Catra Milenia, Warta

Kebohongan Pinokio Antara Moral dan Strategi

catrawarta.com — Setiap 23 Februari diperingati sebagai Hari Pinokio, merujuk pada tokoh fiksi Pinokio ciptaan Carlo Collodi dalam novel The Adventures of...

Dalam kisah pinokio bohong adalah pelanggaran moral Dalam realitas modern ia kerap diperlakukan sebagai strategi komunikasi
Dalam kisah Pinokio, bohong adalah pelanggaran moral. Dalam realitas modern, ia kerap diperlakukan sebagai strategi komunikasi.

catrawarta.comSetiap 23 Februari diperingati sebagai Hari Pinokio, merujuk pada tokoh fiksi Pinokio ciptaan Carlo Collodi dalam novel The Adventures of Pinocchio yang terbit pada 1883 di Italia. Dalam kisah tersebut, kebohongan bukan sekadar kesalahan kecil—ia adalah peristiwa moral yang langsung menampakkan konsekuensi: hidung Pinokio memanjang setiap kali ia berdusta. Namun di tengah maraknya disinformasi digital, polarisasi politik, dan krisis kepercayaan publik hari ini, makna kebohongan tampak berubah. Ia tak lagi selalu dipahami sebagai pelanggaran nilai, melainkan sebagai strategi sosial.

Dalam cerita Collodi, kebohongan adalah cacat karakter. Ia memalukan, terlihat, dan tak bisa dinegosiasikan. Tubuh menjadi saksi, dan rasa malu menjadi pengingat. Untuk menjadi “manusia sungguhan”, Pinokio harus belajar jujur. Integritas adalah syarat, bukan pilihan.

Dongeng itu lahir dalam tradisi pendidikan moral abad ke-19, ketika sastra anak menjadi medium pembentukan nilai. Bohong diposisikan sebagai hambatan menuju kedewasaan. Kejujuran adalah fondasi kepercayaan sosial.

Bandingkan dengan realitas hari ini. Laporan tahunan dari Reuters Institute for the Study of Journalism menunjukkan kepercayaan terhadap berita dan informasi digital di berbagai negara mengalami tantangan serius dalam beberapa tahun terakhir. Di Indonesia, persoalan hoaks dan disinformasi berulang kali menjadi perhatian Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, terutama menjelang kontestasi politik atau peristiwa besar nasional.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa kebohongan tidak lagi sekadar tindakan individual. Ia bisa diproduksi, disebarkan, bahkan dikelola secara sistematis. Bahasa yang digunakan pun berubah. Kata “bohong” sering berganti menjadi “framing”, “pengemasan narasi”, atau “strategi komunikasi”. Pergeseran istilah ini menunjukkan pergeseran cara pandang: yang diuji bukan lagi benar atau salah, melainkan seberapa efektif ia membentuk opini.

Dampaknya meluas ke ruang sosial. Ketika informasi tidak lagi dipercaya sepenuhnya, publik menjadi ragu terhadap institusi, media, bahkan terhadap satu sama lain. Polarisasi menguat karena setiap kelompok memiliki versinya sendiri tentang kebenaran. Fakta tidak lagi menjadi pijakan bersama, melainkan bahan tarik-menarik kepentingan.

Di dunia Pinokio, kebohongan punya bentuk. Ia memanjang, mencolok, dan tak bisa disembunyikan. Dalam dunia modern, kebohongan sering kali tersembunyi di balik algoritma media sosial, anonimitas digital, atau kompleksitas bahasa birokrasi. Ia tidak selalu tampak memalukan. Dalam beberapa konteks, ia bahkan dianggap cerdik.

Di sinilah letak pergeseran budaya itu. Jika dahulu kebohongan adalah persoalan moral yang menghambat seseorang menjadi manusia seutuhnya, kini ia kerap diperlakukan sebagai alat untuk memenangkan persepsi. Normalisasi ini perlahan mengubah cara hidup bersama.

Budaya tidak dibentuk dalam satu hari. Ia tumbuh dari kebiasaan yang diulang. Jika kebohongan terus dipraktikkan tanpa sanksi sosial yang tegas, ia berisiko menjadi bagian dari kebiasaan kolektif. Dan ketika itu terjadi, yang terkikis bukan hanya fakta, tetapi juga kepercayaan—fondasi utama kehidupan sosial.

Hari Pinokio, karena itu, bukan sekadar nostalgia sastra. Ia adalah pengingat tentang standar moral yang pernah kita sepakati bersama. Dalam dongeng, kebohongan selalu punya konsekuensi yang terlihat. Dalam kehidupan modern, konsekuensi itu sering tersembunyi—tetapi dampaknya jauh lebih luas.

Jika kebohongan terus dimaklumi atas nama strategi, maka yang terkikis bukan hanya fakta, melainkan kepercayaan. Dan ketika kepercayaan runtuh, yang rapuh bukan sekadar reputasi individu, melainkan fondasi kehidupan sosial itu sendiri. Barangkali kita tidak membutuhkan hidung yang memanjang untuk menandai dusta. Kita hanya perlu keberanian kolektif untuk kembali menyebut bohong sebagai bohong—sebelum ia sepenuhnya berubah menjadi kebiasaan yang dianggap wajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *