Warta

20 Juli 1825: Menguak Sisi Gelap Perang Diponegoro yang Luput dari Buku Sejarah

Setidaknya, ada lima fakta tragis yang jarang diungkap dari Perang Jawa yang diprakarsai Diponegoro.

Lukisan legendaris bertajuk penyerahan pangeran diponegoro kepada jenderal de kock oleh nicolaas pieneman
Lukisan legendaris bertajuk 'Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Jenderal De Kock' oleh Nicolaas Pieneman. (dok. Wikipedia)

catrawarta.comTanggal 20 Juli 1825 bukan sekadar coretan angka di kalender. Hari itu, Tegalrejo membara, menandai dimulainya Perang Jawa (Perang Diponegoro) selama lima tahun, mulai dari 20 Juli 1825 hingga tahun 1830. Selama ini, buku teks sekolah kerap menyederhanakan konflik masif ini sebagai masalah yang hanya sebatas perang melawan patok jalan.

Namun, sejarah arus utama sering kali memotong bagian-bagian krusial demi narasi yang rapi. Jika kita menggali lebih dalam catatan historis seperti yang ditulis Peter Carey, sejarawan Inggris yang mendedikasikan lebih dari 40 tahun hidupnya untuk meneliti Pangeran Diponegoro dan menulis soal biografi berjuluk Kuasa Ramalan, ada lima fakta kelam dan humanis yang jarang diajarkan di bangku sekolah.

Sebagai informasi, Diponegoro ini merupakan keturunan Sultan Yogyakarta dan merupakan putra mahkota dari Hamengkubuwono III yang hidup pada rentang tahun 1785 hingga 1855.

1. Bukan Sekadar Masalah Patok Jalan

Buku sejarah sering membingkai kemarahan Pangeran Diponegoro yang hanya dipicu oleh patok jalan Belanda yang menerjang makam leluhurnya. Faktanya, itu hanyalah puncak gunung es yang konfliknya sebenarnya telah menumpuk sejak beberapa dekade sebelum meletusnya perang.

Akar konflik sebenarnya jauh lebih sistemik yakni kekecewaan mendalam sang Pangeran terhadap kebobrokan moral di dalam Keraton Yogyakarta. Korupsi merajalela, pajak mencekik rakyat jelata, dan campur tangan kolonial telah mengikis kedaulatan serta nilai-nilai Islam di tanah Jawa. Diponegoro mengangkat senjata demi sebuah pembersihan moral dan spiritual, bukan sekadar urusan lahan.

Carey bahkan mengungkap iktikad Diponegoro ini sebagai perang suci atau jihad melawan kolonial yang merusak tatanan sosial dan kebudayaan Jawa di tanahnya sendiri.

2. Perang Saudara Sesama Bangsa

Narasi populer selalu menggambarkan ini sebagai pertempuran hitam-putih seperti pribumi yang sebatas hanya melawan Belanda. Kenyataannya jauh lebih pahit. Perang Diponegoro sejatinya adalah perang saudara yang berdarah.

Banyak bangsawan, elite keraton, bahkan kerabat dekat Diponegoro sendiri yang memilih berpihak pada Belanda. Semua ini didorong oleh konflik internal takhta dan bayaran tinggi dari VOC/Hindia Belanda, sesama orang Jawa saling bantai di medan perang.

3. Taktik Bentengstelsel yang Mematikan

Bangsa Indonesia selama ini diajarkan soal rasa bangga terhadap taktik gerilya pasukan Diponegoro yang membuat Belanda kocar-kacir. Sayangnya, buku sekolah jarang mengulas bagaimana taktik hebat ini akhirnya dipatahkan dan membuat Diponegoro lemah.

Semua ini tak lain berdasarkan otak cerdik Jenderal Hendrik Merkus de Kock yang kala itu berhasil menerapkan strategi Bentengstelsel untuk melawan pasukan Diponegoro. Dia membangun jaringan benteng di setiap wilayah yang rentan, lalu menghubungkannya dengan infrastruktur jalan. Taktik ini secara perlahan tapi pasti memperlambat ruang gerak, memutus jalur logistik, dan mengisolasi pasukan gerilya Diponegoro hingga terjepit.

4. Krisis Kemanusiaan dan Korban Jiwa Terbesar

Perang ini bukan sekadar adu strategi militer, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan yang teramat kelam. Dampak perang yang diprakarsai Diponegoro ini nyatanya justru memicu kelaparan hebat, wabah penyakit, dan kehancuran ekonomi total di tanah Jawa.

Sejarawan Peter Carey dalam penelitiannya mencatat, sekitar 200 ribu jiwa penduduk Jawa yang meregang nyawa. Tragisnya, angka ini menunjukkan jika hampir separuh populasi Yogyakarta saat itu lenyap. Di sisi lain, ribuan serdadu Eropa dan ribuan tentara keraton juga meregang nyawa. Jelas, perang Diponegoro membabat habis korupsi ini justru menjadikan konfrontasi ini sebagai konflik paling mematikan dalam sejarah di Tanah Air.

5. Kerapuhan dan Sisi Manusiawi Sang Pangeran

Selama ini, Pangeran Diponegoro digambarkan sebagai sosok pahlawan tanpa cela yang lurus, bermartabat, disegani, teladan banyak orang, dan religius. Namun, Babad Diponegoro yang ditulisnya sendiri semasa pengasingan mengungkap sisi manusiawi yang justru berbeda 180 derajat dan cenderung rapuh.

Diponegoro secara jujur menuliskan penyesalan mendalamnya karena sempat merasa lengah dan tergoda oleh seorang tawanan wanita etnis Tionghoa di tengah masa perang. Beliau percaya, kekhilafan manusiawi dan pudarnya kesucian spiritual inilah yang membuat kekuatan gaibnya melemah, hingga berujung pada kekalahan pasukannya di beberapa pertempuran.

Hingga pada 28 Maret 1830, Diponegoro diundang oleh de Kock untuk berunding. Namun, meja mediasi justru berakhir tegang.

Sang putra mahkota kemudian dimasukkan ke dalam kereta ke Batavia dan diasingkan ke Manado hingga Makassar. Sejarah mencatat, dua dekade kemudian dia dilaporkan meninggal dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *