Warta

Inggris vs Norwegia, Rivalitas Berakar dari Sejarah Viking

Pertandingan Inggris melawan Norwegia di Piala Dunia 2026 kembali mengingatkan pada hubungan panjang kedua negara di era Viking berkuasa.

Pertandingan inggris melawan norwegia di piala dunia 2026 kembali mengingatkan pada hubungan panjang bangsa viking
Bangsa Viking yang menjelajah wilayah lain dengan menggunakan kapal. (dok Morgan Library )

catrawarta.comPertandingan Inggris melawan Norwegia di Piala Dunia 2026 kembali mengingatkan pada hubungan panjang dan penuh dinamika antara kedua negara sejak era bangsa Viking lebih dari seribu tahun lalu.

Dalam berbagai pertandingan internasional, para pendukung Norwegia kerap menampilkan atraksi khas berupa gerakan mendayung sambil meneriakkan “Ro… Ro…” yang diiringi tabuhan drum. Aksi tersebut menggambarkan identitas bangsa Norwegia sebagai keturunan Viking atau bangsa Skandinavia yang dahulu menjelajahi berbagai wilayah menggunakan kapal.

Mengutip BBC History, bangsa Viking mulai menyerang wilayah Britania pada akhir abad ke-8 Masehi. Serangan dilakukan melalui jalur laut dengan sasaran utama biara-biara yang umumnya tidak memiliki pertahanan memadai.

Pada akhir abad ke-9, banyak orang Skandinavia tidak lagi sekadar melakukan penyerangan, tetapi juga menetap di berbagai wilayah Britania dan menguasai daerah yang cukup luas secara politik.

Pengaruh mereka semakin besar pada awal abad ke-11 ketika Raja Denmark berhasil menjadi Raja Inggris. Selanjutnya pada tahun 1066, Inggris menghadapi dua invasi besar, yakni dari Raja Norwegia Harald Hardrada serta William, Adipati Normandia, yang merupakan keturunan pemukim Skandinavia di Prancis utara.

Meski identik dengan penaklukan dan peperangan, kehadiran bangsa Skandinavia turut berkontribusi terhadap terbentuknya dua kerajaan besar di Kepulauan Britania, yakni Inggris dan Skotlandia.

Salah satu serangan Viking yang paling terkenal terjadi pada tahun 793 M terhadap Biara Lindisfarne di pesisir timur Inggris. Seorang cendekiawan bernama Alcuin dari York menuliskan kesedihannya dalam surat kepada Uskup Lindisfarne, Higbald, serta Raja Northumbria, Ethelred, setelah serangan mendadak tersebut terjadi.

Two column medieval manuscript page with dense black script and green and red illuminated initials
Manuskrip bangsa Viking the Hemiskringla Sagas yang ditulis oleh Snorri Struluson. (dok Wikipedia)

Para penyerang diyakini berasal dari Norwegia dan berlayar melintasi Laut Utara menuju Northumbria. Meski tidak hancur sepenuhnya, serangan terhadap Lindisfarne menjadi simbol dimulainya era penyerbuan Viking di Britania.

Dalam beberapa dekade berikutnya, banyak biara di wilayah utara Britania dihancurkan sehingga berbagai catatan sejarah turut hilang.

Biara Iona di Skotlandia dibakar pada tahun 802 M, sementara pada serangan berikutnya pada tahun 806 M sebanyak 68 biarawan tewas terbunuh.

Para biarawan yang selamat kemudian melarikan diri ke Kells di Irlandia sambil membawa sebuah kitab Injil berharga yang kini dikenal sebagai Book of Kells.

Sementara itu, para biarawan Lindisfarne meninggalkan biara mereka dan berpindah-pindah sambil membawa relik Santo Cuthbert hingga akhirnya menetap di Durham pada tahun 995 M.

Warisan Viking di Inggris tidak hanya terlihat dalam sejarah peperangan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat modern. Banyak kosakata bahasa Inggris yang berasal dari bahasa Norse Kuno, bahasa yang digunakan bangsa Viking, seperti sky, window, cake, dan they.

Selain itu, sejumlah nama desa dan kota di Inggris hingga kini masih menggunakan nama yang berasal dari bahasa dan budaya Skandinavia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *