Etalase, Warta

“Tantra” Adi Candra: Melukis Rasa Mematri Puja

catrawarta.com — Ada lompatan dan pencapaian yang dilakukan perupa Bali, I Ketut Adi Candra. Tidak lagi mengeksplorasi nuansa keindahan Bali, yang memang...

Transformasi spiritual membawa Adi Candra melampaui estetika Bali menuju pengalaman melukis yang kontemplatif

catrawarta.comAda lompatan dan pencapaian yang dilakukan perupa Bali, I Ketut Adi Candra. Tidak lagi mengeksplorasi nuansa keindahan Bali, yang memang indah dan berkarakter, Adi membawa warna etnik ke arah sublim, dalam, dan karenanya kontemplatif.

Pernah, dia datang ke rumah untuk berdiskusi tentang pamerannya di Tembi. Bersama perupa Jogja, Agus Nuryanto, dia pameran bertajuk Pori art Pori (14 Nopember – 4 Desember 2018). Saat itu, dia memasuki masa transisi, warna Bali belum hilang tetapi samar terlukis ada upaya keluar dari keajegan. Saat di rumah, dia meminta untuk menafsirkan karyanya ke dalam puisi. Dia sediakan back sound agar saat pembacaan puisi dalam opening lebih mengena.

Cukup lama saya mengamati beberapa lukisannya yang dikirim via whatsapp. Ada sebuah lukisan yang memikat, pura dengan lanskap Bali dengan siluet dan cahaya memancar dari atas. Puisi pun lahir dan saya beri judul “Semesta Cahaya”. Tak sengaja saya melacak proses spirtual, yang dia jalani, ada ruang terbuka dalam dirinya. Ada jiwa yang mau berlari dan terbang. Tapi, kemana Adi akan menapaki perjalanan?

Baru pada pameran tunggal ke-11 Adi Candra berkata jujur pada saya. Di sebuah kafe di Prawirotaman, Adi bicara panjang lebar tentang proses kreatifnya. Ada sesuatu yang baru yang dia masuki, dan itu memerlukan pengurbanan. Beragam pukulan dialami dalam hidup, berbagai peristiwa membentur jiwanya, hingga muncul kesadaran dan cahaya baru. Tantra.

Lebih dari sekedar rangkaian puja doa, Adi berhasil mentransformasikan tantra menjadi sumber energi. Tidak saja bagi perjalanan dirinya, tetapi juga saat menjalani proses kreatif melahirkan karya. Dan yang terakhir, benar-benar dia buktikan. Sesekali dia kirim foto atau video saat melukis dengan iringan musik yang biasa dipakai untuk yoga. Total dan ada kepuasan saat dia menyelesaikan karyanya. Pameran tunggal ke-11 dia gelar di Jogja Galeri (3-13 Oktober 2025), terbilang sukses. Ratusan karya bertema tantra dia pajang, beragam acara pendukung diinisiasi, dan dia bangga karenanya. “Saya bisa menaklukkan Jogja sesuai tantangan Mas Nasirun”. Dalam puisi “Tantra Adi Candra” saya menafsirkan dan mengangkat semesta tantra dalam karya Adi Candra.

Adi Candra bergerak dan mengalami transformasi spiritual. Tak lagi berkutat pada alam dan lingkungan Bali, yang indah memukau dari sananya, dia lebih kuat mendengar suara jiwa lalu meramunya dengan irama semesta, dan menyapukan getaran batinnya ke dalam kanvas. Memandang lukisannya dari dekat terlihat abstrak, tetapi jika kita mundur 4-10 m, baru akan menemukan nuansa gaib spiritual yang memancar darinya. Ada gairah melukis yang meronta. Ada cinta yang menjalar di setiap gerak tangannya. Bahkan, dia guratkan mantra pada karyanya dalam corak halus dan mendalam.

Tantra memang banyak dipercaya dan dipraktikkan untuk dijadikan media penyembuhan dan keseimbangan akibat tekanan dalam hidup. Saat jiwa merontak karena impian dan cita-cita tak sesuai dengan kenyataan, olah rasa dan olah batin bisa jadi merupakan kanal yang baik. Saat stres akibat adanya senggang antara harapan pada elite, agar fokus menyelesaikan masalah rakyat, dengan kebiasaan omon-omon yang tak ada juntrungnya, meditasi dan tantra bisa dicoba.

Hidup ini milik kita. Kebahagiaan itu soal rasa dan sepenuhnya tergantung pada kita. Jiwa kita merdeka, saatnya diberi ruang agar bebas terbang tanpa sekat ketakutan. Terlalu sayang kita menyerah pada keadaan. Terlalu remeh kita takut pada bayangan sendiri. Bila tak ingin hadapi kesulitan, jangan hidup. Bukankah sejak manusia lahir, keluar dari rahim kasih sayang, ia langsung dihadapkan pada masalah dan kesulitan. Tuhan memberi bekal hati dan akal pikiran agar kita gunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah itu. Dalam beberapa hal, Adi Candra bisa diteladani.

Lahir pada 4 April 1976 di Bangli Bali, I Ketut Adi Candra telah mengalami pencapaian dan lompatan penting dalam proses kreatifnya. Ramah dan mudah bergaul, tanpa membedakan warna, dia memang tergolong pelukis yang kreatif dan berdaya jelajah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *