catrawarta.com — Al-Qur’an tidak boleh berhenti sebagai kitab ritual yang dibaca tanpa daya dorong bagi kemajuan ilmu. Ia harus dikembalikan ke posisi strategisnya sebagai sumber inspirasi lahirnya riset, inovasi, dan peradaban. Gagasan ini ditegaskan Sukamta, Wakil Ketua Biro Pengembangan Organisasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam podcast Center for Integrative Science and Islamic Civilization (CISIC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (24/04).
Dalam dialog tersebut, Al-Qur’an ditempatkan bukan sekadar sebagai petunjuk moral, tetapi sebagai energi intelektual yang seharusnya menggerakkan etos keilmuan umat Islam. Sukamta menekankan bahwa kitab suci ini membawa kebenaran fundamental yang menjadi fondasi lahirnya peradaban. Tanpa ilmu, peradaban mustahil tegak—dan salah satu sumber inspirasi. ilmu itu, menurutnya, jelas berasal dari Al-Qur’an.
Ia mengingatkan bahwa lebih dari 700 ayat Al-Qur’an berbicara tentang fenomena alam—dari air, langit, dan bumi, hingga matahari dan waktu. Bagi Sukamta, penyebutan ini bukan hiasan teologis, melainkan isyarat intelektual agar manusia berpikir, meneliti, dan mengeksplorasi. “Alam yang disebut dalam Al-Qur’an itu bukan sekadar narasi, tapi undangan riset,” tegasnya.
Di lingkungan akademik, pesan ini seharusnya menjadi pemantik lahirnya penelitian-penelitian modern. Istilah seperti besi, gunung, atau air bukan sekadar simbol, tetapi pintu masuk bagi eksplorasi ilmiah yang dapat menghadirkan kemaslahatan bagi manusia.
Namun, Sukamta juga mengingatkan bahaya dua ekstrem yang kerap muncul. Pertama, sikap berlebihan yang memaksakan seluruh temuan sains modern sudah termaktub secara literal dalam Al-Qur’an. Kedua, pendekatan sekuler yang memisahkan total ilmu pengetahuan dari nilai ketuhanan.
Menurutnya, posisi yang tepat adalah integrasi: ilmu dan iman harus berjalan beriringan. Sains bersifat netral, tetapi arah penggunaannya ditentukan oleh nilai. Tanpa iman, ilmu berpotensi menjadi alat kehancuran; sebaliknya, dengan iman, ilmu menjadi jalan kemaslahatan.
Ia mengutip pesan Al-Qur’an tentang ditinggikannya derajat orang beriman dan berilmu sebagai penegasan bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan. Iman adalah akar, sementara ilmu adalah batang. Jika salah satunya hilang, bangunan peradaban akan rapuh.
Kritik tajam juga diarahkan pada kondisi umat saat ini yang kerap membalik urutan: mengejar ilmu tanpa fondasi iman. Padahal, menurut Sukamta, kekuatan peradaban Islam di masa lalu justru terletak pada keberhasilan menyatukan keduanya.
Ia mencontohkan era keemasan Islam yang melahirkan ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Ibnu al-Haitam, dan Al-Khawarizmi—figur-figur yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga menjadi pelopor dalam bidang kedokteran, optika, dan matematika. Mereka adalah bukti bahwa integrasi wahyu dan akal mampu melahirkan lompatan peradaban.
Sebaliknya, kemajuan ilmu tanpa iman justru melahirkan ancaman global—mulai dari senjata pemusnah massal hingga teknologi yang menimbulkan ketakutan baru.
Dalam konteks perguruan tinggi Islam, Sukamta menegaskan bahwa integrasi ilmu dan wahyu tidak boleh berhenti pada simbolisme. Menempelkan ayat dalam proposal riset saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah integrasi substantif—di mana Al-Qur’an benar-benar menjadi landasan berpikir dan arah penelitian.
Ia mengapresiasi langkah UMY yang mulai mendorong dosen mengaitkan riset dengan ayat dan hadis, namun menilai hal itu perlu ditingkatkan hingga pada level metodologis dan implementatif.
Ke depan, ia menawarkan tiga langkah kunci: membangun budaya membaca Al-Qur’an di kalangan akademisi, memperkuat riset berbasis integrasi ilmu dan wahyu, serta memastikan evaluasi yang ketat agar integrasi tersebut tidak berhenti sebagai formalitas.
Jika dilakukan secara konsisten, ia optimistis akan lahir ekosistem riset baru—sebuah “gudang peradaban” yang mengawinkan wahyu dan ilmu secara nyata. “Di situlah masa depan peradaban Islam dipertaruhkan,” pungkasnya. (Muhammadiyah.or.id)

Pemerintah Perkuat Akses Pendidikan untuk Menekan Angka Anak Tidak Sekolah 