Warta

ITB Buka Suara soal Dugaan Riset Palsu Prihantini di ISPPD 2026

catrawarta.com — Setelah namanya ramai disebut di media sosial, ITB baru angkat bicara soal Prihantini, alumninya yang diduga memanipulasi riset di konferensi...

Itb buka suara soal dugaan riset palsu oleh prihantini dan timnya
ITB buka suara soal dugaan riset palsu oleh Prihantini dan timnya. (Sumber: itb.ac.id)

catrawarta.comSetelah namanya ramai disebut di media sosial, ITB baru angkat bicara soal Prihantini, alumninya yang diduga memanipulasi riset di konferensi ISPPD-14, Kopenhagen, Denmark. Menurut kampus, apa yang dilakukan Prihantini di Denmark sama sekali tidak ada hubungannya dengan ITB.

Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, menjelaskan Prihantini memang pernah kuliah di sana, Magister Matematika angkatan 2020, lulus 2022. Tapi riset pneumonia yang ia bawa ke Denmark tak ada sangkut pautnya dengan apa yang ia kerjakan di kampus. Tesisnya waktu di ITB berjudul “Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring”.

“ITB menyatakan sikap bahwa tindakan Saudari Prihantini tersebut merupakan tindakan hukum sebagai seorang individu. Dengan demikian jika terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, maka ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud,” kata Aep Patah dalam pernyataan resmi di itb.ac.id, Kamis (28/5/2026). Kampus juga menyatakan tidak mentoleransi plagiarisme, fabrikasi data, maupun manipulasi hasil penelitian.

Kampus Tidak Bisa Disalahkan

ITB sudah menyatakan sikap, bahwa Prihantini sudah empat tahun lulus, bukan lagi bagian dari kampus dalam kapasitas apa pun. Riset yang ia presentasikan di Denmark tidak lahir dari ITB.

Yang jadi pertanyaan lain adalah soal statusnya setelah lulus. Ia dan rekan-rekannya rupanya tidak tercatat sebagai dosen atau peneliti aktif di institusi mana pun di Indonesia. Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Brian Yuliarto mengonfirmasi hal ini, pihaknya sedang menelusuri status mereka, termasuk afiliasi yang digunakan dan kaitannya dengan lembaga pendidikan atau riset di dalam negeri, dikutip dari Tempo.co (27/5/2026).

Jadi mereka masuk ke konferensi internasional tanpa ada institusi yang menaungi, tanpa supervisor, tanpa komite etik yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Nama lembaga yang mereka cantumkan — “AI-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation” — pun tidak bisa ditemukan jejaknya.

UNY dan Kemendikti Ikut Bergerak

Di Yogyakarta, Wakil Rektor Bidang Akademik UNY Nur Hidayanto membenarkan nama Rifaldy Fajar dan Prihantini ada di daftar alumni resmi kampus, keduanya lulusan Matematika, dikutip dari RRI.co.id (27/5/2026). Pihak kampus berhasil menghubungi Prihantini. Ia minta maaf karena namanya menyeret UNY ke dalam kegaduhan ini dan berjanji akan memberi penjelasan. Sedangkan Rifaldy tidak bisa dihubungi, nomornya sudah lama tidak aktif.

Panitia ISPPD 2026 mencabut travel grant kelompok Prihantini pada 21 Mei, dua hari setelah kejadian dilaporkan pada 19 Mei 2026, dikutip dari Tempo.co. Tapi di luar tindakan itu, penyelenggara konferensi tidak mengeluarkan pernyataan publik apa pun soal insiden ini. Situs resmi ISPPD di isppd.kenes.com per 28 Mei 2026 hanya memuat ucapan penutup acara dan pengumuman konferensi berikutnya, ISPPD-15, di Christchurch, Selandia Baru. Informasi soal pencabutan travel grant pun bukan dari rilis resmi mereka, melainkan disampaikan oleh Wa Ode Dwi Daningrat, peneliti yang pertama kali mengungkap kasus ini, kepada Tempo.co.

Rifaldy Minta Maaf, tapi Belum Menjelaskan Apa-apa

Rifaldy tidak hanya sekali angkat bicara. Pada 26 Mei 2026, ia mengeluarkan dua pernyataan berbeda. Yang pertama bernada defensif, ia menyebut informasi yang beredar tidak sepenuhnya sesuai fakta dan meminta waktu. 

“Kami akan klarifikasi satu per satu. Tapi mohon tunggu dulu karena kami perlu menyusun runtutannya,” tulisnya, dikutip dari Harian Disway (26/5/2026).

Di hari yang sama, lewat akun Instagram baru @rifaldy.fajar04, ia mengunggah pernyataan yang lebih substantif. 

“Sehubungan dengan adanya kasus konferensi internasional di Denmark 2026 yang menyeret nama kami, kami memohon maaf sebesar-besarnya atas segala kegaduhan dan kesalahan yang telah kami perbuat. Kami benar-benar menyesali tindakan dan keputusan kami yang pada akhirnya juga berdampak pada beberapa pihak serta event terkait,” tulisnya, dikutip dari Detik Sumsel (27/5/2026).

Dalam pernyataan itu ia juga mengakui beberapa hal, yaitu hanya Prihantini yang berangkat ke Denmark, sementara dirinya dan Rini Winarti sedang berada di Bangkok. Ia mengakui nama Aminatus Saadah dan Dimas Fajar dicantumkan tanpa keterlibatan langsung. Soal afiliasi, nama sejumlah kampus dicatut tanpa izin. 

Kepala LPPM Universitas Muhammadiyah Bulukumba, Ilmar A. Achmad, merespons dengan pernyataan tegas: Rifaldy bukan bagian dari civitas akademika mereka dan pencatutan itu telah merusak nama baik institusi, dikutip dari Intrend.id (26/5/2026).

Akun @rifaldy.fajar04 kini sudah tidak bisa dibuka, tapi isi unggahannya sudah terlanjur tersebar. Soal apa yang sebenarnya ada di balik riset itu, dari mana datanya, bagaimana bisa lolos seleksi, siapa yang benar-benar menyusunnya, belum ada penjelasan sampai tulisan ini diturunkan. Kemendiktisaintek-pun masih menyelidiki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *