rupiah. Ekonom Y Sri Susilo mengungkapkan program yang mendapat sentimen negatif yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Ia meyakini ketika dua program itu dihentikan, rupiah bakal menguat. Kondisi ini sebenarnya hampir sama ketika Presiden ke-3 Indonesia, BJ Habibie melepas program pesawat terbang yang menjadi unggulannya. Dalam wawancara dengan Najwa Shihab, ia mengatakan harus melepas program itu demi rakyat Indonesia.

Pengamat lain menurut catatan kompas.com, Ibrahim Assuaibi melihat faktor eksternal yang kuat yakni naiknya harga minyak dunia. Perang AS dan Iran yang tidak menunjukkan perkembangan membaik membuat krisis tak hanya terjadi di Indonesia tetapi global.

Pelaku investasi John Rahmat dalam wawancara di akun kisahanakrantau__ mengungkapkan banyak rintangan berinvestasi di Indonesia. Ia menyebut salah satunya preman yang menurutnya sangat mengganggu iklim investasi di Indonesia.

Di samping preman, ia juga menilai kepastian hukum sangat rendah. Tuduhan-tuduhan pada berbagai perusahaan yang tidak dibuktikan di depan pengadilan membuat investor enggan berinvestasi. Ketika kepastian hukum berjalan baik, investor tentu tak ragu-ragu menggelontorkan uangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *