catrawarta.com — Sampah menjadi bagian akrab masyarakat Indonesia. Di manapun ada sampah, bahkan di tengah laut dan puncak gunung. Sebagian besar masyarakat, dari kalangan apa saja, belum bisa memperlakukan sampah secara baik.
Berbagai data menyebutkan, sebanyak 336 kabupaten/kota atau 65,4 persen dari total wilayah administrasi dalam status darurat sampah. Kecuali keterbatasan lahan tempat pembuangan, peningkatan volume sampah yang pesat dan minimnya pemilahan tingkat rumah tangga menjadi penyebab utama.
Akibatnya, banyak daerah menghadapi krisis serius dalam pengelolaan sampah termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Isu pengelolaan sampah menjadi tantangan besar pemerintah dan masyarakat.
Banyak pihak melakukan inovasi pengelolaan sampah namun belum sampai benar-benar bisa melakukan eksekusi secara massal. Terobosan terbaru dilakukan Dosen Departemen Manajemen FEB UGM, Luluk Lusiantoro PhD bersama tim peneliti.
Manfaatkan AI untuk Kelola Sampah
Mereka mengembangkan aplikasi yang memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI untuk pengelolaan sampah. Aplikasi diberi nama Westa, dirancang sebagai solusi untuk pengelolaan sampah.
”Pengembangan Westa berangkat dari keprihatinan pada kondisi pengelolaan sampah yang belum tertata dengan baik. Proses identifikasi jenis sampah dilakukan secara manual oleh petugas pengumpul sampah atau pengepul sehingga memerlukan waktu lama,” papar Luluk.
Tim mengembangkan aplikasi Westa yang dapat mengidentifikasi sampah secara lebih cepat dan praktis. Pengguna cukup memotret sampah menggunakan kamera gawai, kemudian sistem AI secara otomatis akan mengenali jenis sampah melalui teknologi computer vision.
Bisa Membaca Berat Sampah
”Aplikasi Westa bahkan dapat mengestimasi berat sampah dari hasil pemotretan,” jelasnya.
Luluk memaparkan, data mengenai berat sampah memiliki peran penting karena digunakan untuk menghitung estimasi emisi karbon dari limbah. Tim peneliti menggunakan emission factor dari Environmental Protection Agency sebagai acuan perhitungan emisi karbon.
Aplikasi karya tim tersebut juga dirancang dapat mengidentifikasi merek produk yang menghasilkan sampah. Identifikasi penting guna memperlihatkan merek apa saja yang menjadi penghasil sampah.
Hal itu dapat membantu menelusuri produsen yang produknya banyak menghasilkan limbah. Kemampuan ini berkaitan dengan konsep Extended Producer Responsibility (EPR) dalam ekonomi sirkular.
”Produsen tidak hanya bertanggung jawab pada tahap produksi dan distribusi, tetapi juga terhadap lingkungan setelah tahapan konsumsi,” tandas Luluk.
Data yang terkumpul dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan merumuskan kebijakan pengelolaan sampah. Lebih dari itu, pemerintah bisa mengidentifikasi produk yang menghasilkan limbah besar sehingga dapat mendorong produsen bertanggung jawab mengelola sampah hasil produksinya.

Penularan Campak Mirip dengan Covid-19, Terapkan Pola Hidup Sehat 