Warta

Polresta Yogyakarta Larang JLFR Melintas Malioboro 

Polresta Yogyakarta membatasi rute Jogja Last Friday Ride (JLFR) dengan tidak lagi mengizinkan rombongan pesepeda melintasi kawasan Malioboro

Nighttime street scene with cyclists a rider in a neon vest balances on a tall multi level bicycle in the foreground
Kegiatan Jogja Last Friday Ride. (Sumber: Radar Jogja)

catrawarta.comPolresta Yogyakarta membatasi rute Jogja Last Friday Ride (JLFR) dengan tidak lagi mengizinkan rombongan pesepeda melintasi kawasan Malioboro. Kebijakan ini diambil menyusul keluhan warga dan wisatawan yang merasa aktivitasnya terganggu akibat padatnya peserta JLFR.

Kasat Lantas Polresta Yogyakarta AKP Alvian Hidayat mengatakan pembatasan tersebut bersifat sementara untuk mengurangi potensi kemacetan dan konflik antara pesepeda dengan pengguna jalan lainnya, terutama di kawasan wisata Malioboro yang tengah ramai selama libur sekolah.

“Pada dasarnya kegiatan kita mengarahkan untuk tidak masuk Malioboro ini sudah berjalan lama, pasca kejadian yang edisi 184 atau 185,” kata Alvian, Kamis (2/7/2026).

Menurut Alvian, kepolisian telah berupaya berkomunikasi dengan penyelenggara maupun komunitas JLFR terkait pengaturan rute. Namun, karena tidak ada tanggapan, kepolisian akhirnya mengambil langkah pengalihan jalur.

“Kita ambil kebijakan sementara, karena kita sudah berupaya untuk komunikasi dengan teman-teman yang di JLFR tapi tidak ada jawaban, tidak ada tanggapan. Kalau untuk melarang secara total kan enggak bisa,” ujarnya.

Pada pelaksanaan JLFR edisi ke-184 dan ke-185, jumlah peserta disebut mencapai sekitar 5.000 hingga 7.000 pesepeda. Besarnya jumlah peserta sempat memicu keluhan di media sosial dari warga dan wisatawan yang mengaku terhambat saat melintas maupun beraktivitas di kawasan Malioboro.

Alvian menegaskan Malioboro merupakan ikon sekaligus pusat aktivitas pariwisata Kota Yogyakarta. Karena itu, pengaturan rute JLFR dinilai perlu dilakukan agar kawasan tersebut tetap nyaman bagi seluruh pengguna ruang publik.

Meski tidak lagi melintasi Malioboro, kegiatan JLFR tetap dapat berlangsung melalui rute alternatif yang telah disiapkan.

JLFR sendiri berawal dari gerakan komunitas pesepeda yang ingin mengembalikan ruang publik bagi pengguna sepeda di Kota Yogyakarta. Kegiatan bersepeda santai pada malam hari atau night ride ini rutin digelar setiap Jumat terakhir setiap bulan dan semakin diminati masyarakat.

Yogyakarta pernah dikenal sebagai Kota Sepeda. Namun, seiring perkembangan kota dan meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor, jumlah warga yang menggunakan sepeda sebagai moda transportasi harian terus menurun. Di sisi lain, keberadaan jalur khusus pesepeda juga semakin berkurang.

Melalui JLFR, komunitas pesepeda berupaya mengajak masyarakat kembali menggunakan sepeda sekaligus menghidupkan budaya bersepeda di Kota Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *