catrawarta.com — Gubernur DIY yang juga Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X berjalan di tengah aksi massa yang sempat memanas di Polda DIY, Agustus 2025 lalu. Ia melangkah tenang dan menyapa para demonstran serta menenangkannya.
Peristiwa serupa terjadi Ketika berlangsung aksi reformasi 1998 yang menumbangkan kekuasaan Orde Baru. Ia hadir di tengah massa yang ”panas” dan berusaha menenangkannya. Meski di Yogyakarta sempat terjadi insiden namun relatif aman dibandingkan daerah lain.
Pada saat dialog Oktober 2025 lalu, Sultan mengingatkan para pejabat untuk mau mendengar suara generasi muda. Ia mengatakan Reformasi 1998 terjadi karena pejabat tidak mendengarkan suara rakyat terutama anak-anak muda.
”Yang tua sebaiknya mau mendengar yang muda, syukur-syukur bisa mengikuti pola pikirnya karena zaman sudah berubah, coba seami pikiran anak-anak muda,” tutur Sultan Ketika itu.
Ungkapannya memperlihatkan kematangan dan pengalamannya menghadapi situasi apapun. Ia bukan hanya simbol budaya Jawa, tetapi juga pemimpin budaya yang menjembatani tradisi dan modernitas, serta menjaga relevansi budaya Jawa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Itulah yang tidak dipunyai banyak tokoh lainnya termasuk para elite. Ia tak hanya mendengar tetapi juga mengekspresikan pikiran anak-anak muda yang memang sudah sangat berbeda dengan zamannya.
Tokoh Ciganjur Mendorong Perubahan
Sultan Hamengku Buwono X merupakan salah satu tokoh Reformasi 1998 yang akhirnya membawa perubahan mendasar pada kehidupan politik Indonesia. Dari semula penuh dengan keterkekangan sampai pada keterbukaan.
Ia menjadi salah satu Tokoh Ciganjur Reformasi 1998 Bersama beberapa orang lainnya. Mereka dikenal melalui Pertemuan Ciganjur, yang berlangsung di kediaman Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Ciganjur, Jakarta Selatan, pada 10 November 1998.
Para tokoh tersebut, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ketua Umum PBNU saat itu, tokoh pluralisme dan demokrasi, yang kemudian menjadi Presiden ke empat Indonesia. Megawati Soekarnoputri
Ketua Umum PDI Perjuangan, simbol perlawanan politik terhadap Orde Baru, dan Presiden ke lima Indonesia. Amien Rais, Ketua Umum Muhammadiyah, penggerak utama reformasi dan tokoh yang mendorong pembatasan kekuasaan presiden.
Mereka menghasilkan Pernyataan Ciganjur, yang berisi tuntutan reformasi politik, penegakan demokrasi, supremasi hukum, serta penghapusan dwifungsi ABRI. Mereka dikenang sebagai figur kunci yang membantu mengarahkan transisi Indonesia dari Orde Baru menuju era Reformasi secara relatif damai.
Sri Sultan Hamengku Buwono X lahir di Yogyakarta pada 2 April 1946 dengan nama Bendara Raden Mas Herjuno Darpito. Penobatannya sebagai raja berlangsung pada 7 Maret 1989 sebagai Sultan ke-10.
Sebagai pemimpin DIY, Sultan dikenal dengan gaya kepemimpinan yang tenang, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan publik. Ia berperan penting menjaga keistimewaan Yogyakarta, terutama melalui penguatan nilai budaya, tata kelola pemerintahan, serta harmoni sosial di tengah masyarakat yang beragam. *

IHSG Melonjak di Awal 2026, Pasar Sambut Tahun Baru dengan Optimisme 