catrawarta.com — Ketegangan global mencapai titik kritis menyusul operasi militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran sejak akhir Februari 2026. Menanggapi situasi tersebut, Ekonom UGM, Muhammad Edhie Purnawan, menegaskan Indonesia harus berani menentukan sikap tegas dan tidak boleh terjebak dalam keraguan geopolitik.
Ia menekankan Indonesia wajib menolak setiap tatanan dunia yang menempatkan satu kekuatan di atas kedaulatan bangsa lain. Menurutnya, memiliki pendirian yang jelas jauh lebih terhormat daripada sekadar diam menyaksikan ketidakadilan.
”Kedaulatan Indonesia adalah prinsip yang telah ratusan tahun dijaga, ditempa penjara penjajah, dan dibayar dengan darah para syuhada. Berdiri tegak di atas geopolitik perdamaian adalah sumpah di hadapan sejarah,” ujar Edhie dengan tegas.
Ia menambahkan sebagai bangsa yang lahir dari luka penjajahan, Indonesia harus menjadi suara bagi mereka yang hak-haknya masih terenggut.
Posisi Tawar Indonesia Kuat
Edhie membahkan di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus USD 108 per barel akibat penutupan Selat Hormuz, ekonomi Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang impresif.
Menurutnya fundamental domestik Indonesia tetap kokoh dengan pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2025 mencapai 5,39 persen dan PMI Manufaktur stabil di level 53,8.
Guna meredam dampak inflasi, pemerintah menyiagakan APBN sebagai shock absorber melalui subsidi energi guna menjaga daya beli rakyat. Selain itu, Bank Indonesia telah menginjeksi likuiditas sebesar Rp 427,5 triliun melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) serta memangkas bunga kredit ke level 8,80 persen demi menjaga napas sektor UMKM dan dunia usaha.
Situasi di Timur Tengah yang kian memanas pasca gugurnya tokoh-tokoh penting dikhawatirkan memicu percepatan risiko proliferasi nuklir. Sebagai negara middle power dengan rekor surplus perdagangan selama 69 bulan berturut-turut, Indonesia memiliki posisi tawar kuat untuk mendorong gencatan senjata.
Edhie mendesak para pemimpin dunia untuk segera menghentikan retorika perang dan beralih ke meja diskusi guna menyelesaikan konflik secara damai bukan dengan kekerasan.
Ia menegaskan perdamaian hanya akan tercapai jika setiap pihak mengutamakan titik temu kemanfaatan bersama, bukan saling memojokkan sebagai musuh. Indonesia, meski tak mencari lawan, tetap siaga menjaga perdamaian dunia sesuai mandat konstitusi.

Bahlil Himbau “Jangan Boros Kompor”, Bagaimana Ketahanan Energi Kita? 