Warta

PPDS dan Nyawa yang Terus Melayang

Tewasnya dokter residen di Riau berinisial AKL (30) menambah daftar panjang peserta PPDS yang meregang nyawa. AKL bukan yang pertama.

Ilustrasi dokter yang mengalami tekanan mental dan depresi sedang duduk merenung di atas lantai rs
Ilustrasi dokter yang mengalami tekanan mental dan depresi sedang duduk merenung di atas lantai RS. (dok. magnific)

catrawarta.comSatu lagi dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) harus meregang nyawa. Salah seorang dokter PPDS di RSUD Tengku Rafian Siak berinisial AKL (30) dilaporkan tewas di area samping Gedung RS, Selasa (14/7).

Meski belum diketahui penyebab kematiannya, AKL jelas menambah daftar panjang dokter peserta PPDS yang meninggal dunia di tengah program pendidikannya sebagai dokter spesialis.

Sebelumnya, peserta program PPDS yang juga ditemukan tewas adalah dr. Adrian Rantung. Adrian diketahui sedang menjadi peserta PPDS sebagai dokter residen di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat). Dia ditemukan meninggal dunia di kediamannya di Manado, Minggu (5/7).

Diduga, Adrian mengalami perundungan, menerima jam kerja yang berat, hingga pungutan liar ekstrem. Atas kejadian ini, Kementerian Kesehatan menghentikan sementara kegiatan penerimaan dan pendidikan PPDS Anestesiologi di RSUP Kandou Manado untuk menginvestigasi kasus yang dialami Adrian.

Sementara pada 2024 lalu di bulan Agustus, peserta PPDS Anestesi Universitas Diponegoro (UNDIP) bernama Aulia Risma Lestari juga dilaporkan tewas akibat overdosis obat bius di kamar kosnya. Dugaan kuat mengarah pada bunuh diri lantaran korban yang tak kuat menanggung beban fisik dan tekanan mental akibat perundungan di lingkungan program PPDS UNDIP.

Atas kasus ini, polisi kemudian menemukan adanya praktik pungutan liar dan pemerasan yang dilakukan senior kepada junior. Buntutnya, Kemenkes membekukan sementara prodi Anestesi UNDIP di RSUP dr. Kariadi. Tiga tersangka resmi ditahan oleh Kejaksaan Negeri Semarang, termasuk mantan Kaprodi PPDS Anestesi.

Dengan rentetan kasus ini, ada nyawa dokter muda yang terus melayang. Tekanan mental, relasi senior dan junior yang tak sehat, hingga budaya kerasnya pendidikan PPDS rasanya menjadi dalang di balik tewasnya para dokter yang seharusnya tak perlu terjadi.

Direktur Jenderal (Dirjen) Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Azhar Jaya mengungkap, kematian para dokter ini jelas tak bisa dipandang sebelah mata. Ada rentetan dengan penyebab sama yang menyebabkan korban berjatuhan.

Ini bisa menjadi tanda sinyal berbahaya di lingkungan PPDS Anestesi yang perlu mendaapt perhatian. Dia mendesak, para pemangku kepentingan bisa segera mencari akar masalah dan solusi tepat.

“Ini yang saya sampaikan ke pihak Dikti, bisa duduk bersama melihat sebenarnya ada masalah apa. Kan kalau sampai bunuh diri, kita jangan bilang enggak ada apa-apa, tapi memang harus ada yang diperbaiki,” jelasnya, seperti yang dikutip dari kompas, Rabu (15/7).

Soal jam kerja yang dinilai terlalu berat, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebelumnya juga telah mengecam kasus kematian dokter PPDS Anestesi. Ketua Umum IDI Slamet Budiarto bahkan telah meminta solusi Kemenkes untuk mengatur batasan jam kerja maksimal bagi dokter PPDS.

Budi menilai, PPDS dengan waktu 80 jam per minggu memang cukup berat. Sehingga, dia meminta agar peserta PPDS hanya bertugas selama kurun waktu 40-50 jam per minggu.

“Solusinya, Batasi jam kerja maksimal 40-50 jam per minggu atau 8-9 jam per hari,” tegas Slamet.

Senada dengan Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini. Dia turut mendesak Polri untuk mengusut tuntas kasus dokter PPDS jika memang terbukti memiliki unsur pidana.

“Saya minta Kemenkes bersama Kemendikti Ristek melakukan evaluasi total atas praktik dokter PPDS agar tidak terulang kembali di masa depan,” jelasnya saat memberikan konfirmasi atas kasus dr Adrian.

Dokter PPDS di Riau Ditemukan Tewas di Samping RS

Sebelumnya, jenazah dokter berinisial AKL (30) ditemukan tak bernyawa di samping Gedung RSUD Tengku Rafian Siak, Riau, Selasa (14/7). Korban ternyata merupakan dokter yang tengah menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Residen Anestesi, warga Jalan Air Kabur Atas, Wailola, Bula, Seram Bagian Timur, Maluku.

Korban berinisial AKL (30) ini ditemukan sekitar pukul 11.30 WIB. Pelacakan korban dan penemuan jasadnya dilakukan sejak yang bersangkutan dilaporkan sang istri, YM (31) yang juga bertugas sebagai dokter dan tinggal di asrama RSUD Tengku Rafian, bahwa sejak Senin (13/7) sore, sosoknya tak kembali ke kediaman dan nomor teleponnya juga tidak bisa dihubungi.

Dari hasil rekaman CCTV, ditemukan jejak terakhir AKL yang terlihat berjalan seorang diri keluar dari kawasan Gedung RSUD dan menuju ke Jalan Raja Kecik. Saat ditelusuri, korban ditemukan sudah tak bernyawa di semak belukar. Korban lantas dievakuasi ke RS Bhayangkara Pekanbaru untuk menjalani proses autopsi. Hingga kini, belum diketahui secara pasti mengenai penyebab kematian dari AKL.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *