catrawarta.com — Minat masyarakat menyaksikan film dokumenter ”Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” sangat tinggi. Permintaan pemutaran sudah menjangkau seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Beberapa negara yang juga memutarnya yakni Amerika Serikat, Australia, Jerman, Turki, Mesir dan Timor Leste.
Kemudahan memperoleh film dan konsep nonton bareng (nobar) sangat menarik bagi masyarakat kekinian. Nobar pernah viral pada era Orde Baru, namun film-film yang diputar saat itu biasanya berasal dari Departemen Penerangan. Isinya penyuluhan atau hiburan komedi.
”Antusiasme masyarakat luar biasa. Bukan hanya mahasiswa kampus yang antusias, melainkan juga komunitas masyarakat luas, termasuk remaja masjid,” ungkap pengamat film dari UMY, Dr Fajar Junaedi.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Menurut Fajar karena isu yang diangkat sangat dekat dengan kehidupan yakni keadilan agraria, pelestarian budaya, dan kelestarian lingkungan. Film tersebut memberikan suara langsung dari Papua yang jarang muncul di media arus utama.
Mendengar Cerita dari Bawah
Fajar mengatakan, bagi banyak orang, nobar bukan sekadar menonton, tapi juga cara menyatakan bahwa mereka ingin mendengar cerita dari bawah, bukan hanya versi pemerintah.Yang menarik, acara nobar sering terbuka untuk umum.
”Remaja masjid dan warga biasa ikut serta bukan karena mereka aktivis politik, melainkan karena melihat isu ini dari sisi moral dan kemanusiaan, menjaga ciptaan Tuhan, melindungi yang lemah, dan memperjuangkan keadilan,” tandasnya.
Ini menunjukkan, jelas Fajar, film Pesta Babi berhasil menyentuh lapisan masyarakat yang lebih luas, melampaui sekat-sekat kampus atau ideologi.Pada akhirnya, kontroversinya justru membuktikan satu hal, semakin dibatasi, semakin kuat keinginan publik untuk melihat dan mendiskusikannya.
Tak Boleh Dilarang
Meskipun pemerintah menyatakan tidak boleh ada pelarangan dan pembubaran film Pesta Babi, tetapi di lapangan terjadi sebaliknya. Masih ada yang ketakutan karena muncul narasi yang menyatakan film tersebut berbahaya.
Narasi ”tandingan” tentang Pesta Babi mulai berseliweran di media sosial. Bahkan sejumlah tokoh juga mendapat pesan pribadi supaya tidak menyaksikan film itu. Seperti Prof Connie Rahakundini Bakrie yang mendapat pesan berantai.
Inti isi pesannya menyatakan film Pesta Babi mengancam keamanan nasional. Padahal yang terjadi di Papua memang nyata, perusakan lingkungan dan persoalan hak asasi manusia.
”Di era informasi seperti sekarang, melarang pemutaran film dokumenter hanya akan membuat karya tersebut semakin hidup dalam percakapan masyarakat,” imbuh Fajar.

Rugikan Masyarakat, OJK Tindak Tegas Aktivitas Keuangan Ilegal 