catrawarta.com — Bangsa Indonesia memperingati Hari Koperasi Indonesia setiap tanggal 12 Juli. Setiap tahun pula, masyarakat Indonesia rasanya perlu menengok sekilas tentang spirit bangsa yang kini seolah kian memudar.
Ya, apalagi jika bukan koperasi. Koperasi sendiri merupakan gagasan dasar sebagai ekonomi kerakyatan yang diserukan secara lantang oleh Wakil Presiden RI pertama Mohammad Hatta.
Tokoh proklamator yang juga disebut dengan julukan Bapak Koperasi Indonesia ini bukan memberikan gagasan secara sembarangan. Bung Hatta sejatinya memprakarsai konsep ini lantaran koperasi memiliki spirit yang berasal dari akar sosial dan budaya masyarakat Indonesia sendiri.
Skandinavia Punya Semangat Gotong Royong
Mengenai ide soal sistem koperasi, sejatinya Bung Hatta ingin menerapkan konsep yang dikenalnya di negara-negara Skandinavia seperti Norwegia, Swedia, hingga Finlandia. Di sana, Bung Hatta menyaksikan sendiri jika masyarakat setempat sejatinya memiliki tingkat kesenjangan ekonomi yang cukup tinggi.
Namun, mereka mampu menemukan solusi tepat sebagai upaya pemerataan. Konsep ekonomi kerakyatan bernama koperasi inilah yang kemudian ditempuh masyarakat Skandinavia untuk mengupayakan kesejahteraan bersama.
“Bung Hatta dan rekan-rekannya ini melihat ada contoh di Eropa Utara di negara-negara Skandinavia, itu sebetulnya mereka mengalami tingkatan ekonomi yang berbeda di satu negara, lalu diupayakan oleh mereka satu jalan keluar dengan berkoperasi,” jelas putri Bung Hatta, Halida Nuriah Hatta dalam pernyataannya bersama RRI Pro3 dalam kanal YouTube, dikutip Minggu (12/7).
Halida menerangkan, negara-negara Skandinavia pada kala itu memiliki kemauan yang sama untuk tumbuh dan sejahtera secara kolektif.
“Jadi mereka ada bargaining, kalau bekerja sendiri tidak terlalu kuat (ekonomi), tapi jika secara bersama-sama dan punya kemauan bersama, maka bisa dicari satu strategi untuk bisa memperbaiki hidup bersama,” imbuh Halida.
Bangsa Indonesia Punya Spirit Sama
Melihat dari kacamata ini, Bung Hatta lantas mengamati sosial dan budaya masyarakat Indonesia sendiri di dalam negeri. Saat itu, Bung Hatta pun tak sulit menemukan konsep gotong royong dan kebersamaan yang sejati pada diri bangsa Indonesia.
Sehingga, Bung Hatta meyakini jika konsep koperasi ala Skandinavia ini dijalankan di negeri sendiri, maka dia berharap ada hasil yang tak jauh berbeda. Bung Hatta hanya ingin menyaksikan bangsa Indonesia sejahtera dengan menekan kesenjangan ekonomi melalui koperasi.
“Maka pada waktu itu sudah diyakini bahwa kita (Indonesia) punya spirit itu, demokrasi. Jadi kalau kita lihat masyarakat-masyarakat di desa, itu guyub sikapnya, gotong royong, berembug bersama, ada mufakat, musyawarah, dan berlaku bagaimana menyikapi keadaan ekonomi supaya lebih baik. Jadi atau satu sifat dasar di dalam masyarakat kita sebetulnya, tidak sendiri-sendiri tapi bersama-sama,” cerita Halida.
Mengapa Hasilnya Beda?
Berangkat dari spirit dan akar budaya sosial yang tak jauh berbeda, nyatanya implementasi sistem koperasi di negara-negara Skandinavia dan Indonesia cukup timpang. Hingga beberapa dekade kemudian, konsep koperasi ini memiliki hasil output yang berbeda.
Skandinavia punya beberapa koperasi yang menjelma sebagai perusahaan besar dan mendominasi pasar di kawasan Nordik. Sebut saja misalnya S Group yang menguasai jaringan ritel, perhotelan, dan stasiun pengisian bahan bakar hingga berjumlah lebih dari 2 ribu gerai di Finlandia.
Atau juga koperasi pertanian berjuluk Lantmannen di Swedia yang dimilii oleh ribuan petani dan sukses mengelola rantai pasokan mulai dari bahan pangan hingga makanan siap saji.
Akar keberhasilan koperasi di Skandinavia ini tak lain berasal dari prinsip Rochdale yang menjadi pegangan kuat setiap anggotanya. Konsep ini menekankan pada transparansi, tata kelola demokratis, dan kesejahteraan komunitas dibandingkan hanya sekadar keuntungan material semata para pemegang sahamnya. Sistem yang kuat ini kemudian mengendalikan kesadaran kooperatif hingga menjadikan koperasi memiliki pangsa pasar yang dominan.
Di sisi lain, Indonesia justru menempuh jalan terjal dengan berbagai permasalahan pelik yang terkadang datang dari individu di dalamnya sendiri. Secara umum, sistem ini seringkali disebut gagal oleh para pengamat karena tata kelola manajemen yang kurang profesional, rendahnya pengawasan, hingga penyalahgunaan wewenang oleh pengurus.
Hal ini kian diperparah dengan situasi era Orde Baru. Arus modal besar dan kuat sebagai bentuk dari kapitalisme mulai menguat hingga ke akar-akar perekonomian desa. Kran kapitalisme melalui berbagai macam bentuk usaha besar menjalar dan cenderung mengalahkan sistem koperasi yang berasal dari semangat kebersamaan sendiri. Padahal, Bung Hatta sendiri pernah mengakui jika koperasi merupakan lawan tanding yang masif dari kapitalisme.
Pada akhirnya, gotong royong kini hanya tertinggal di sudut-sudut pedesaan saja tanpa adanya usaha Pemerintah secara penuh untuk hadir memberi dukungan. Sebaliknya, kran arus modal dan investasi besar justru semakin diincar untuk memenuhi hajat dalam negeri.

Membaca Gagasan Soemitro Djojohadikusumo & Upaya Getolnya Soal Koperasi 