Catra Budaya

Cak Nun Membaca Indonesia dari Desa

catrawarta.com — Tak banyak cendekiawan Indonesia yang bisa membahasakan semesta permasalahan yang dihadapi bangsa ini sehingga mudah dipahami dan dimengerti rakyat pedesaan....

Diskusi Cak Nun seusai pementasan di TBY (Dok. Catrawarta)

catrawarta.comTak banyak cendekiawan Indonesia yang bisa membahasakan semesta permasalahan yang dihadapi bangsa ini sehingga mudah dipahami dan dimengerti rakyat pedesaan. Dari yang sedikit itu, Emha Ainun Najib perlu diapresiasi.

Selalu merasa bukan siapa-siapa, tetapi bagi orang lain yang melihatnya akan bilang, ” Uwong kok iso ngopo-ngopo!” Menjadi penyair, menulis beragam opini atau naskah, membuat dan menyanyikan tembang, membacakan monolog, menjadi narasumber, bahkan menjadi teman bagi siapa saja. Semua bisa dilakukan tidak dalam ukuran atau standar biasa-biasa saja, tetapi berbobot dan luar biasa.

Publik sering menerakan predikat budayawan padanya. Tetapi kemampuannya mengelola Kiai Kanjeng, Jamaah Maiyah dan beragam pementasan teater, rasanya terlalu kecil jika hanya disebut budayawan yang identik dengan pemikir. Cak Nun lebih dari itu. Dia adalah “transformator peradaban”, sebentuk peran yang mampu menjembatani, menerjemahkan dan membumikan visi menjadi beragam aksi. Narasi besar berdimensi kebangsaan mampu diekstrak menjadi pengetahuan yang akrab di telinga masyarakat yang kebanyakan menengah ke bawah.

Tak pernah kehabisan diksi untuk menjawab pertanyaan wartawan maupun audiens saat ngaji bersama. Selalu membuka perspektif dan cakrawala baru bagi para jamaah atau peserta diskusi. Tak pernah membosankan untuk didengar dan mampu memotivasi orang lain melalui anekdot atau kisah lucu yang sejurus kemudian langsung membawa kita pada pintu diskusi baru. Bisa jadi hanya Cak Nun yang, pernah, keliling menyinggahi rakyat dari kampung ke kampung hampir tiap malam, mengaji sambil menghibur hati wong cilik.

Dari mana Cak Nun belajar itu semua? Dalam wawancara panjang bersama Kompas (28/1/1991), Cak Nun dengan tegas menjawab:

“Ilmu-ilmu formal ya dari ayah, tapi hati sosial ya ibu. Ibu menggendong bayi sebanyak 15 kali. (Pen: Cak Nun anak nomor empat dari lima belas bersaudara). Kalau yang satu sudah agak besar, yang satu itu dituntun, sementara yang di gendongan yang bayi itu. Ibu rajin sekali keliling desa mengurusi UB itu. Saya mengalaminya, saya diperkenalkan dengan kegiatan itu oleh ibu. Ibu selalu ke rumah orang-orang di kampung. Tanya-tanya, dilihat dapurnya, gimana anak kamu. Kalau saya ditanya idola saya, ya ibu saya. Kalau saya ditanya kenapa bisa aktif terus ya karena ibu saya, terutama etos kerja ibu saya, karena doa ibu saya”.

Lahir di Jombang Jawa Timur pada 27 Mei 1953, anak seorang pendidik Muhammad Latif, Cak Nun tumbuh dalam kultur santri dengan cengkok jawatimuran. Belajar Kitab Kuning dari ayahnya yang tamatan pesantren Tebuireng, Cak Nun sekolah di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan sempat kuliah di FE UGM pada 1971 dan hanya sampai semester pertama. Dia kemudian keluar dan menjadi penyair, bersenyawa dengan Umbu Landu Paranggi, Presiden Malioboro.

Bagaimana Cak Nun bisa sedemikian komplet dan produktif dalam kerja-kerja kebudayaan. Kepada Kompas dia terus terang mengatakan:

“Latihan saya antara lain melakukan yang tidak saya sukai dan tidak melakukan yang saya sukai. Itu latihan tarekat, tarekat saya sendiri. Kalau orang Jawa menyebutnya tirakat. Artinya, saya juga tidak sayang dengan kesempatan-kesempatan yang besar. Sudahlah, nanti kan juga datang lagi”.

Ketekunan dan keteguhan Cak Nun dalam menapaki proses alamiah di Yogyakarta tak sia-sia. Berpuluh buku telah dihasilkan, beratus ceramah telah dilakukan dan, uniknya, tak ada pemikirannya yang tak orisinil. Tulisan dan kata-katanya menukik dan mendalam, tetapi gampang dicerna. Terkait Forum Demokrasi, misalnya, yang sering disalah tafsiri penguasa, Cak Nun menulis di Jawa Pos (27/6/1993):

“Kalau suatu pemerintahan masih setengah-setengah dalam berdemokrasi, ia memerlukan pengeling-eling tentang demokrasi. Kalau ia sudah sungguh-sungguh berdemokrasi, ia juga tetap memerlukan pengeling demokrasi, kecuali apabila pemimpinnya adalah langsung Tuhan yang penjagaan-Nya atas kursi langit dan bumi tak bisa digerogoti oleh apapun dan siapapun”.

Kamis malam 6 Juli 2023 Cak Nun sakit, sempat tak sadarkan diri karena pendarahan otak. Diduga juga karena kelelahan. Sampai kini kita belum bisa melihatnya lagi menemani dan menghibur masyarakat pedesaan atau jamaah Maiyah. Namun, beragam videonya hilir mudik di media sosial termasuk segala prediksinya tentang Indonesia yang, konon, banyak benarnya.

Selamat ulang tahun Cak, berkah sehatlah selalu, aamiin

Ksatrian Sendaren, 27 Mei 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *