catrawarta.com — Sejumlah kampus menemukan kecurangan tes Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Pelaku menggunakan berbagai cara agar bisa lolos tes dan diterima di perguruan tinggi negeri.
Merespons kondisi tersebut, UGM menggelar monitoring dan evaluasi besar-besaran pada pelaksanaan UTBK SNBT. Kampus memastikan integritas ujian di tengah ancaman kecurangan yang semakin canggih.
Kegiatan pemantauan berlangsung dari Balairung UGM sebelum menyisir sejumlah lokasi ujian di lingkungan kampus. Pimpinan universitas terjun langsung meninjau ruang berbasis komputer guna memeriksa kesiapan perangkat, sistem pengawasan, serta kondisi fisik para peserta selama ujian berlangsung.
Tahun ini, UGM melayani 15.502 peserta yang tersebar di 14 lokasi dan 44 ruang ujian. Dengan intensitas dua sesi per hari dan kapasitas 1.452 orang per sesi, celah kecurangan menjadi fokus utama yang diantisipasi oleh panitia lokal.
Pengawasan Lebih Ketat
Rektor UGM, Prof Ova Emilia menegaskan pengawasan tahun ini jauh lebih ketat dibandingkan tahun sebelumnya. Mitigasi mulai dari pemeriksaan berlapis sebelum peserta memasuki ruang ujian hingga sterilisasi barang bawaan dari jangkauan peserta.
”Dengan perkembangan teknologi saat ini, potensi kecurangan bisa semakin beragam. Karena itu, pengawasan kami lakukan lebih ketat sejak sebelum ujian,” tandas ujar Ova di sela-sela peninjauan yang mengajak media dan juga Humas UGM.
Kampus menegaskan praktik perjokian menjadi perhatian serius. Panitia telah menyusun strategi evaluasi berkelanjutan untuk menutup celah sekecil apa pun yang bisa dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab demi menjaga kredibilitas seleksi nasional.
”Kami melihat pelaksanaan tahun ini semakin baik karena berbagai upaya perbaikan terus dilakukan secara konsisten, terutama dalam aspek pencegahan kecurangan,” jelas Rektor.
Praktik Kecurangan Terorganisir
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof Wening Udasmoro menambahkan integritas pendidikan harus dibangun sejak tahap seleksi. Ia menekankan tantangan terbesar sekarang yakni praktik kecurangan yang terorganisasi secara sistemik.
”Yang paling penting membangun kesadaran pendidikan harus dijalankan dengan jujur sejak awal. Komitmen menjunjung kejujuran harus terus diperkuat,” tegas Wening.
Sementara itu, Direktur Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof Gandes Retno Rahayu menjelaskan keamanan digital juga diperkuat. Sistem komputer dan jaringan telah diperbarui guna meminimalkan celah teknologi yang kerap dieksploitasi untuk mencurangi hasil ujian.
”Kami memastikan sistem yang digunakan lebih aman dan terkendali. Stabilitas sistem dan konektivitas menjadi kunci agar ujian dapat berlangsung tanpa hambatan sekaligus mencegah intervensi luar,” ujarnya.
Selain keamanan, UGM tetap menjaga aspek inklusivitas dengan memfasilitasi peserta disabilitas fisik dan tuli secara optimal. Komitmen ini bertujuan agar seluruh peserta, tanpa terkecuali, dapat berkompetisi secara sehat dan jujur sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Tanpa Al-Qur’an, Sains Kehilangan Arah: “Seruan Mengembalikan Ilmu ke Akar Wahyu” 