Warta

Rumen Kurban: Pupuk Gratis yang Selalu Terbuang Setiap Idul Adha

catrawarta.com — Rabu, 27 Mei 2026, Idul Adha 1447 H dirayakan serentak oleh pemerintah, NU, dan Muhammadiyah, penetapan yang langka, mengingat ketiganya...

(Dok. X @khamim_neutron)

catrawarta.comRabu, 27 Mei 2026, Idul Adha 1447 H dirayakan serentak oleh pemerintah, NU, dan Muhammadiyah, penetapan yang langka, mengingat ketiganya jarang sepakat dalam satu tanggal. Penyembelihan hewan kurban berlangsung di seluruh Indonesia. Daging dibagi. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, satu bagian dari hewan kurban yang paling bernilai secara biologis masuk begitu saja ke dalam karung sampah.

Di platform X, akun @khamim_neutron mengunggah foto seember isi rumen dari enam ekor hewan kurban. Ia menulis: “Sdh dpt starter utama pembuatan ocean super Biofresh, untuk 3 paket drum masing-masing volume 200 liter dr 6 domba. Dg multiplikasi 2 kali insyaallah sdh ckp unt berorganik ria setahun kedepan. Mudah, murah dan sangat membantu efisiensi pembiayaan usahatani tanpa turun produktifitasnya.”

Seorang pengguna lain membalas: “Ada yang sadar? Saat Idul Qurban, yang paling sering dibuang justru bagian paling ‘hidup’ dari sapi. Namanya: rumen. Padahal ini bukan sekadar isi perut. Ini reaktor biologis hidup.”

Keduanya benar. Dan fakta ilmiahnya cukup untuk membuat banyak panitia kurban menyesal sudah membuang bagian ini bertahun-tahun.

Apa Sebenarnya Rumen

Rumen adalah lambung pertama hewan ruminansia, sapi, kambing dan domba. Di dalamnya berlangsung fermentasi alami yang melibatkan jutaan mikroorganisme. Kajian yang dipublikasikan dalam Jurnal Riset dan Inovasi Peternakan Universitas Lampung (2025) mencatat bahwa cairan rumen mengandung bakteri, fungi, dan protozoa yang aktif memecah serat organik, sekaligus kaya unsur hara nitrogen, fosfor, dan kalium. Rasio C/N-nya tercatat sekitar 9,46, angka yang menentukan kematangan dan kualitas kompos yang dihasilkan, dan masuk dalam kategori ideal untuk bahan dasar pupuk organik.

Petani organik mengenal bahan seperti ini dalam bentuk produk biodekomposer komersial yang dijual di pasaran. Rumen mengandung komponen yang sama, bahkan dalam kondisi lebih segar dan lebih hidup dan tersedia gratis setiap musim kurban.

Dilarang Dibuang, tapi Belum Didorong untuk Dimanfaatkan

Dinas Lingkungan Hidup Surabaya mengeluarkan larangan membuang rumen ke sungai dan saluran drainase. Sleman menerbitkan edaran serupa. Di tingkat nasional, Menteri Lingkungan Hidup telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 07 Tahun 2026 tentang pengelolaan limbah kurban.

Peneliti Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB University, Salundik, dalam keterangan tertulisnya pada 26 Mei 2026 mencatat bahwa 50 ekor sapi saja bisa menghasilkan hingga 20 ton limbah selama periode Idul Adha. Rumen masuk kategori paling berisiko karena kandungan mikrobanya tinggi dan mudah mencemari air permukaan jika dibuang sembarangan.

Regulasi sudah melarang pembuangannya ke sungai. Tapi belum ada dorongan yang setara untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang produktif.

Angka yang Perlu Diketahui Petani

Penelitian yang terbit dalam jurnal Saintis Universitas Bosowa Makassar (2023) menunjukkan hasil konkret: fermentasi rumen selama lima hari menghasilkan pupuk organik cair dengan kandungan nitrogen 0,22%, fosfor 0,31%, dan kalium 0,05%. Pada uji coba terhadap bibit kakao, pertumbuhan daun tanaman yang diberi pupuk rumen mencapai 115,5% dibanding tanaman tanpa perlakuan.

Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Kupang mencatat bahwa larutan dekomposer dari cairan rumen mampu mempercepat pengomposan kotoran ternak hingga dua kali lipat. Proses yang biasanya membutuhkan lebih dari enam bulan bisa selesai dalam tiga minggu.

Di Kudus, Radar Indonesia News melaporkan munculnya seruan “Gerakan Menabung Rumen” dengan tagline Dari Limbah Menjadi Berkah, yang mengajak panitia kurban di masjid, pesantren, dan komunitas untuk tidak membuang rumen begitu saja.

Muhammadiyah sudah selangkah lebih jauh. Pada Idul Adha 2025, Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah menjalankan program Green Qurban di tujuh titik di Indonesia. Salah satu lokasi utamanya adalah Laboratorium Bioreaktor Kapal Selam (BKS) di Desa Langse, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati — teknologi pengolahan limbah ternak menjadi biogas dan pupuk organik yang dikembangkan oleh Muhammad Sobri, warga setempat sekaligus Ketua MLH PWM Jawa Tengah. Tahun ini, pwmjateng.com melaporkan program serupa kembali dijalankan untuk Idul Adha 1447 H.

Satu Momentum dalam Setahun

Pemanfaatan rumen sebenarnya bukan ide baru. Penelitian soal ini sudah ada sejak lama, programnya sudah berjalan di beberapa daerah, dan caranya tidak sulit dipelajari. Yang belum merata adalah pengetahuannya, siapa yang harus melakukan apa, kapan, dan dengan bahan apa.

Idul Adha datang setahun sekali. Di hari yang sama, rumen tersedia gratis di hampir setiap sudut permukiman Indonesia. Jika informasi soal pemanfaatannya bisa sampai lebih luas ke panitia kurban, ke masjid, ke pesantren, maka setidaknya sebagian dari yang selama ini terbuang bisa berakhir di tempat yang lebih berguna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *