Idea Catra

“Majelis Ilmu Itu Membangun Peradaban”

catrawarta.com — Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh distraksi, duduk sejenak di majelis ilmu sering dianggap remeh. Padahal dalam perspektif...

Majelis Ilmu Kitab Jalalain dan Riyadhus Solihin di PP Darut Tauhid Kedungsari Purworejo. Foto: Tor

catrawarta.comDi tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh distraksi, duduk sejenak di majelis ilmu sering dianggap remeh. Padahal dalam perspektif Islam, tindakan ini justru memiliki bobot spiritual dan intelektual yang sangat besar. Duduk di majelis taklim bukan sekadar aktivitas belajar. Duduk di majelis ilmu adalah jalan menuju keselamatan. Ilmu adalah fondasi utama bagi sah atau tidaknya seluruh amal manusia.

Islam menempatkan ilmu sebagai prasyarat amal. Kaidah klasik yang sangat masyhur berbunyi: al-‘ilmu qabla al-‘amal—ilmu harus mendahului amal. Prinsip ini memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

“Maka ketahuilah (ilmuilah) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19)

Ayat ini secara eksplisit mendahulukan perintah mengetahui (ilmu) sebelum beramal (istighfar). Ini menunjukkan bahwa ibadah tanpa ilmu bukan hanya lemah, tetapi berpotensi salah arah.

Ilmu sebagai Jalan Menuju Surga

Keutamaan menuntut ilmu ditegaskan dalam banyak hadits sahih. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa proses menuntut ilmu itu sendiri sudah merupakan jalan menuju surga, bukan sarana. Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa para malaikat membentangkan sayapnya sebagai bentuk keridaan kepada penuntut ilmu (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Majelis ilmu juga disebut sebagai taman-taman surga (riyadhul jannah) di dunia. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

“Jika kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah.” Para sahabat bertanya, “Apa itu taman surga?” Beliau menjawab, “Majelis-majelis ilmu.” (HR. Tirmidzi)

Di tempat itulah rahmat Allah turun, ketenangan (sakinah) meliputi, dan nama-nama para penuntut ilmu disebut di hadapan para malaikat.

Dalam tradisi ulama, terdapat ungkapan bahwa menghadiri majelis ilmu lebih utama daripada ibadah sunnah dalam jumlah besar, seperti shalat ribuan rakaat. Meskipun sebagian riwayat dengan angka-angka fantastis seperti “1000 rakaat” dinilai lemah, substansi maknanya diterima luas.

Imam Syafi’i dengan tegas menyatakan:

“Menuntut ilmu lebih utama daripada shalat sunnah.”

Logikanya sederhana namun mendalam: ibadah tanpa ilmu berisiko salah. Sementara ilmu membimbing ibadah agar benar. Satu amalan yang benar lebih bernilai daripada seribu amalan yang keliru.

Ibadah Tanpa Ilmu Itu Sesat

Ketiadaan ilmu bukanlah kondisi netral, melainkan sumber bahaya. Rasulullah SAW mengingatkan:

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)

Hadits ini menjadi dasar bahwa niat baik saja tidak cukup. Amal harus sesuai dengan tuntunan syariat. Tanpa ilmu, seseorang bisa saja merasa benar, padahal justru menyimpang.

Umar bin Abdul Aziz memberikan peringatan keras:

“Siapa yang beribadah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ia timbulkan lebih banyak daripada kebaikan yang ia hasilkan.”

Senada dengan itu, Hasan al-Bashri mengibaratkan orang yang beramal tanpa ilmu seperti berjalan dalam kegelapan—tidak tahu arah, rentan terjatuh, dan membahayakan diri sendiri.

Lebih jauh, kebodohan dalam agama juga menjadi pintu masuk bagi bid’ah dan kesesatan. Ketika seseorang tidak merujuk pada ilmu syar’i, ia cenderung mengandalkan logika pribadi atau tradisi yang belum tentu benar.

Menuntut Ilmu Wajib ‘Ain dan Bodoh itu Dosa

Menuntut ilmu agama pada aspek dasar (fardhu ‘ain) adalah kewajiban bagi setiap Muslim.

Rasulullah SAW bersabda:

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Ilmu yang dimaksud mencakup pengetahuan tentang tauhid, tata cara ibadah, serta hal-hal halal dan haram. Mengabaikan kewajiban ini bukan sekadar kelalaian, tetapi bisa menjadi dosa.

Kebodohan dalam hal-hal mendasar agama tidak bisa dijadikan alasan pembenar, terutama jika seseorang memiliki kesempatan untuk belajar. Dalam banyak kasus, kebodohan justru menjadi sumber dosa yang lebih besar. Kebodohan melahirkan kesalahan yang tidak disadari, bahkan bisa menyeret pada syirik atau pelanggaran serius lainnya.

Al-Qur’an juga memberikan peringatan tegas:

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Ayat ini melarang sikap sembrono dalam beragama tanpa dasar ilmu. Berbicara, berfatwa, atau beramal tanpa pengetahuan adalah tindakan yang berisiko besar, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Majelis ilmu bukan sekadar sarana  transfer pengetahuan. Majelis taklim adalah ruang transformasi. Ia membentuk cara berpikir, meluruskan niat, dan memperbaiki kualitas ibadah. Dalam majelis ilmu, seseorang tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga bimbingan ruhani.

Ilmu Itu Mengangkat Derajat Manusia

Keberkahan majelis ilmu bahkan meluas kepada mereka yang hadir tanpa niat sempurna. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang duduk di majelis dzikir akan mendapatkan ampunan, meskipun ia datang hanya untuk keperluan lain.

Ini menunjukkan bahwa majelis ilmu memiliki daya ubah yang luar biasa. Ilmu mengangkat derajat manusia, dari kebodohan menuju pemahaman, dari kesesatan menuju petunjuk.

Dalam kerangka Islam, ilmu bukan pelengkap ibadah, melainkan fondasinya. Tanpa ilmu, amal menjadi rapuh, bahkan tertolak. Sebaliknya, dengan ilmu, amal menjadi terarah, bernilai, dan diterima. 

Duduk di majelis ilmu mungkin tampak sederhana, tetapi di situlah sesungguhnya peradaban dibangun—dimulai dari individu yang sadar, paham, dan tunduk pada kebenaran. Maka, memilih untuk hadir di majelis ilmu sejatinya adalah memilih jalan panjang menuju surga—jalan yang mungkin sunyi, tetapi pasti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *