Catra Cendekia

104 Tahun Tamansiswa, Filosofi Ki Hadjar Dewantara masih Relevan

Lebih dari satu abad kemudian, gagasan pendidikan Ki Hadjar Dewantara dinilai tetap relevan dalam menjawab tantangan dunia pendidikan di era digital.

Lebih dari satu abad kemudian gagasan pendidikan ki hadjar dewantara dinilai tetap relevan dalam menjawab tantangan dunia pendidikan di era digital
Pendopo Tamansiswa di Yogyakarta. (dok. Tamansiswa)

catrawarta.comPerguruan Tamansiswa genap berusia 104 tahun pada 3 Juli 2026. Lembaga pendidikan yang didirikan Ki Hadjar Dewantara pada 3 Juli 1922 dengan nama National Onderwijs Instituut Tamansiswa itu lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap diskriminasi pendidikan pada masa kolonial Belanda.

Lebih dari satu abad kemudian, gagasan pendidikan Ki Hadjar Dewantara dinilai tetap relevan dalam menjawab tantangan dunia pendidikan di era digital.

Wakil Direktur Bidang Akademik, Kemahasiswaan, Riset, dan Kerja Sama Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Dyah Kumalasari, M.Pd., mengatakan kemajuan teknologi memang mengubah cara belajar, tetapi tidak mengubah tujuan utama pendidikan.

“Teknologi memang mengubah cara belajar, tetapi tujuan pendidikan tetap sama, yaitu membentuk manusia yang berkarakter,” ujar Dyah Kumalasari kepada catrawarta.com, Kamis (2/7/2026).

Female graduate in hijab and cap speaks at a podium during a graduation ceremony with a floral arrangement in the foreground
Prof. Dr. Dyah Kumalasari, M.Pd. (dok UNY)

Menurutnya, Ki Hadjar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan harus memerdekakan peserta didik, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, sekaligus membangun karakter atau budi pekerti.

“Nilai-nilai itu justru semakin dibutuhkan di era digital seperti sekarang ini,” kata Guru Besar Ilmu Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial, Hukum, dan Ilmu Politik UNY itu.

Dyah menjelaskan, Tamansiswa sejak awal menempatkan pendidikan karakter sejajar dengan pendidikan akademik. Bagi Ki Hadjar Dewantara, pendidikan bukan hanya bertujuan mencerdaskan otak, tetapi juga membentuk manusia yang berbudi pekerti luhur.

Ia menambahkan, Ki Hadjar Dewantara meyakini ilmu pengetahuan tanpa karakter berpotensi disalahgunakan. Karena itu, pendidikan akademik harus berjalan seiring dengan penanaman nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, integritas, dan kepedulian sosial.

Selain itu, Tamansiswa juga mengajarkan pentingnya membangun identitas nasional tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

“Ki Hadjar Dewantara mengajarkan bahwa kita harus mencintai budaya sendiri, namun tetap terbuka terhadap perkembangan dunia. Menjadi bangsa Indonesia tidak berarti meninggalkan budaya lokal, melainkan menjadikannya sebagai kekuatan untuk membangun persatuan,” tegas Dyah.

Dyah juga mengingatkan bahwa pada masa kolonial Belanda, Tamansiswa pernah dipandang sebagai ancaman karena tidak hanya menyelenggarakan pendidikan, tetapi juga membangkitkan kesadaran kebangsaan.

“Pendidikan yang memerdekakan menurut Ki Hadjar Dewantara akan melahirkan generasi yang berpikir kritis, mencintai tanah air, dan berani menentukan masa depannya sendiri. Hal itulah yang dikhawatirkan oleh pemerintah kolonial,” ujarnya.

Lebih dari satu abad setelah berdiri, menurut Dyah, filosofi Tamansiswa tetap menjadi pijakan penting bagi pembangunan pendidikan nasional.

“Pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan lulusan yang cerdas, tetapi juga manusia yang berkarakter, berbudaya, dan mampu menjawab tantangan zaman. Filosofi Ki Hadjar Dewantara tetap menjadi inspirasi bagi pembangunan pendidikan Indonesia hingga saat ini,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *