Warta

20 Tahun Gempa Jogja dan Iduladha 2026: Momentum Belajar Keikhlasan dan Kepedulian

catrawarta.com — Hari ini, 20 tahun berlalu setelah gempa mengguncang Jogja dan sekitarnya. Peringatan 27 Mei tahun ini bertepatan dengan perayaan Iduladha...

Ilustrasi memperingati gempa jogja 27 mei 2006
Ilustrasi: Memperingati Gempa Jogja 27 Mei 2006

catrawarta.comHari ini, 20 tahun berlalu setelah gempa mengguncang Jogja dan sekitarnya. Peringatan 27 Mei tahun ini bertepatan dengan perayaan Iduladha yang kemudian menghadirkan pelajaran tentang kehilangan, pengorbanan, hingga semangat untuk bangkit.

Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05.55, gempa tektonik dari Sesar Opak mengguncang Kabupaten Bantul dan sekitarnya. Gempa magnitudo 5,9 SR berlangsung kurang dari 1 menit membuat Bantul nyaris lumpuh dalam waktu singkat.

Dari data BPBD Kabupaten Bantul, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa 2006 mencapai 5.782 jiwa. Sebanyak 26.299 orang mengalami luka berat dan luka ringan. Sementara itu, kerusakan yang terjadi diantaranya 71.763 rumah rusak total, 71.372 rumah rusak berat, dan 66.359 rumah rusak ringan.

Gempa Jogja masih menyimpan luka dan trauma bagi sebagian penyintas hingga saat ini. Dibalik peristiwa itu, ada pelajaran besar yang terus diingat, pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana.

Dikutip dari antaranews.com, Pemda DIY menilai peringatan 20 tahun Gempa Jogja harus menjadi pengingat bersama untuk mengevaluasi sejauh mana masyarakat serta para pemangku kepentingan saling belajar. Hal itu disampaikan dalam apel peringatan 20 tahun gempa Jogja yang digelar di Lapangan Garuda, Candi Prambanan, Sabtu (23/05/2026).

Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengatakan pengalaman Gempa 2006 menjadi dasar bagi Pemda DIY untuk terus memperkuat kesiapsiagaan terhadap berbagai potensi bencana.

“Sebab, kesiapsiagaan adalah sebuah ekosistem yang mencakup infrastruktur umum yang aman dan berfungsi saat darurat, sistem informasi dan peringatan dini yang cepat, akurat dan mudah dipahami warga, serta pendidikan kebencanaan sejak dini,” tambahnya.

Peringatan 27 Mei bersamaan dengan Hari Raya Iduladha ini membawa pesan yang saling berkaitan, terutama berkaitan dengan keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama. Dikutip dari kemenag.go.id, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak masyarakat menjadikan Iduladha sebagai pengingat untuk memperkuat rasa peduli dan tanggung jawab sosial.

“Di tengah dinamika kehidupan yang kita hadapi bersama, Iduladha mengajak kita untuk kembali meneguhkan nilai keikhlasan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial,” ujarnya di Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Jika Iduladha identik dengan nilai keikhlasan dan berbagi kepada sesama melalui kurban, semangat serupa juga pernah tampak saat masa pemulihan Gempa Jogja 2006. Keikhlasan warga atas apa yang terjadi membangkitkan solidaritas untuk menjadi kekuatan utama dalam proses evakuasi, pendirian dapur umum, dan saling membantu di tengah kesusahan dan keterbatasan.

Dikutip pula dari akun Instagram BPBD DIY, dua momen ini juga dapat menjadi ajakan untuk merenungkan makna kehilangan, pengorbanan, dan keikhlasan. Dari sana, masyarakat diharapkan mampu belajar dari pengalaman masa lalu untuk bangkit menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijaksana.

Dalam nilai kehidupan masyarakat Jawa, falsafah Eling lan Waspada serta Hamemayu Hayuning Bawana menjadi pengingat agar manusia selalu sadar terhadap situasi sekitar, berhati-hati menghadapi kemungkinan yang datang, sekaligus menjaga keharmonisan dengan lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *