Warta

Menjaga Nalar Kritis, Atma Jaya Nobar Pesta Babi

catrawarta.com — Sejumlah kampus di berbagai daerah di Indonesia ketakutan memutar film bertajuk ”Pesta Babi, Kolonialisme di Zaman Kita”. Mereka melarang mahasiswanya...

Large crowd seated on a tiled floor under a metal pavilion watching a religious presentation on two screens with crosses and imagery
NOBAR: Suasana nobar dan diskusi film Pesta Babi di UAJY.(Sumber: dok UAJY)

catrawarta.comSejumlah kampus di berbagai daerah di Indonesia ketakutan memutar film bertajuk ”Pesta Babi, Kolonialisme di Zaman Kita”. Mereka melarang mahasiswanya memutar film dokumenter tersebut bahkan membubarkan dengan ancaman.

Selain kampus, ada pula komunitas yang ketakutan karena mendapat terror, ancaman dan intimidasi. Akhirnya, mereka tak jadi memutar film karena tidak berani dengan risiko. Yang agak aneh, kampus sebagai instituasi akademi tidak berani menggelar pemutaran dan diskusi sebagai bagian dari tradisi ilmiah.

Namun, tidak demikian dengan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Mahasiswanya, melalui Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP) menggelar nonton bareng dan diskusi film Pesta Babi. Agenda tersebut berlangsung di halaman parkir, Kampus IV, Gedung Teresa, yang mampu menampung mahasiswa dalam jumlah cukup banyak.

Kegiatan tersebut, jelas humas kampus dalam rilisnya kepada media, menghadirkan tiga narasumber yakni Dr Phil Lukas Ispandriarno (akademisi), Bambang MBK (anggota Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta), serta Margen Enembe (anggota Forum Komunikasi Mahasiswa Papua dengan moderator Olivia Lewi Pramesti MA selaku dosen FISIP UAJY.

Peduli dan Solider

Presiden BEM FISIP UAJY, Fanuel mengajak mahasiswa untuk terus menunjukkan kepedulian dan solidaritas terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi di Papua. Mahasiswa hendaknya juga tetap menjaga semangat perjuangan melalui cara-cara yang positif dan kritis.

Ia menandaskan, melalui kegiatan nonton bareng dan diskusi, BEM FISIP UAJY berkomitmen melahirkan ruang kebebasan berekspresi bagi mahasiswa di tengah situasi politik yang dinamis, sekaligus membedah berbagai realitas dan fakta mendalam mengenai isu kemanusiaan serta lingkungan di Papua.

Peristiwa nyata yang terjadi di sana sangat jarang diberitakan oleh media arus utama. Ada banyak kasus seperti yang baru ini terjadi, seorang anak kecil yang tertembak dan siswi SMK yang sedang mencari sisa-sisa tambang emas juga ditembak mati.

Berbagai kondisi nyata di Papua ada dalam film Pesta Babi. Banyak pihak yang belum mengetahui gambaran kenyataan di sana yang sangat memprihatinkan.

Mahasiswa Berani Bersuara

Narasumber Lukas pada kesempatan itu menilai mahasiswa memiliki modal besar melalui kedekatannya dengan teknologi digital. Ia minta mahasiswa memanfaatkan teknologi untuk berani bersuara. Di samping itu, hendaknya mereka menjalin hubungan dengan orang-orang kecil agar dapat belajar dan memahami susahnya realitas kehidupan.

Sementara itu, Bambang MBK dari AJI Yogyakarta mengajak peserta melihat film sebagai medium yang mampu membangun kesadaran publik, sebagaimana karya-karya sastra dan jurnalistik yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah.

Mahasiswa sangat antusias mengikuti diskusi dan nobar. Mereka mengapresiasi pemutaran dan diskusi film serta keberanian kampus. Di tengah ketakutan banyak kampus, UAJY mau melakukannya demi menjaga daya nalar kritis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *