catrawarta.com — Kasus penelitian palsu alias bodong terus berkembang. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membenarkan dua nama yang menjadi sosok utama penelitian yakni Rivaldy dan Prihantini. Keduanya selama kuliah memang dikenal cerdas dan berprestasi.
Kedua pelaku menurut akun instagram ricaasrosa – ada dugaan masih ada lainnya – berkali-kali mengikuti penelitian internasional dan memperoleh bantuan hingga ratusan juta. Banyak lembaga resmi yang tertipu dengan penelitian dan penampilan mereka yang meyakinkan.
Anehnya, ricaasrosa yang menyimak dan mengikuti presentasi, pelaku tidak pernah bisa menjawab pertanyaan peserta. Jawaban selalu ngelantur dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Afiliasi yang ditunjuk ternyata juga palsu.
Tercatat di Data Alumi
Kampus UNY melalui Wakil Rektor Bidang Akademik, Nur Hidayanto, mengatakan dua nama memang tercatat sebagai mahasiswa. Namun demikian, perlu konfirmasi lebih jauh mengenai kepastian datanya. Pihak kampus sedang melakukan investigasi mengenai kebenarannya.
Menurut suara.com, Nur mengungkapkan kedua nama yang sama yakni Rivaldy Fajar dan Prihantini ada dalam data alumni. Tetapi, belum tentu mereka merupakan individu yang diduga menjadi pelaku penelitian palsu. Karena itu, kampus segera melakukan pemeriksaan.
Ia juga mengatakan, kampus belum menerima laporan mengenai kasus yang sedang viral. Pemeriksaan, penelitian dilakukan secara sungguh-sungguh sebelum kampus menjatuhkan sanksi pada yang bersangkutan. Ketika temuan tim menyebutkan memang benar adanya, kampus akan segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
Mahasiswa Berprestasi dan Pandai
Sementara itu, informasi dari Fakultas MIPA UNY, seseorang yang tidak mau disebut namanya mengungkapkan memang nama dan foto yang beredar merupakan alumni. Ia menjelaskan, keduanya memang kuliah di sana dan tercatat sebagai mahasiswa berprestasi.
”Iya, memang lulusan UNY, dan terkenal pandai. Kami sendiri tidak tahu kok bisa sampai begitu,” ungkap seorang karyawan kepada catrawarta.com.
Rivaldy merupakan mahasiswa lulusan 2017 sedangkan Prihantini lulus tahun 2018. Mereka bukan mahasiswa kaleng-kaleng karena memang pintar secara akademik. Nilainya juga di atas rata-rata mahasiswa pada umumnya.
Informasi yang ia dengar, pelaku berkeinginan bisa presentasi di luar dan memperoleh dana gratis keliling dunia. Dengan mengikuti kegiatan akademik, mereka dapat jalan-jalan dan mendapat uang saku lumayan besar.
Praktik semacam itu sebenarnya sudah sering terjadi meskipun tidak sama persis. Bukan rahasia lagi ada pula komunitas yang bisa membuat skripsi, tesis bahkan disertasi dalam waktu singkat dan memberi jaminan pasti lulus dengan imbalan uang yang lumayan besar.

Tubuh Perempuan, Kapitalisme Digital, dan Moralitas Publik 