catrawarta.com — Surplus informasi tidak selamanya baik. Kita hidup di dunia dengan akses informasi yang menumpuk dan terlalu cepat. Hari-hari penuh dengan scroll medsos, nonton Youtube, dan Membaca artikel click bait di portal iklan. Memang mata kita tidak pernah berhenti membaca, telinga juga tidak pernah berhenti mendengar, tapi kemampuan berpikir kritis kita yang berhenti. Fenomena inilah yang secara umum orang sering menyebutnya Brain Rot.
Bagaimana mau berfikir, setiap informasi datang langsung disambut informasi baru lainnya. Ruang berfikir yang hilang ini menciptakan ilusi wawasan yang ramai tetapi tidak signifikan. Informasi yang tidak terverifikasi, karena tidak disertai data dan sumber yang jelas.
Lalu kenapa orang bisa larut dengan system yang merusak dengan perlahan ini? Jawabannya karena informasi yang disuguhkan singkat lebih sederhana untuk dicerna. Dampak buruk yang bisa langsung dirasakan adalah, yang pasif secara tidak sadar menjadi pribadi yang disetir dan tidak berdaya dalam eksistensi. Hanya menjadi objek dalam arus algoritma.
Kehidupan di Bumi sudah membuktikan selama jutaan tahun, tidak ada yang instan. Perlu ratusan ribu tahun untuk manusia bisa membuat api dari kompor. Kalau mau menjadi pebisnis yang sukses tidak cukup dengan hanya rebahan sambil nonton konten tips-tips bisnis. Konten kreator hanya menyajikan yang enak-enak saja, agar kita membeli kontennya. Kebutuhan dia jualan konten sedangkan kita termakan ilusi sukses cepat. Kita ini hidup di dunia bukan di surga.
Kenapa buku menjadi antitesis dari wabah Brain Rot ini?
Karena buku memiliki gaya informasi yang lengkap secara data, sumber, dasar yang kuat. Buku tidak dibangun hanya dengan 2 atau 3 kalimat saja. Buku dibangun dengan rangkaian kesinambungan dari tiap halamannya. Ada proses panjang yang menguatkan dan mengintegrasikan naskah pengantar, isi, dan kesimpulannya.
Manusia dapat bertahan hidup karena kemampuan kognitif yang baik. Namun, kemampuan kognitif tidak serta-merta berkembang dengan sendirinya. Diperlukan treatment atau latihan khusus untuk melatih dan meningkatkannya.
Membaca buku dapat memberikan treatment untuk pengembangan kognisi secara signifikan. Gaya informasi yang kronologis dalam buku membiasakan kita memetakan hubungan sebab-akibat, yang tentu sangat bermanfaat untuk melatih berfikir strategis. Yang nantinya akan mempermudah kita dalam mengambil keputusan dan problem solving.
Berpikir itu harus sabar, seperti yang diajarkan buku. Kita tidak bisa langsung lompat diakhir tanpa bekal yang cukup dan matang. Membaca buku memang berat, tapi lebih parah mana kalau kita merasa cukup dengan konten-konten dangkal dan menyesatkan.
Di tengah kesibukan dunia yang semuanya serba tergesa-gesa ini, membaca buku bukan sekadar aktivitas intelektual, tapi ini treatment untuk merawat kewarasan. Lawan lah dunia yang menumpulkan ini dengan kesunyian buku bacaan kita. Dengan kognisi yang terus terasah, pasti kita akan terus relevant dan tanggap dengan perubahan zaman.

“Tantra” Adi Candra: Melukis Rasa Mematri Puja 