Warta

Jemaah Haji Lansia Bisa Alami Disorientasi

catrawarta.com — Kebingungan atau disorientasi sering melanda jemaah haji Indonesia terutama yang lanjut usia atau lansia. Mereka menempuh perjalanan panjang, lelah dan...

Group of men in blue traditional outfits and black headwear seated in chairs and wheelchairs at an event some wearing scarves with a security official in a beige vest in the background
LANSIA: Jemaah haji lansia yang memakai alat bantu kursi roda.(Sumber: haji.go.id)

catrawarta.comKebingungan atau disorientasi sering melanda jemaah haji Indonesia terutama yang lanjut usia atau lansia. Mereka menempuh perjalanan panjang, lelah dan langsung menghadapi cuaca ekstrem. Ini harus menjadi perhatian para petugas haji maupun orang dekat yang bersamanya.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Kesehatan Haji Republik Indonesia, Dani Pramudya, kepada Tim Media Center Haji di Makkah, mengungkapkan kondisi tersebut. Seperti dikutip dari mui.or.id, ia menjelaskan kondisi yang sering terjadi pada lansia saat tiba di Tanah Suci.

Ia menyebut akibat kelelahan dan lainnya, jemaah haji lansia sering kali mengalami disorientasi. Selain kelelahan akibat perjalanan panjang, bisa juga istirahat yang kurang dan proses adaptasi di tempat baru yang memerlukan Waktu, tak bisa sekejap.

”Kondisi ini umumnya dipicu oleh kelelahan perjalanan panjang, perubahan cuaca ekstrem, kurang istirahat, hingga adaptasi lingkungan baru di Makkah,” jelas Dani seperti disampaikan dalam mui.or.id.

Butuh Waktu 48 Jam

Menurutnya, jemaah yang mengalami kebingungan atau penurunan orientasi membutuhkan waktu pemulihan sekitar 24 hingga 48 jam. Pada situasi demikian, sebaiknya mereka beristirahat dan menjaga makanan serta cairan yang sangat penting.

Pemulihan dengan banyak minum air putih begitu penting karena cuaca ekstrem di Makkah yang sangat jauh berbeda dengan Indonesia. Air putih mampu menjaga kestabilan cairan dalam tubuh sehingga kebugaran tetap terjaga.

Dani memberi saran, Ketika kondisi telah stabil, jemaah lansia sebaiknya melakukan adaptasi secara bertahap, sedikit demi sedikit. Misalnya, mulai mengenali lingkungan hotel, berjalan ringan di sekitar pemondokan, hingga perlahan mulai dibimbing menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan ibadah.

Jangan Beraktivitas Berat

Ia tidak menyarankan jemaah terutama yang lansia melakukan kegiatan berat yang dapat mengganggu kondisi tubuh. Pasalnya, mereka harus menjaga kondisi fisik prima guna melaksanakan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

”Jangan langsung dipaksakan aktivitas berat. Mulai dari latihan ringan, jalan pelan-pelan, mengenali lingkungan sekitar. Setelah itu istirahat lagi. Tujuannya agar saat memasuki puncak haji di Arafah, jamaah benar-benar dalam kondisi fit,” paparnya.

Di samping itu, Dani menekankan pentingnya pendampingan jemaah yang mengalami disorientasi, terutama lansia. Keluarga, ketua rombongan, maupun teman sekamar diminta tidak meninggalkan jemaah sendirian, harus selalu memantau dan menemani, khususnya bagi mereka yang berusia di atas 60 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *