catrawarta.com — Badan Pembina Majelis Luhur Tamansiswa, Paku Alam X menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur serta ajaran ketamansiswaan, melalui pendekatan yang kekinian dan mengikuti perkembangan zaman.
Ia menyampaikan hal itu merespons perkembangan Tamansiswa saat ini. Menurutnya perlu rumusan terkait pengalihan pemahamaan dari semula konvensional menggunakan cara-cara kekinian yang dapat diterima generasi sekarang. Salah satunya melalui pemanfaatan media digital.
”Perumusan metode atau pendekatan kekinian bisa membantu meneruskan pemahaman tentang Tamansiswa, tapi dengan metodologi yang berbeda,” usul Paku Alam.
Ia menilai banyak generasi muda yang belum mengenal, bahkan mempertanyakan keberadaan Perguruan Tamansiswa di tengah masyarakati. Kondisi tersebut menjadi catatan penting bagi Taman Siswa terutama Perkumpulan Keluarga Besar Taman Siswa.
Harus Beradaptasi
Perkumpulan harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, sehingga nilai-nilai dan ajaran Ki Hadjar Dewantara dapat dipahami serta diterima oleh generasi masa kini. Perubahan, tegasnya, merupakan keniscayaan. Mereka yang enggan berubah pasti digilas zaman.
Paku Alam meyakini, masih banyak generasi muda yang menaruh perhatian terhadap ajaran-ajaran Ki Hadjar Dewantara, terutama karena kedekatan nilai tersebut dengan pengalaman pendidikan. Keberadaan Paguyuban dapat melibatkan generasi Z, yang dipandang lebih memahami mekanisme pengelolaan informasi dan media sosial yang lebih sesuai dengan perkembangan era digital.
Merespons pernyataan itu, Ketua Umum Pengurus Pusat PKBTS, Ki Dr drh HM Munawaroh menyatakan senada dengan gagasan Paku Alam X. Menurutnya, yang perlu perubahan adalah cara penyampaian yang memanfaatkan berbagai platform digital, tanpa mengubah isi dan esensi nilai-nilai Ki Hadjar Dewantara.
Kembali ke Akar Sejarah
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang juga menjadi bagian dari Badan Pembina Majelis Luhur Tamansiswa mengungkapkan pentingnya kembali akar sejarah sekaligus menjaga agar ajaran Ki Hajar Dewantara tidak berhenti menjadi warisan semata, tetapi harus terus hidup sebagai arah gerak.
Ia menyampaikannya pada Kongres Persatuan Keluarga Besar Tamansiswa (PKBTS) XX Tahun 2026 yang berlangsung 30 Juni – 2 Juli. Kongres mengangkat tema ”Bersatu dalam Gagasan, Bergerak dalam Perubahan”.
Falsafah Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani harus terus hidup sebagai pedoman dalam kehidupan. Sultan menekankan, falsafah itu bukan sekadar titah masa lalu, melainkan kompas yang justru semakin relevan di tengah tantangan pendidikan dan kebudayaan Indonesia.
Ditegaskannya, masa depan pendidikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dikuasai, melainkan seberapa kuat karakter yang dibangun. Di sinilah relevansi Tamansiswa tetap tak tergantikan. Ki Hajar mengajarkan bukan sekadar ilmu untuk bekerja, melainkan budi untuk menjadi manusia.
Wadah Perjuangan
Mengenai keberadaan PKBTS, Wakil Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Parjimin mengungkapkan persatuan merupakan wadah perjuangan para alumni, siswa, mahasiswa, dan para simpatisan pecinta ajaran ketamansiswaan yang akan selalu mewarisi sekaligus menyebarluaskan api ajaran ketamansiswaan sesuai dengan kemajuan dan perubahan alam serta zaman.
Ki Hajar Dewantara mendirikan sendiri PKBTS yang berdiri pada 13 April 1929 di Yogyakarta dengan nama awal Persatuan Bekas Murid Tamansiswa. Dalam lingkungan Persatuan Tamansiswa, PBKTS merupakan organisasi yang memiliki otonomi, mempunyai asas, landasan, perjuangan, ciri khas, dan tujuan yang sama dengan Persatuan Taman Siswa.
Karena itu, semua kegiatan PKBTS hendaknya sejalan dengan tujuan dari Persatuan Taman Siswa dengan meningkatkan hubungan kerja sama antarorganisasi dalam lingkungan Tamansiswa dan dikoordinasikan oleh Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
Ketua Umum PP PKBTS, Munawaroh menambahkan, meskipun PKBTS merupakan organisasi yang telah berusia hampir 97 tahun, nama dan kiprahnya masih belum banyak dikenal. Kendari demikian, selama lima tahun terakhir, PKBTS terus berupaya meningkatkan kontribusinya peningkatan kualitas pendidikan dan pemberdayaan sekolah, khususnya di lingkungan Perguruan Tamansiswa.

Keluarga Sebagai Pilar Peradaban 