catrawarta.com — Banyak dicatat dalam lembaran sejarah, peran keluarga yang mewarnai kehidupan dunia. Dinasti Windsor (Inggris), Al Saud (Arab Saudi), Habsburg (Austria), Ottoman (Eropa), Rockerfeller (Amerika) atau Medici (Italia), sekedar contoh. Mereka dikenal dunia karena mampu mendominasi kehidupan baik ekonomi, politik, seni dan agama dalam kurun yang lama.
Kajian sejarah keluarga sudah dilakukan dalam waktu lama. Lebih dari sekedar mengulas hubungan kekerabatan, silsilah atau genealogi, sejarah keluarga menurut Sartono Kartodirdjo merupakan bagian sejarah sosial. Pendekatan multidimensional cocok untuk meneliti peran sebuah keluarga dalam sejarah. Dalam dinamika berikutnya, keluarga masih memegang peran penting dalam perubahan sejarah.
Menarik liputan Catrawarta.com pada 1 Juni 2026, “Harganas 2026: 25,8 Persen Anak Indonesia Alami Fatherless“. Ketiadaan peran ayah, entah karena faktor ekonomi atau hubungan sosial, jelas memengaruhi tumbuh kembang anak.
Perlu menjadi catatan dan kepedulian bersama, zaman yang sedemikian maju dan bebas, bisa memberi dampak negatif pada anak. Mengganti pola asuh orang tua dengan, misalnya keberadaan baby sister apalagi gadget, tentu sebuah langkah yang tidak bijaksana, apalagi tanpa pengawalan berarti terhadap perkembangan anak.
Dalam buku Mencetak Generasi Cerdas Berkualitas (Cempaka Putih, 2019), cetak ulang menjadi Membentuk Generasi Cerdas & Berkarakter, saya menulis betapa peran dan kedudukan orang tua teramat sentral bagi anak bahkan sejak dia masih berada dalam kandungan.
Belaian kasih sayang pada janin dalam kandungan, lantunan doa-doa, atau nutrisi yang terjaga, adalah kepedulian awal orang tua pada generasi penerusnya. Anak yang senantiasa dirangsang dengan sesuatu yang baik dan positif akan berdampak langsung pada optimalisasi fungsi indera dan kesempurnaan organ tubuhnya.
Catatan penting perlu dipahami begitu anak sudah lahir. ASI adalah nutrisi utama saat anak masih dalam usia bawah lima tahun (balita). Pada fase ini, anak berkembang secara pesat terutama organ otaknya. Jika tugas ibu adalah memberinya ASI maka tugas ayah adalah memastikan asupan gizi istrinya harus cukup agar produksi ASI tetap lancar dan berkualitas. The golden age bagi anak hanya terjadi sekali seumur hidup. Tak bisa diulang dan ditapaki kembali. Sekali salah di awal, dampaknya akan dirasakan sepanjang hidupnya.
Hal yang tidak boleh dilupakan bagi tumbuh kembang anak adalah tersedianya lingkungan yang aman dan kondusif. Kita ketahui bersama bahwa lingkungan mempunyai pengaruh yang sangat besar, baik secara positif maupun negatif bagi seorang anak. Pola pergaulan, hubungan-hubungan sosial termasuk tema-tema perbincangan sangat mudah diserap oleh anak. Inilah yang harus diantisipasi dan diwaspadai oleh setiap orang tua.
Berikutnya adalah ketepatan orang tua di dalam memilihkan lembaga pendidikan yang sesuai dengan tumbuh kembang dan kondisi mental intelektual anak. Tidak boleh hanya demi sebuah gengsi, orang tua sampai harus mengorbankan potensi dan talenta anak.
Ada kalanya sebagai orang tua justru harus membekali anak-anaknya sedini mungkin dengan pemahaman mendasar tentang kearifan lokal dan moralitas agama. Pada dasarnya ilmu dan keahlian bisa dipelajari dan dicari, tetapi soal etika dan adab adalah tanggung jawab utama sepenuhnya orang tua. Orang tua tidak boleh lepas tangan hanya karena anaknya sudah dititipkan di lembaga pendidikan.
Satu hal yang tidak boleh dilupakan, sebuah keluarga adalah gabungan dua adat, tradisi, budaya dan kebiasaan dari kedua belah pihak. Dengan demikian, secara biologis psikologis, seorang anak telah mewarisi karakter dari kedua orang tuanya.
Oleh karena itu, sedini mungkin orang tua mengetahui dan memahami bakat, talenta dan karakter anaknya akan lebih baik. Sebagaimana dipesankan Ki Hajar Dewantara, seorang anak mempunyai kodrat tersendiri yang harus dijaga dan dibina oleh kedua orang tuanya secara alamiah dan manusiawi.
Seorang anak adalah subjek bagi sejarah kehidupannya sendiri. Orang tua tidak boleh terlalu dalam mengintervensi perkembangan mental, spiritual dan intelektual anak karena masa depannya berbeda dengan zaman di mana orang tua hidup. Benar anak adalah darah daging orang tua, tetapi mereka memiliki tantangan zaman tersendiri.
Demikianlah, sebuah keluarga sesungguhnya pilar penting peradaban. Anak-anak yang terbimbing dan terfasilitasi dengan maksimal sesuai kodratnya akan tumbuh menjadi seorang anak manusia yang cerdas, berkarakter, bermental baja dan berdaya jelajah. Satu hal, kesuksesan seorang anak bukanlah seperti yang dimaui dan diinginkan oleh orang tua, tetapi ketika potensi dan kemampuannya mampu memberikan kontribusi positif bagi dunia di mana dia hidup dan berada.
Ingat, setiap anak adalah penulis skenario atas cerita hidupnya sendiri. Jangan berikan kemudahan jika itu tidak memberikannya kemandirian. Jangan takut ketika anak menapaki jalan terjal karena bisa jadi sang anak akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan di balik bukit yang terjal. Mari jaga keluarga kita, jadikan rumah sebagai surga bagi semua anggotanya.
(*)

